Bagian 30 (Kesempatan Kedua?)

1920 Kata
. . Sedikit saja sudah cukup. Cukup untuk membuatku nekat berusaha merebutnya. . . *** Yoga buru-buru ke kamarnya setelah selesai sarapan. Dia membuka laptop dan menyambungkannya ke koneksi wifi. Setelah lama tak membuka medsos, dia mencari kembali akun Erika. Matanya dipejamkan beberapa detik. Detak jantungnya semakin cepat. Dia takut. Takut akan apa yang akan dilihatnya. Setelah menarik napas panjang dan mengembuskannya, Yoga membuka matanya. Foto pernikahan adalah foto terakhir yang di-upload Erika. Berusaha mengabaikan rasa pedih di hatinya, Yoga mengamati baik-baik wajah suami Erika. Melihat warna kulit dan karakter wajahnya, Yoga menebak lelaki ini orang Sunda. Matanya tidak terlalu sipit, tapi kemungkinan ada garis keturunan Cina. Wajahnya terlihat sangat ramah. Sungguh beda dengan Yoga yang selalu tak bisa menyembunyikan murung dan keangkuhan di wajahnya. Farhan Akhtar. Ini laki-laki yang kamu pilih, Erika? batinnya. Kelihatannya Erika bukan tipe perempuan yang hobi posting atau update status. Sudah lima tahun berlalu sejak pernikahannya, dan dia belum update apapun lagi? Yoga mencari-cari foto anak kecil di dalam folder Erika, tapi tak ditemukannya. Apa dia belum punya anak? Yoga menyandarkan punggungnya ke bantalan kursi dan menghela napas. Memejam. Menghirup aroma mawar putih dari taman yang tertiup masuk ke dalam kamarnya. Apa masih ada kesempatan kedua untukku? Pikiran itu terlintas begitu saja. Itu adalah pikiran yang tak punya muatan tanggung jawab sama sekali. Yoga sendiri tidak yakin dengan yang dipikirkannya. Yang dia tahu, dia sudah gagal dengan wanita-wanita itu. Wanita selain Erika. Matanya terbuka. Dia mengambil ponsel di kantung celana dan menghubungi seseorang. "Halo. Johan?" Pria bernama Johan menyapanya dan mereka berbasa-basi sebentar, sebelum Yoga masuk pada pembicaraan inti. "Ya. Aku perlu bantuanmu lagi. Ada yang perlu kamu selidiki. Suami istri. Istrinya bernama Erika Destriana Putri dan suaminya Farhan Akhtar. Aku akan kirim data yang kupunya. Tolong selidiki semuanya. Latar belakang keluarga suaminya, di mana mereka bekerja, alamat rumah, kondisi keuangan mereka, nomor kontak mereka. Semuanya! Semua yang bisa kamu temukan." Tak lama Yoga menyudahi percakapan telepon dan mengirim beberapa data ke Johan. Yoga berdiri dari kursi dan berjalan ke pintu taman. Menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu sembari menatap kucuran air mancur. Aku perlu tahu kondisinya sebelum memutuskan. Pertama, aku perlu memastikan, apa Erika masih punya perasaan denganku? Sedikit saja. Sedikit saja sudah cukup. Cukup untuk membuatku nekat berusaha merebutnya. *** Seminggu kemudian, di akhir pekan Yoga sedang duduk di kamarnya. Laptop dibuka di meja dengan layar menampilkan foto profil Erika di medsos. Ponsel digenggam kuat di tangannya. Sebuah nomer telepon muncul di layar. Erika - Nomor Baru 081********* Ternyata Erika sudah lama mengganti nomornya. Jadi Yoga sudah menghapus nomor lama Erika di ponselnya. Jarinya bergerak menepuk-nepuk cangkang ponsel. Gelisah. Nah. Sekarang apa? Bagaimana caranya aku bisa tahu apa dia masih punya perasaan padaku atau tidak? Satu-satunya cara, aku harus bicara dengannya, 'kan? Tapi