002. Race Day

1266 Kata
Langit Melbourne sore itu biru muda, awan tipis mengambang. Tapi di paddock Scuderia Ferrati, suasana jauh dari tenang. Mesin berderu, kru berlarian, semua sibuk. Hari balapan. Semua orang tahu, ini bukan cuma soal waktu di lintasan — ini soal reputasi. Dua mobil merah sudah siap di grid. Satu untuk George Marin, pembalap senior yang konsisten tapi jarang jadi sorotan. Satu lagi untuk Khai Chalain — rookie, 20 tahun, langsung masuk tim besar. Banyak yang nunggu: apakah dia beneran cepat, atau cuma proyek tim buat ganti Bellini? Khai berdiri di samping mobilnya, helm masih dipegang. Sirkuit Albert Park bergetar pelan oleh suara mesin yang sedang dipanaskan. Bau bensin, karet, dan udara panas bercampur di udara. Bella berdiri di depannya, tablet di tangan, earphone di telinga. Rambutnya dikepang rapi, ekspresinya tenang seperti biasa. “Khai,” katanya tanpa basa-basi. “Ban medium, start map tiga. Jangan terlalu agresif di lap awal, oke?” “Copy that,” jawab Khai, sambil memutar bahu. “Aku harus jaga ban, kan? I know the drill.” Bella menatapnya sebentar, satu alisnya terangkat. “Yakin?” “Of course. Rookie bukan berarti bodoh.” “Nggak bilang kamu bodoh. Aku cuma bilang—kadang yang terlalu pengen nunjukin diri malah lupa garis batas.” Khai menyeringai di balik helm yang baru ia pasang. “Aku tahu. Tapi kalau nggak ada yang berani nyoba, siapa yang bakal inget nama Chalain?” Bella mendengus kecil, lalu menepuk bahu pembalapnya pelan. “Yaudah, jangan bikin aku lembur malam ini.” “No promises.” Mereka saling pandang sebentar. Di belakang, teknisi sudah angkat papan “3 minutes to start”. Suara fans menggema dari tribun. Bella mundur ke pit wall, bicara lewat radio beberapa detik kemudian: “Alright, Khai. Remember—long race. Keep your head cool.” “Copy. Let’s go get them.” Lima lampu merah menyala. Hening sejenak. Padam. Start bersih. Khai langsung ambil sisi dalam di tikungan pertama, selip dua mobil sekaligus. Dari P12 ke P10. Lap demi lap berjalan ketat. Ia sempat duel keras sama Sean Sanatos dari Blue Bull—rekan setim Bellini, pembalap yang suka main mental game di lintasan. Lap 45 dari 58. Khai posisi delapan, pace-nya stabil. Ban medium-nya masih kuat. Tapi Sean mulai menekan dari belakang, terus nempel di DRS zone. Bella memantau data dari pit wall. “Khai, Sanatos behind within DRS. Don’t defend too early.” “He’s pushing too hard.” “Stay calm. You got this.” Tapi Sean nekat. Di tikungan sebelas, ia coba ambil luar—ruangnya sempit. Terlalu sempit. Ban depan Sean menyentuh diffuser belakang mobil Khai. Seketika keduanya melintir ke gravel. Debu, kerikil, dan suara logam gesek memenuhi udara. “Contact! Contact with Blue Bull!” Bella berteriak lewat radio. “He hit me! He hit me!” teriak Khai dari dalam helm. “Engine off, Khai. Are you okay?” “Yeah, I’m fine. Damn it!” Khai keluar dari mobil, helm masih terpasang. Ia berdiri di gravel, napas berat, menatap mobilnya yang hancur. Sean juga keluar, melambaikan tangan ke marshal seolah santai aja. Khai sempat maju dua langkah, hampir mendekat, tapi marshal langsung menahan. Ia berhenti. Menatap Sean dengan pandangan tajam. Kamera menangkap semuanya. Beberapa jam kemudian, di pit lane. Balapan sudah selesai, tapi suasananya masih panas. Khai jalan cepat masuk ke garage, langsung melempar glove ke meja. Bella nyusul di belakangnya. “Khai, tenang dulu.” “Gimana aku tenang? Dia yang nabrak, terus bilang itu ‘racing incident’?!” “Media udah nunggu di luar. Jangan bikin makin parah.” “Aku nggak peduli media!” George Marin melirik dari ujung garage. “You better start caring, rookie,” katanya datar. Khai mendengus, tapi Bella langsung menyela, “Cukup, dua-duanya.” Terlambat. PR