Bab 4

1487 Kata
Sebenarnya aku takut kalau Mas Edi marah jika dia datang menjemput, tetapi tidak menemukan aku di sana. Padahal, sudah lebih dari satu jam aku menunggunya. Setelah berpikir sejenak, akhirnya aku menerima tawaran bapaknya Ayu untuk pulang bersama. Sesampainya depan rumah, aku mengucapkan banyak terima kasih kepada Paklik Sarno atas tumpangannya. Paklik Sarno hanya terkekeh sambil berujar, “Kayak sama siapa aja lo, Rin.” Kemudian, dia memutar balik motornya setelah pamit. Aku bergegas masuk ke rumah sambil menenteng dua kantong plastik besar berwarna merah. Mita yang sedang menyetrika baju di depan TV, menoleh ke arahku. “Mana, jajannya, Mbak?” “Kayak anak kecil aja, minta jajan. Diajakin, enggak mau.” Aku melewatinya, lalu menuju dapur. “Lo, aku udah gede, to?” Suara Mita masih terdengar diiringi tawanya yang sengaja dibuat keras. “Dasar! Anak kecil.” Aku menyahut meski mungkin dia tidak mendengarnya karena suara TV yang lumayan keras. Dua kantong plastik berisi aneka bumbu dapur dan sayuran serta beberapa bungkus jajanan pasar, aku letakkan di meja dapur samping kompor, lalu bergegas ke kamar. Suara Mita yang kembali menanyakan jajan, tidak aku hiraukan. Bukannya marah, dia malah terkekeh. Mungkin merasa senang karena berhasil meledekku. “Mas Edi, mana?” Aku segera keluar kamar setelah mendapati suamiku tidak ada di sana, lalu menghampiri Mita. “Ha?” Mita melongo sembari mengangkat dagu. “Mas Edi, mana?” Aku mengeraskan suara untuk pertanyaan yang sama. “Emang, yang punya suami, siapa?” Mita malah balik bertanya tanpa melihat ke arahku. Dia sibuk melipat baju yang sudah selesai di setrika. Kemudian, dia malah kembali bertanya, “Eh, emang, tadi Mbak, pulang ama siapa?” Mita menghentikan gerakan tangannya, lalu menoleh ke arahku. “Sama Paklik Sarno!” jawabku ketus. Mita malah tertawa seakan-akan aku mengatakan hal yang lucu. “Baru sekali ini ke pasar enggak tak kawal, Eh, baru sebulan nikah, udah ditinggal di pasar.” Mita kembali tertawa geli sembari memegang perutnya. “Heh! Kamu ini! Seneng, ya, lihat mbakmu ini susah?” Mita langsung terdiam mendengar bentakanku. Sepertinya dia baru sadar kalau aku benar-benar sedang serius. Aku kembali ke dapur untuk minum, padahal rasa haus sudah dari tadi mencekik tenggorokan, tetapi sampai kulupakan karena sibuk mencari Mas Edi. Setelah menghabiskan dua gelas air, aku bergegas ke gudang yang ada di belakang rumah. Aku baru ingat untuk melihat motor Jani, barangkali sudah ada di sana. Namun, ternyata tidak ada juga. Artinya, Mas Edi memang belum pulang, lalu kemana, dia? Akhirnya, aku memilih menyusun bumbu dapur, sayuran, dan jajan pasar yang tadi kubeli supaya nanti pas Mamak pulang, semua sudah rapi. Kata Mita, Mamak sedang ke rumah Bude Jum, kakaknya. Mungkin sekalian mengunjungi Mbah Putri yang tinggal di samping kakaknya tersebut. Sampai pukul 14.00 WIB, belum terlihat tanda-tanda Mas Edi pulang. Mita berusaha menghiburku dengan mengatakan mungkin ada keperluan mendadak. Aku mengangguk, tapi batinku bertanya. Keperluan apa? Dia bahkan tidak bekerja setelah kami menikah, hanya sesekali saja ke rumah bapaknya. Apa mungkin, dia, ke rumah bapaknya? Aku baru ingat hingga pikiran itu baru muncul sekarang. Kalau benar ke rumah bapaknya, kenapa tadi dia tidak bilang kepadaku? Apa dia benar-benar marah hingga meninggalkan aku di pasar? Ah, mungkin memang ada keperluan mendadak di rumah bapaknya. Aku berusaha menenangkan diri. Baru saja aku merebahkan diri di kamar, kudengar suara motor Jani memasuki halaman. Aku segera bangun, lalu keluar dan kaget karena hampir saja menabrak seseorang di pintu antara ruang tengah dan ruang tamu. Ternyata Mas Edi yang berjalan cepat sambil menunduk, menerabas tirai tanpa menyingkapnya. “Mas.” Aku lantas mengekori dia ke kamar karena sapaanku tidak ditanggapi. Sesampainya di kamar, dia langsung berdiri di depan kaca sambil memerhatikan bagian wajahnya. Aku mendekat, lantas ikut melihat bayangannya pada cermin. Ternyata ada bintik merah menyerupai jerawat di dagunya sebelah kanan. Aku bilang kepadanya supaya jangan dipencet, takut nanti malah tambah bengkak. Apalagi dia belum cuci tangan dan baru bepergian, bisa saja tangannya kotor. “Mas Edi, dari mana? Kok, tadi aku enggak dijemput?” Hampir saja aku lupa menanyakan hal yang dari tadi kusimpan. Pertanyaan yang sebenarnya membuatku sangat kesal, tetapi tetap saja aku tidak berani menumpahkan kekesalan itu kepadanya. “Ke rumah Bapak!” jawabnya ketus. Dia lantas merebahkan diri di kasur. “Kok, enggak bilang kalo enggak bisa jemput? Kan, aku bisa naik angkot apa ojek. Enggak harus nunggu sambil kepanasan, sampe satu jam di pinggir jalan.” Aku duduk di tepi kasur. “Ah, udahlah! Aku mau tidur!” tukasnya. “Makan dulu, aku udah masakin semur ayam kesukaan Mas.” Dia tidak menjawab, malah membalikkan badan memunggungiku. Aku keluar kamar saat mendengar suara Mamak yang menanyakan keberadaanku kepada Mita. “Di kamar, Mak. Lagi--” Mita menghentikan ucapannya saat melihatku. “Itu dia, orangnya.” Gadis tanggung yang bawel itu menunjuk ke arahku menggunakan dagunya. “Edi, sudah pulang, Ran?” Mamak seperti hati-hati sekali bertanya kepadaku. Seolah-olah takut di dengar oleh orang yang ditanyakan. “Udah, Mak. Tadi, ke rumah bapaknya. Katanya ada keperluan sebentar.” Aku yakin Mita udah cerita ke Mamak. Makanya, kujawab aja sekalian. “Oh, ya, sudah. Sudah makan belum? Suruh makan dulu, kalo belum makan.” “Udah.” Aku mengangguk sembari melirik Mita yang ternyata melihat ke arahku juga meski mulutnya terus mengajak bicara Weni yang duduk di pangkuannya. Aku pamit hendak ke kamar dengan alasan ingin tidur siang. Mamak mengangguk cepat. Sementara Mita menarik sudut bibirnya ke bawah tanpa bersuara. Di kamar, kudapati Mas Edi tertidur pulas dengan posisi terlentang. Aku lantas berbaring di sampingnya. Awalnya, aku ingin tidur siang sebentar sampai waktu salat Asar tiba. Namun, aku kaget saat melihat dagu Mas Edi. Bintik merah yang tadi kecil menyerupai jerawat, sekarang tampak tiga kali lebih besar. Warnanya merah kebiru-biruan di bagian pinggirnya. Kok, bisa? Tadi masih kecil, sekarang tiba-tiba sebesar ini? Aku lantas makin mendekati dagunya yang mulai membengkak seperti habis disengat lebah itu. Sementara di bagian tengahnya ada bulatan putih dengan titik kecil berwarna kehitaman pada puncaknya. Titik itu sangat kecil, hampir tidak terlihat jika tidak diamati baik-baik. Aku bergegas mengambil salep yang biasa digunakan untuk mengobati jerawat jika tiba-tiba muncul menjelang