kalau aku tiba-tiba meneleponnya, ini aneh sekali! Setelah sepuluh tahun aku tidak pernah berusaha sekali pun untuk menghubunginya. Dan lagi, dia sudah punya suami sekarang! Yoga mengacak rambutnya gusar. Dia sudah menerima informasi dari informan terpercaya, Johan. Erika bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan di Jakarta Selatan, sementara Farhan adalah seorang desainer grafis yang saat ini sedang menjalin kerjasama dengan sebuah galeri pameran di Jakarta Utara. Ayah Farhan sebenarnya adalah seorang pengusaha produsen kertas di Bogor. Tapi Farhan menolak menjadi penerus bisnis ayahnya, dan malah memutuskan kuliah desain grafis di Bandung. Farhan punya seorang adik laki-laki. Dan kemungkinan adiknyalah yang akan meneruskan usaha ayahnya. Satu informasi lainnya, mengukuhkan kecurigaan Yoga saat menelusuri akun Erika. Mereka berdua belum punya anak. Karena Farhan 'membangkang' dari ayahnya, dia nampaknya gengsi menerima tawaran pemberian rumah dari ayahnya. Farhan memutuskan membeli rumah di daerah Jakarta Selatan, yang harganya relatif lebih tinggi, mungkin demi Erika. Agar Erika dekat dari kantornya. Farhan dan Erika sama-sama bekerja di perusahaan yang 'lumayan' dengan penghasilan yang sebenarnya tidak sedikit. Tapi mereka berdua harus mencicil : rumah mahal - sebuah mobil Kia Picanto baru milik Erika - dan sebuah mobil Toyota Camry bekas milik Farhan. Nilai semua cicilan itu cukup besar, untuk ukuran total penghasilan mereka berdua. Dia membelikan mobil baru untuk Erika dan rela memakai mobil bekas untuk dirinya sendiri. Yoga berpikir, sepertinya Farhan sangat mencintai Erika. Ada satu pengeluaran besar lainnya dalam keluarga mereka, yaitu biaya berobat untuk usaha kehamilan Erika. Jumlahnya tidak tetap tiap bulannya. Tapi umumnya kisaran satu hingga dua jutaan per bulan, dan di beberapa bulan tertentu, bisa lebih dari itu. Tapi mereka belum pernah mencoba program bayi tabung. Mungkin karena biayanya yang besar. Yoga menyentuhkan ujung ponselnya ke bibir. Dari informasi yang didapatnya, sebenarnya Yoga merasa 'melihat' celah. Dia mungkin bisa 'masuk' di antara mereka berdua. Mungkin. Yoga kembali fokus dengan nomor telepon Erika. Satu informasi penting lainnya : hari Sabtu biasanya Farhan pergi ke galeri minimal setengah hari, dan baru tiba di rumah sore harinya. Jadi, sekarang Erika kemungkinan sendirian di rumahnya. Aku tidak bisa lepaskan kesempatan ini. Masa bodoh! Aku akan meneleponnya sekarang! Jari Yoga menekan tombol di bawah tengah layar, dan dia menempelkan ponsel ke telinganya. Jantungnya berdebar kencang sambil mendengarkan nada tunggu. Tuut ... tuut ... tuut ... ckrek! "Halo?" Suara Erika membuat kelopak mata Yoga melebar dan tubuhnya mematung. Sudah sepuluh tahun sejak dia terakhir mendengar suaranya! Sepuluh tahun! "Halo? Siapa ini??" Bibir Yoga bergerak, tapi tak ada satu kata pun yang keluar. Yang keluar justru air matanya. Erika ... aku rindu sekali. Erika ... "Halo? Salah sambung, kali," tebak Erika sebelum menutup sambungan telepon. Tangan Yoga terasa lemas. Dia meletakkan ponsel di meja dan mengusap air matanya. Enggak bisa! Aku gak bisa bicara padanya lewat telepon! Aku harus bertemu langsung dengannya! Tapi gimana caranya? batin Yoga galau. Pintu kamar Yoga diketuk, sebelum terdengar salam, "assalamualaikum." Yoga menoleh ke arah pintu. Dia jelas mengenali suara Gito Nggak salah tuh? 