tim udah datang, bilang kalau media mau komentar dari Khai. Dan tentu, Sean Sanatos juga ada di sana. Di depan backdrop logo sponsor, kamera berkedip-kedip. Sean bicara duluan, dengan senyum tipis khasnya. “Sayang banget. I think it was just a racing incident. Maybe he didn’t see me.” Khai langsung ketawa pendek. Mikrofon diarahkan ke dia. “Didn’t see you? Bro, you came from outside line in a corner yang bahkan cuma muat satu mobil!” “Ada ruang,” jawab Sean, masih sok santai. “Ada ruang buat mikir, bukan buat mobil.” “Kamu harus kasih aku ruang,” Sean balas lagi. “Dan kamu harusnya cek spion dulu sebelum bikin dua-duanya keluar balapan.” Bella, dari belakang, udah menutup wajah pakai tangan. “Do you think it’s just racing?” tanya wartawan. Khai menjawab, “If crashing into someone counts as racing, then sure—he’s world champion already.” Ruangan langsung ramai. Flash kamera berkilat-kilat. Sean melirik sinis. Bella langsung narik Khai pelan keluar sebelum dia ngomong hal yang lebih parah. “Nice job giving them headlines,” kata Bella lirih begitu mereka udah keluar dari area media. “At least I told the truth.” “Kadang kebenaran itu lebih mahal dari trofi, Khai.” Malamnya, paddock mulai kosong. Ferrati Hospitality Lounge udah sepi—beberapa meja masih berantakan, sisa piring dan gelas kopi di sudut. Dari jendela kaca besar, pit lane kelihatan mulai gelap. Khai duduk sendirian di kursi dekat jendela, ia melamun, mainin gelang karet tim di pergelangan tangannya. Bella datang bawa dua gelas kopi kertas. “Masih panas,” katanya sambil nyodorin satu. “Thanks.” Mereka duduk bersebelahan, tapi nggak langsung ngomong. Di luar, suara kipas dan alat berat dari garasi masih samar-samar kedengeran. “Aku tadi… kebawa emosi,” ucap Khai akhirnya, tanpa lihat Bella. “Kamu ya emang begitu,” jawab Bella pelan, matanya masih ke arah luar. “Aku cuma pengin nunjukin kalau aku pantas di sini, Bel. Orang-orang bilang aku cuma pengganti Bellini.” “Dan kamu bakal buktiin itu lewat hasil, bukan lewat omongan di konferensi pers.” Khai nyengir kecil. “I know.” “Kalau kamu terus kayak gini, kamu yang rugi sendiri. Dunia paddock cepet banget muter, Khai. Satu kesalahan bisa nempel lama.” Khai nengok ke dia. “Kamu ngomong kayak udah sepuluh tahun di sini.” “Lima,” jawab Bella, akhirnya menatap balik. “Tapi cukup buat lihat banyak pembalap bagus gagal gara-gara mulutnya sendiri.” Khai ketawa pendek, tapi nadanya lelah. “Kamu keras banget.” Bella nyengir dikit. “Aku realistis.” “Realistis tapi peduli.” Bella menatapnya lama sebelum akhirnya bilang, “Aku peduli karena itu tugas aku. Kamu pembalapku. Kalau kamu jatuh, aku juga yang kena semprot.” Keduanya ketawa kecil. Suasana mulai cair. “Tapi serius,” Bella lanjut, “aku tahu kamu punya bakat. Cuma butuh waktu.” “Aku nggak sabaran.” “Belajar, Chalain. Di paddock ini yang lebih cepat dari mobil cuma gosip.” Khai tertawa pelan. “Noted.” Bella berdiri, ngambil laptop dari meja. “Istirahat. Besok kita terbang pagi.” “Kamu?” “Masih kirim laporan setup ke Maranello. Jadi ya, lembur lagi.” “Kamu kerja keras banget.” “Baru sadar?” “Baru sadar kalau kamu keren banget pas kerja.” “Jangan mulai, Chalain.” “Aku serius.” Bella ngelirik sebentar, tapi senyum tipisnya keburu ketahuan. “Pergi sana sebelum kopiku mendarat di kepala kamu.” Khai ngakak kecil, berdiri, dan jalan keluar. Udara malam Melbourne dingin, tapi entah kenapa terasa ringan. Lampu-lampu paddock satu per satu padam di kejauhan. Dan untuk pertama kalinya, Khai sadar—yang bikin dunia F1 berat bukan cuma kecepatannya, tapi juga orang-orang yang bikin dia tetap di lintasan. Salah satunya, Isabella Gianna Adami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN