Damian merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tengah. Dia menyalakan televisi dan memilih program sambil memegang ponselnya yang masih berhubungan dengan istrinya yang berada di Pekalongan. “Desah, Sayang. Aku rindu desahanmu, Mala.” Mala berdesah panjang diiringi tawa manja, dan dia memanggil nama lengkap suaminya. “Luar biasa, ck … aku nggak bisa menahan ini lebih lama. Kenapa tidak besok saja kamu berangkat ke mari. Kenapa mesti lusa,” ujar Damian dengan rengek manja khasnya. “Kami harus bersiap-siap dulu, Demi. Kamu tau aku juga harus menghandle tiga anak sekaligus.” “Nevan sudah mandiri, dia bisa mengurus dirinya sendiri. Laras juga ikut, ‘kan? Dia bisa membantu.” “Laras nggak bisa ikut lusa itu, dia akan tetap berada di sini menemani Jeanny, dan menemani Jeanny berangkat ke Ja