masa haid. Salep itu kubeli di apotek yang ada di depan pasar dan menyimpannya di meja kecil samping lemari bersama sedikit kosmetik milikku. Perlahan aku kembali duduk di kasur, hendak mengoleskan salep itu ke dagunya dengan hati-hati sekali. Namun, tiba-tiba Mas Edi bergerak hingga jariku yang sudah menunjuk menyentuh dagunya. “Aduh!” Dia terbangun sembari berteriak kesakitan. Tangannya secara spontan menangkis jariku yang ada salepnya. Matanya menatap tajam ke arahku. Aku menarik tubuh dari hadapannya. “Mau ngolesin salep, malah bangun.” Aku mencoba memberinya pengertian sekaligus membela diri. Dia masih memegangi dagunya sembari menahan sakit. Aku berusaha memberitahu Mas Edi bahwa bintik yang tadi kecil, sekarang jadi tiga kali lebih besar dan membengkak. Dia lantas bangun menuju lemari untuk becermin. Kemudian, dia memintaku untuk memencet bintik yang ternyata jerawat. Awalnya, aku menolak karena takut nanti bertambah sakit dan makin membengkak. Namun, Mas Edi memaksaku untuk melakukannya dengan alasan kalau isinya sudah keluar, rasa sakit akan mereda. Akhirnya, aku melakukan apa yang Mas Edi minta. Dengan selembar kapas wajah, aku memencet jerawat itu. Memang benar, keluar cairan putih seperti nanah, tetapi hanya sedikit, mungkin karena belum matang. Jadi, yang keluar juga masih berupa nanah cair, tidak menggumpal. Mas Edi mengerang kesakitan. Aku pun menghentikan tindakanku, lalu menyarankan untuk tidak memencetnya lagi karena menurutku memang belum waktunya dipencet. Hari berikutnya, jerawat itu tidak kempis, malah semakin membesar, dagunya juga makin membengkak hingga Mas Edi sering mengeluh kesakitan. Aku berniat membawa Mas Edi ke mantri atau petugas medis di desa kami. Aku masih menyimpan uang yang diberi Mamak usai resepsi pernikahan kami. Kemarin, aku hanya memakainya sebagian untuk belanja ke pasar. Menurut Pak Mantri Rudi, bintik itu hanya semacam bisul, tidak berbahaya. Beliau memberi Mas Edi salep, anti biotik, dan obat pereda nyeri. Namun, hingga semua obat yang diminum habis, dagu Mas Edi masih sama seperti waktu pertama berobat. Hanya saja, kemarin katanya rasa nyeri memang tidak seberapa, mungkin karena dia mengonsumsi obat anti nyeri tersebut. Setelah obat pereda nyeri habis, Mas Edi kembali mengeluh sakit. Kali ini, tidak hanya pada dagunya, tetapi juga di seluruh kepala, bahkan leher dan pundak, katanya ikut kaku. Akhirnya aku memutuskan untuk membeli sendiri obat pereda rasa sakit itu ke apotek yang ada di depan pasar. Tidak terasa, sudah satu bulan lebih dagu Mas Edi bengkak, bahkan sekarang mulai menghitam. Karena merasa khawatir, aku menyuruh Mita mengabari bapaknya Mas Edi. Pagi itu juga Mita berangkat menemui bapak mertuaku. Siang harinya, Mita pulang membawa bungkusan kantong plastik berwarna hitam. Dia langsung memberikan bungkusan tersebut kepadaku sambil menatap dengan tatapan yang tidak kumengerti. Aku segera membuka bungkusan yang kata Mita, obat untuk Mas Edi dari bapaknya. Bungkusan yang beratnya hampir 1 kg itu segera kubawa ke kamar. Aku sudah tidak sabar untuk memberikannya kepada Mas Edi. Namun, alangkah terkejutnya aku saat bungkusan itu terbuka. Ternyata isinya beberapa kepal tanah dan irisan balok.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN