.
.
Dia sudah memberiku jutaan rasa.
Aku tidak mau berpisah dengannya.
.
.
***
Sabtu pagi ...
Suara pintu kamarku terdengar diketuk.
"Erika," panggil Ibuku.
Aku bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu kamar.
"Ibu pake ketok pintu segala. Masuk aja kenapa, Bu?" kataku.
Ibuku tersenyum.
"Kamu 'kan udah besar, punya privasi sendiri. Gak apa-apa dong, kalo Ibu ketok pintu dulu," jawab Ibuku.
Aku membalas senyum Ibu. Ibu mengelus kepalaku.
"Kamu kok belum sarapan?" tanya Ibuku.
"Iya. Nanti aku turun, Bu. Ibu sama Bapak sarapan duluan aja ya," ujarku.
"Ibu sama Bapak udah sarapan. Matamu kenapa? Kok agak bengkak?" tanya Ibu dengan tatapan menyelidik.
Aku menyentuh ujung mataku.
"Gak apa-apa, Bu. Paling digigit serangga," jawabku cengengesan di akhir kalimat
Ibu tersenyum lembut dan kembali mengelus kepalaku.
"Erika, kamu jangan lupa kalau Ibu ini temanmu juga. Jadi, kalau kamu ada masalah, kamu bisa cerita sama Ibu, ya? Jangan dipendam sendiri. Ntar ubanan, lho," seloroh Ibuku.
"Ih Ibu nih," sahutku sambil mencubit pelan lengan Ibu.
"Kamu lagi sibuk ngerjain PR?" tanya Ibuku.
"Enggak kok," jawabku.
"Kamu sarapan aja yuk. Habis itu bantuin Ibu masak, ya?" ajak Ibu.
Aku patuh mengiyakan.
***
Suara pisau yang memotong wortel, beradu dengan talenan kayu. Terdengar merdu di telingaku. Menjadi semacam terapi yang unik untuk jiwaku yang sedang gundah. Seharusnya aku membantu Ibu di dapur lebih sering. Ketimbang aku meratapi kesedihan dan kekesalanku.
Ibu sejak tadi diam saja. Padahal Ibu pasti tahu aku habis menangis semalaman. Mataku bengkak seperti habis diantup tawon. GARA-GARA SI GILA ITU!
Yang kulakukan semalaman suntuk cuma menangis menumpahkan semua kekesalanku. Aku lebih ke arah kesal ketimbang sedih, sebenarnya. Aku kesal, tak habis pikir bagaimana Yoga bisa tega menyakiti hati tukang parkir itu dengan kata-kata yang sangat menyinggung perasaan. Tapi di saat bersamaan, aku juga kesal dengan diriku sendiri, karena merasa sudah gagal mencegah itu terjadi.
Aku heran juga sebenarnya. Entah sejak kapan, aku merasa punya kewajiban untuk menjaga mood Yoga dengan baik. Mungkin karena, aku sangat menyukai Yoga di saat mood-nya sedang cerah. Aku suka saat dia bercerita dengan penuh semangat. Aku suka saat dia menggodaku dan bercanda denganku. Aku suka saat dia cemburu atau agak posesif padaku. Aku suka bagaimana dia sangat memperhatikanku saat kami bersama. Aku suka setiap hal manis yang dia lakukan untukku. Aku suka hampir semua hal pada dirinya. Kecuali SATU HAL ITU! Kenapa? Kenapa?? Aku menghela napas.
"Ibu," panggilku pelan.
Ibuku baru saja selesai mencuci sayuran. Dia menoleh. "Ya?" sahut Ibuku.
"Mm ... kalau ada teman kita yang, misalnya agak sulit untuk bersikap lembut pada orang susah, apa yang harus kita lakukan pada teman kita itu, Bu?" tanyaku.
Ibuku tertegun. Dia pasti tahu kalau ini ada hubungannya dengan mataku yang bengkak.
Mata Ibu melirik ke atas, berpikir sebentar. "Tergantung. Kamu masih mau temenan sama dia, atau enggak," jawab ibuku, terdengar seperti jawaban mengambang.
"Ha?" sahutku bingung.
"Iya. Kalau kamu memutuskan gak mau berteman dengan dia, kamu gak perlu melakukan apa-apa. Tapi kalau kamu masih mau berteman dengan dia, kamu harus bicara sama dia. Kasih tau dia kalau dia salah. Kasih tau dia kenapa dia sebaiknya berkasih sayang dengan orang susah, dengan orang yang kehidupannya lebih sulit."
"Oh," gumamku, lalu terdiam.
"Jadi ... gimana? Kamu masih mau sama dia?" tanya Ibuku dengan senyum menggoda.
"Eh?" Kata 'masih mau sama dia' membuatku malu, dan Ibu tertawa. Heran. Aku gak sebut nama dan sebagainya, tapi tetap ketahuan. Sebegitu jelasnya kah?
"Makasih, Bu," kataku merangkul Ibu dari belakang.
Ibu membalas dengan nada bersenandung riang, "sama-sama, kembali kasih."
Kami kembali melanjutkan memasak. Lalu saat sedang menunggu rebusan matang, Ibu mendadak bicara padaku, "ada satu cara yang biasanya bisa melunakkan hati."
"Apa itu, Bu?" tanyaku penasaran.
"Pelihara hewan," jawab ibuku.
Aku tercenung. Opsi itu tidak pernah terlintas dalam pikiranku. Mungkin karena, aku tahu bagaimana sikap Yoga terhadap hewan. Terhadap manusia saja, dia -- apalagi ...
Ibu tersenyum.
"Nah. Berusahalah. Allah menyukai orang yang berusaha. Niatkanlah usahamu karena mengharap rida Allah."
Aku membalas senyumnya. Aku akan mengusahakan yang terbaik yang aku bisa. Aku tidak mau menyerah.
***
Bagaimanapun, aku merasa segan bertemu Yoga hari ini. Jadi aku menghindarinya dengan masuk ke kelas lebih pagi. Aku bermaksud menaruh tasku di kelas, lalu kabur ke taman atau kantin, sambil menunggu bel masuk kelas.
Tapi rupanya Yoga sudah mendahuluiku. Dia duduk di meja paling depan. Terlihat senang melihatku datang. Tak ada siapa pun di kelas kecuali kami berdua.
"Erika," panggilnya, menatapku dengan sorot mata sayu. Padahal baru tiga hari, tapi rasanya sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Aku merasa badannya kurusan. Apa dia makan dengan teratur?
"Erika, aku mau bicara," ucap Yoga terdengar memohon, alih-alih memerintah.
Aku menghela napas.
"Bicara aja. Di sini gak apa-apa. Belum ada yang datang," kataku duduk di samping Yoga.
"Aku ... aku tau kamu kesal sama aku, Erika," kata Yoga memulai percakapan.
Aku menjawab ketus, "ya baguslah kalau kamu tau."
"Erika, aku kadang memang sulit mengatur emosiku, tapi aku gak bermaksud membuatmu merasa gak nyaman," kilah Yoga beralasan.
"Dari pada kamu khawatir membuatku merasa gak nyaman, sebaiknya kamu khawatir nyakitin perasaan mereka, orang-orang yang kamu bentak dengan kasar," kataku tanpa rasa segan.
Yoga diam sejenak. Dia sepertinya tidak menyangka aku akan mengeluarkan komentar selugas itu.
"A-aku --," ucap Yoga membuang muka. Matanya menatap meja guru di pojok depan kelas. Yoga menarik napas, seolah dia akan mengatakan sesuatu yang berat.
"Aku terbiasa bersikap seperti itu sama mereka. Agak susah buatku untuk --," kata Yoga terputus di ujung kalimat.
Aku mencengkram lengannya dan melihatnya langsung ke matanya. "Kamu harus berusaha, Yoga!" pekikku tertahan.
"Kamu harus berpikir, gimana kalau seandainya kita ada di posisi mereka? Itu bisa aja terjadi, 'kan? Mereka gak pernah milih untuk jadi orang yang kehidupannya lebih sulit dari kita. Gak ada yang bisa memilih!" kataku tegas.
Alis Yoga berkerut.
"Iya ... tapi, kenyataannya kita bukan mereka, Erika. Kita berbeda level dengan mereka," ucap Yoga.
Aku terkejut mendengarnya. Dari mana dia mendapatkan ide itu? Otakku berpikir cepat. Dari siapa lagi? Siapa yang selalu dia sebut selama ini? Dia selalu bilang 'ayahku begini, ayahku begitu'. Oh ya ampun ...
"Yoga, kita semua diciptakan sama. Di sisi Tuhan, yang membedakan itu cuma keimanan. Dan orang-orang yang susah itu ada, untuk jadi ujian buat kita. Untuk menguji kepedulian kita. Kalau kita berkasih sayang pada mereka, Tuhan akan mengasihi kita juga," ujarku.
Aku berusaha keras untuk tidak terdengar terlalu menggurui. Berhubung aku sendiri dari segi ibadah seringnya pas-pasan. Ibuku adalah seorang muslimah yang berhijab. Dia sudah berusaha mengingatkanku untuk memakai hijab, tapi beginilah kondisiku sekarang, belum juga menutup auratku dengan benar. Salatku pun hanya mengejar yang wajib. Malu rasanya bicara begini pada Yoga, tapi aku merasa harus tetap menyampaikannya.
Yoga menundukkan pandangan. Terdengar berat, tapi akhirnya dia menjawab, "aku akan berusaha."
Tiga kata itu membuatku merasa sangat lega dan bahagia. Aku tersenyum gembira, berusaha keras untuk tidak memeluknya. Melihat reaksiku, dia tahu kalau aku sudah tidak kesal padanya. Setidaknya untuk saat ini.
Yoga melirik sebentar ke pintu kelas, seolah memastikan tidak ada orang. Dia menoleh lagi padaku.
"Sayang, aku ... kangen," kata Yoga dengan sorot mata lembut.
Mukaku terasa panas mendengar dia mengucapkan itu. Aku tidak perlu menjawabnya, 'kan? Sudah jelas aku juga rindu padanya. Mungkin karena kami selalu bersama setiap hari, rasanya aneh tiga hari belakangan kulalui tanpa komunikasi sama sekali dengannya.
Kupikir aku sebaiknya tidak menjawabnya, tapi aku merasa tidak sanggup menahannya.
"Aku juga ... kangen," kataku. Aku tidak percaya aku benar-benar mengatakannya. Rasanya seperti bukan diriku sendiri. Yoga punya kemampuan itu. Dia bisa membuatku menjadi orang lain. Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Yoga tersenyum bahagia. Dia menggenggam tanganku dan wajahnya mendekat. Debaran jantungku semakin cepat. Kening kami bersentuhan, dan aku bisa merasakan rambut panjangnya yang halus di pipiku. Aku panik sekaligus bahagia. Apa ini akan jadi ciuman pertama dalam hidupku? Hidung kami bersentuhan dan bibir kami sangat dekat. Tiba-tiba Yoga diam tak bergerak. Kami mendengar suara dua orang laki-laki yang mengobrol sambil tertawa di koridor, tak jauh dari kelas. Kami segera membuat jarak dan merasa salah tingkah.
Dengan berat hati, Yoga melepas tanganku. "Nanti makan bareng ya, sayang. Aku ke kelasku dulu," ucap Yoga melambaikan tangan, terlihat sangat bahagia karena kami sudah berbaikan.
"Iya," jawabku membalas lambaian tangannya dengan wajah masih merona.
Yoga sudah keluar dari kelasku. Aku masih duduk di meja, menunggu debaran jantungku reda. Aku menyentuh bibirku, lalu menutup wajahku. Ah ya ampun, Yoga.
Dia sudah memberiku jutaan rasa. Aku tidak mau berpisah dengannya. Tidak mau. Aku sangat berharap, semoga dia bisa merubah sikap buruknya yang satu itu. Aku mohon, satu itu saja, Yoga. Satu saja.
***
Suasana kantin ramai seperti biasanya. Tapi secara ajaib Yoga bisa mendapatkan spot favorit semua orang, di meja dibawah deretan pohon.
Tadinya kupikir kami akan makan berdua saja, tapi ternyata ...
Yoga memperlihatkan muka ditekuknya ke arah Gito.
"Ah kamu nih emang 'nyamuk', To. Gak bisa liat orang berduaan!" misuh Yoga.
Aku menyikut tangan Yoga.
"Jangan gitu, Yoga! Santai aja, Gito. Duduk aja. Di situ kosong kok," kataku tersenyum pada Gito.
"Bener nih boleh, ya? Asik. Aku gak akan sungkan, lho," kata Gito mengabaikan kekesalan Yoga dan duduk di depan kami.
Kami makan bertiga. Yoga cuma cemberut sebentar saja. Tak lama, dia sudah bercanda dengan Gito.
Setelah makan, Yoga pergi ke kantin, katanya mau membeli yoghurt untukku. Aku ditinggal berdua saja dengan Gito.
Gito menoleh ke belakang, memastikan Yoga sudah pergi.
"Erika, kalian sudah baikan? Syukurlah. Aku senang lihat kalian hari ini sudah akur," kata Gito.
"Kamu tau?" tanyaku, menebak Gito sudah dengar tentang keributan antara aku dan Yoga tiga hari lalu.
"Yah ... dia cerita segala macam padaku. Iyalah aku tau," kata Gito mengangkat alis.
"Erika, aku gak akan tanya kenapa kamu marah padanya waktu di restoran itu. Aku bisa ngerti. Sebenarnya sudah lama aku ngingetin Yoga tentang emosinya yang meledak-ledak itu. Kubilang, kalau dia gak juga berusaha menghilangkan kebiasaan itu, bisa jadi bumerang untuk dirinya sendiri. Tapi masalahnya, itu sama sekali gak mudah. Kebiasaan itu seperti ... kanker akut yang sudah mengakar bertahun-tahun," bisik Gito.
Aku mengangguk. "Iya aku ngerti, Gito. Kamu 'kan sudah kenal dia lebih lama, tapi aku belum ada setahun dengannya. Jadi aku agak kaget. Sulit buatku untuk menerima itu. Kamu ngerti, 'kan?" kataku.
"Iya aku ngerti, kok. Erika, aku sengaja makan bareng kalian, supaya aku bisa kasih tau kamu info PENTING!" ucap Gito dengan penekanan pada kata PENTING.
Aku hampir tertawa melihat ekspresi Gito yang seperti agen detektif yang sedang dalam suatu misi.
"Info penting apa, ya?" tanyaku.
"Bentar lagi tanggal 5 Mei Yoga ulang tahun!" bisik Gito dengan wajah serius.
Aku terperanjat. Baru sadar kalau selama ini tidak pernah sekalipun mencari tahu kapan ulang tahun Yoga.
"Biar kutebak. Kamu gak pernah cari tahu 'kan, kapan ulang tahunnya Yoga?" tembak Gito langsung.
"Kok tahu?" tanyaku memicingkan mata.
Gito mencibir.
"Aku merasa kamu tipe perempuan yang cuek. Aku gak pernah sekalipun salah dalam menilai orang. Tuh 'kan aku bener!" kata Gito tertawa melihatku cemberut.
Aku menggumam.
"Aku bingung, Tuan Muda kayak Yoga mau dikasih apa, ya? Kalau dikasih barang, dia 'kan udah punya segala macam," ucapku melengos.
"Yah ... kalo itu mah, kamu pikir sendiri, dong. Masa' idenya dari aku," kata Gito meneguk minumannya.
Mataku mengerling ke atas. Berpikir, lalu tiba-tiba memukul meja.
"AHA!! Sepertinya aku tau mau kasih kado apa! Makasih untuk informasi pentingnya, Gito!" ucapku gembira.
Gito ternyata sedang sibuk mengelap bibirnya, karena rupanya dia memuncratkan sedikit minumannya saat aku memukul meja barusan.
"Erika, please deh. Gak perlu pukul meja juga, 'kan?" kata Gito.
"Maaf maaf," ujarku nyengir. Aku melihat Yoga datang dari kejauhan.
"Oh, dia datang," ucapku. Kami langsung pasang wajah serius.
Yoga duduk di sampingku. Dia memberikan aku yoghurt kesukaanku.
"Ini, sayang," kata Yoga memberikan yoghurt padaku.
"Makasih. Kamu harusnya gak perlu beliin aku yoghurt tiap hari. Aku jadi gak enak," ucapku.
"Lho? Kok jadi gak enak? Yoghurtnya kan rasanya enak. Lagian, buat kamu apa sih yang enggak, sayang," kata Yoga menggombal.
Aku menyikut tangan Yoga dengan muka malu.
"Yoga! Nggak usah gitu ngomongnya! Ini di depan Gito, lho!" kataku menahan malu.
"Ah, Gito biarin aja, sayang. Anggap aja gak ada," kata Yoga santai.
Gito melihat Yoga dengan tatapan datar. Dia berdiri bersiap pergi.
"Aku cabut dulu ya," kata Gito.
"Lho?? Gito kok pergi?" ucapku merasa tak enak padanya.
"Gak apa-apa. Aku udah selesai makan kok. Lagian, misiku sudah selesai di sini. Daah Erika!" ujar Gito mengedipkan mata padaku.
Yoga merangkul pundakku. "HEHHH!!! NGAPAIN KAMU NGEDIPIN MATA KE PACARKU, HAH?? CARI MATI, YA??"
Gito tertawa, terlihat sangat menikmati ekspresi ngamuk Yoga.
.
.
***