'Assalamualaikum?' pikir Yoga heran. Walaupun Gito jauh lebih religius dibanding dia, tetap saja Gito tak pernah mengucapkan salam itu padanya. Pada orang lain mungkin. Mata Yoga melotot. Dia baru ingat harus membereskan 'kekacauan' di hadapannya. Yoga segera menutup jendela profil Erika di laptopnya. Dia tidak mau Gito sampai tahu soal ini. Soal 'kegilaan' ini. "W-wa alaikum salam!" sahut Yoga merasa miris menyadari salam Islami itu sangat langka diucapnya. "Yoga, ini aku, Gito. Aku boleh masuk?" Yoga tertawa. "Iya aku tau itu kamu, To. Pakai tanya segala, lagi. Ya boleh lah. Masuk, To!" Pintu terbuka dan Gito muncul dengan senyum bahagia. "Hai Yoga! Lagi sibuk apa kamu?" "Oh ... aku lagi nggak sibuk, kok. Cuma lagi browsing aja. He he," jawab Yoga cengengesan. Gito duduk di kursi di depan Yoga. Tangan Gito sepertinya membawa sesuatu seperti amplop. Yoga tersenyum. "Kok tumben assalamualaikum segala?" Gito cengengesan. "He he. Iya, dong. 'Kan kita sesama muslim, jadi salam terbaik untuk sesama muslim ya 'assalamualaikum'. Begitu kata ceramah ustaz yang belakangan sering kudengar." "Wah. Ustaz Gito ternyata belajar sama ustaz lain juga?" seloroh Yog. Komentar itu disambut tawa Gito. "Yah. Aku pertamanya diajakin temen kantor sih. Setelah jam pulang kantor dengerin ceramah di masjid deket kantor. Kamu mau ikut kapan-kapan, Yoga?" Yoga mengerutkan dahi dan terlihat ragu. "Mm --" "Gak apa-apa kalo gak mau, kok. Aku cuma ngajakin aja," kata Gito menepuk bahu Yoga. "Nanti kalo berubah pikiran, anytime kabarin aku ya. Ntar kita ketemuan di sana," imbuh Gito nyengir, membuat Yoga merasa nyaman. Gito mengeluarkan amplop putih yang sedari tadi dibawanya. Dia meletakkan amplop berenda itu di atas meja. "Nah. Ini dia. Kamu orang pertama yang dapet undangan ini. A ha hayy!!" ucap Gito antusias. Yoga menerima amplop itu dengan ekspresi penasaran. Amplop cantik itu bertuliskan 'UNDANGAN' di tampak mukanya. "Hah? Apa ini?" tanya Yoga. "Buka, dong isinya," pancing Gito sumringah. Yoga mengeluarkan isi amplop itu, dan seketika matanya melotot. "GITO!! KAMU -- MAU NIKAH???" Mata Gito menyipit. "Ck! Ya MAU dong. Masa' gak mau?" Yoga mencondongkan tubuhnya ke arah Gito. "TO!! KAMU GILA, YA?? Sebulan lagi mau akad nikah dan kamu baru cerita sama aku sekarang??" seru Yoga syok. Gito tertawa puas melihat reaksi Yoga. "Tenang, tenang. Soalnya prosesi lamarannya memang barusan selesai kemarin. Kemarin aku baru resmi ke rumah Mona bareng keluargaku. Rencananya nikahnya di ruang serbaguna yang gak begitu luas. Selain untuk penghematan, aku malas ngantri sampai enam bulan sampai setahunan cuma untuk sewa gedung yang besar," jelas Gito. Mulut Yoga masih ternganga. Dia kehabisan kata-kata. "Oh --," gumam Yoga berdiri menghampiri Gito. Sebagai sahabat baik, bagai memahami bahasa tubuh Yoga, Gito refleks ikut berdiri dari kursinya. Mereka berangkulan. Yoga merasa seperti akan menangis. "Gito, selamat. Kamu sampai juga ke titik ini. Aku ikut senang, To," ucap Yoga tulus. Gito tersenyum dan menepuk punggung Yoga. "Makasih, Yoga. Aku do'akan, semoga kamu juga akan sampai di titik ini nanti." Yoga melepas pelukannya. Matanya tak berani membalas tatapan Gito. Kalau sampai Gito tahu niat buruknya ingin merebut Erika dari suaminya, bisa dipastikan dia akan marah besar. "Iya. Mm ... kamu mau kado apa, To? Aku akan belikan APA SAJA yang kamu mau!" tanya Yoga dengan tampang serius. "Yee ... ni anak. Kado kok request? kado mah harusnya rahasia, dong. Gimana sih? Ha ha! Bercanda. Gak usah repot-repot kasih kado. Kamu cukup datang aja, aku udah senang," jawab Gito. Yoga tersenyum, lalu air mukanya berubah agak sedih. "Berarti setelah nikah kamu pasti akan sibuk ya, To. Aku ngerti kok, kalo kamu nantinya gak sempat main ke rumahku lagi," kata Yoga lesu. Pukulan keras Gito ke lengan Yoga, membuat Yoga meringis kesakitan. "Ya enggaklaah, Yoga! Aku tetep bakal main ke sini setidaknya seminggu sekali! Kamu bakal tetap bosan liat mukaku yang standar abis ini!! Ha ha ha!" tukas Gito tertawa. "Iya, tapi santai aja dong mukulnya," ujar Yoga mengelus lengannya sendiri. Gito tertawa puas. "Nah, kalo gitu, aku pamit dulu ya. Aku mau ke rumah saudaraku ngurus t***k bengek buat acara. Maaf aku gak bisa lama-lama ya Yoga," kata Gito siap pamit. "Oke. Kamu perlu kuantar ke rumah saudaramu?" tanya Yoga menawarkan bantuan. Gito berdiri dari kursi, dan Yoga menyusul. "Enggak, kok. Aku bawa mobil bapakku. Aku sendiri aja ke sana. Pamit, ya. Assalamualaikum!" Yoga kembali kaget mendengar salam itu lagi. Dia belum terbiasa. "Wa alaikum salam," sahut Yoga mengantar sahabatnya hingga pintu kamar. "Hati-hati di jalan, To. Makasih ya undangannya. Aku pasti datang," ucap Yoga yakin. Ucapan Yoga membuat Gito berhenti berjalan dan berbalik. "Jangan bilang 'pasti datang', Yoga. Bilang insyaallah datang," kata Gito nyengir saat mengingatkan. Yoga melotot. "Dih. Aku 'kan emang pasti bakal datang. Kamu gitu, yang nikah," protes Yoga. "Lha tapi 'kan kita gak tau. Kalo belum sampai sebulan trus kamu mati, gimana coba??" jelas Gito tanpa saringan kata. Yoga refleks menendang pinggang Gito dengan kakinya. "KAMU NYUMPAHIN AKU??" serunya kesal. "Ayo bilang insyaallah, Yoga. Harus dilatih nih kayaknya," kata Gito tertawa. "Emangnya aku lumba-lumba pake dilatih segala! Iya deh iya, Ustad Gito. Insyaallah aku datang ke nikahanmu. Udah, tuh. PUAS??" Gito mengacungkan dua jempol ke sahabatnya. "Cakeepp. Nah gitu, dong. Udah ya cabut dulu," kata Gito melambaikan tangan. Yoga membalas lambaian tangannya. Belum jauh berjalan, Gito membalik tubuhnya. "EH!! Aku lupa kasih tau kamu!" seru Gito saat teringat sesuatu. "Apa?" tanya Yoga. "Dua bulan lagi bakal ada Reuni Akbar SMA kita." Mata Yoga terbuka lebar. "Reuni?" "Iya. Ntar ada kok undangannya di grup. Ntar insyaallah kita berangkat bareng, oke?" ajak Gito senang. Yoga diam sesaat sebelum menjawab, "oh ... oke." Setelah Gito pergi, Yoga masuk ke kamar dan menutup pintu. Matanya berbinar-binar. Dua bulan lagi REUNI. Ini dia!! Kenapa timing-nya bisa pas begini? Kebetulan? Yoga teringat sesuatu yang sering dikatakan Ibunya dulu. Tidak ada yang namanya 'kebetulan'. Senyumnya terangkat. Tidak sabar rasanya. Menunggu dua bulan tak ada artinya buatku. Karena aku sudah menunggu sepuluh tahun. . . ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN