Bagian 27 (Catatan Yoga)

1284 Kata
. . Aku tetap berpikir bahwa, dia hanyalah salah satu 'mainan'ku. Tidak lebih. Rupanya aku salah. Ternyata akulah yang menjadi 'mainan'nya. . . *** Setelah pelarian yang tak bermanfaat ke pulau pribadi, aku kembali ke Jakarta. Aku segera tahu bahwa aku memerlukan sesuatu untuk menambal hatiku yang kosong. Aku sering menerima ajakan ke tempat hiburan malam dari kolega bisnisku. Kadang dari teman SMA-ku. Tapi biasanya aku selalu menolak. Dan suatu malam aku menerima ajakan mereka. Wanita-wanita liar itu mendekatiku tanpa aku harus melakukan usaha apapun. Aku mulai mengencani mereka satu per satu bergantian. Jika aku bosan, aku mencampakkan mereka dan jalan dengan yang lainnya. Gito terlihat khawatir padaku dan suatu hari dia menasehatiku. Dia takut aku akan mendapat pengaruh buruk dari wanita-wanita itu. Tapi aku berusaha meyakinkannya kalau itu tak akan terjadi. Bahwa aku tahu di mana 'batas'nya. Dan aku tak akan 'kebablasan'. Aku begitu yakin saat mengatakan itu. Hingga aku bertemu seorang wanita bernama Christy. *** Christy adalah seorang peragawati yang lumayan terkenal di Jakarta. Dia sering terlibat peragaan busana perancang-perancang ternama. Dan sering bolak-balik diundang event peragaan busana di Paris. Awalnya aku tidak pernah berniat untuk pacaran dengan 'artis'. Aku bertemu dengannya di suatu pesta mewah sosialita, yang semestinya dihadiri oleh ayahku. Aku tak pernah suka datang ke pesta-pesta semacam itu. Tapi ayahku berhalangan hadir, dan memaksaku datang mewakilinya. Rekan bisnis ayahku mengenalkanku pada Christy. Kesan pertamaku terhadapnya, dia sangat cantik dan anggun. Rambutnya hitam pekat. Berponi lurus, dan panjang rambutnya hingga sedada. Usianya lebih tua dariku dua tahun dan tubuhnya lebih tinggi sedikit dariku. Melihat wajahnya, aku rasa dia ada campuran Kazakhstan atau semacamnya. Karena kulit putihnya terlihat beda. Bukan putih Indonesia, dan juga bukan Cina. Matanya tidak terlalu besar, dan juga tidak sipit. Tatapannya tajam. Gerak-geriknya anggun, tapi aku bisa bilang dia bukan tipe wanita lemah yang perlu dilindungi. Malah sebaliknya, dia terlihat sangat mandiri dan bisa diandalkan. Tipe wanita yang tidak perlu pria sebagai pendamping. Aku jarang bertemu yang seperti dia. Secara fisik, aku tertarik padanya. Dan yang membuatku makin tertarik adalah, dia bukan tipe wanita rendahan yang mengejar-ngejar lelaki. Setelah kami mengobrol agak lama di balkon ruangan pesta, aku merasa dia sebenarnya menyukaiku. Tapi aku heran dia tidak juga bertindak, tidak memberi sinyal yang jelas bahwa dia menginginkanku. Sampai pesta usai, dia sama sekali tidak menanyakan nomor ponselku. Keesokan harinya, aku mengatur orang suruhanku untuk mencari tahu nomor ponselnya, dan akhirnya aku menghubungi wanita itu, Christy. Aku mengajaknya makan malam bersama, dan dia tidak menolak. Setelah beberapa kali keluar bersama, akhirnya kami pacaran. Tapi aku tetap berpikir bahwa, dia hanyalah salah satu 'mainan'ku. Tidak lebih. Rupanya aku salah. Ternyata akulah yang menjadi 'mainan'nya. *** Sayang, sesi fotonya udah selesai nih. Pesan itu kuterima dari Christy. Aku tersenyum dan menjawabnya. Oke. Kujemput skrg ya. Nanti kalo udh dkt lobi, kukabarin. Tak lama sebuah pesan balasan kuterima. Okay. See u, honey. Kurang dari setengah jam kemudian, aku menjemput Christy di lobi studionya dan kami pergi ke sebuah club tempat dia biasa minum wine. Christy sangat menyukai rasa wine di sana yang menurutnya paling enak di antara semua minuman anggur yang pernah dicobanya. Christy mengangkat gelas itu dengan cara yang anggun. Matanya melirik menggoda ke arahku. "Kamu yakin gak mau coba, sayang? Ini enak banget, lho," ucapnya dengan suara seksi. Aku menggeleng. "Enggak, ah. Aku gak minum alkohol," jawabku. Di depanku hanya ada segelas jus jeruk. Christy tertawa ringan. "Hh ... ya udah kalau gak mau," ujarnya pasrah. Dia meneguk minumannya sedikit dan meletakkannya di meja. "Kamu unik juga ya, sayang. Baru kali ini aku pacaran sama orang kayak kamu," kata Christy. "Unik gimana?" tanyaku. "Ya ... kamu orang kaya. Biasanya, kalau orang kaya ada di tempat seperti ini, itu artinya dia mau 'senang-senang', 'kan? Kamu juga sepertinya enggak religius, tapi setiap ke club, kamu gak pernah mau 'minum'. Lantas, aku jadi penasaran. Untuk apa kamu di sini sebenarnya, Yoga sayangku?" tanya Christy dengan tatapan menggoda. "Aku di sini karena kamu katanya tergila-gila sama wine-nya. Aku cuma pengin bikin kamu senang aja," jawabku. Jemari Christy merogoh tas mungilnya dan mengeluarkan sebatang rokok. Dengan gerakan cepat, dia menyalakan rokok itu dan menghisap rokok dengan cara yang s*****l, membuat darahku terasa bergejolak sedikit. Christy menghembuskan asap rokok perlahan, dia tak mau asap itu sampai mengenaiku. "Kamu bahkan gak merokok. Hmm ... kamu unik. Sepertinya kamu pacarku yang paling ajaib," ucap Christy tertawa pelan. Christy meletakkan rokoknya di asbak di meja. Tubuhnya bergeser mendekat padaku. Tangannya melingkari pinggangku, dan kepalanya bersandar di dadaku. Aku agak terkejut saat dia mengangkat kakinya hingga kulit mulusnya nampak jelas. Aku menahan napas. Kurasa dia pasti bisa mendengar suara debaran jantungku. "Kamu bilang apa tadi sayang? Kamu mau bikin aku senang? Kamu tahu, ada banyak cara untuk bikin aku senang," ujar Christy dengan suara seksinya, membuatku menelan ludah. Christy terus menempel padaku sampai kami akhirnya keluar dari club sekitar setengah jam kemudian. Mulai dari pintu keluar, dia menggamit lenganku hingga tak ada jarak di antara kami. Saat mendekati parkiran mobil, detak jantungku semakin cepat. Christy melepas pegangan tangannya dan bersandar di pintu mobil. Dia menyibak rambut, melipat kakinya hingga belahan gaunnya tersingkap. "Sayang, kita 'main' dulu yuk sebentar," ajak Christy dengan lirikan nakal. Ajakan itu segera kurespon positif. Aku membuka pintu belakang, dan sejurus kemudian, tubuh Christy ada di bawahku. Aku tidak mengerti bagaimana Christy bisa menciumku hingga aku merasa tubuhku bagai terbang di udara. Dia sangat berpengalaman, kurasa. Entah sudah dengan berapa laki-laki dia melakukannya. Hanya hitungan menit, dan mataku terbelalak saat menyadari kalau aku melangkah sedikit lagi, aku akan keluar dari 'batas' itu. 'Batas' yang pernah kubahas dengan Gito. Tidak!! Aku tidak boleh meneruskan ini! Aku segera merubah posisiku. Mencoba menenangkan tubuhku yang sedang bereaksi akibat apa yang kulakukan barusan padanya. Jemari Christy menyentuh pipiku. "Kenapa sayangku? Kok berhenti?" tanya Christy dengan tatapan lebih ke menggodaku ketimbang kecewa. "Gak apa-apa. Aku antar kamu ke apartemenmu, ya. Sudah malam," kataku. Christy mengangkat alisnya sambil merapikan rambut. "Okay, honey," sahut Christy. Kurang dari sejam, mobilku sudah parkir di apartemen Christy. Aku ikut turun mengantarnya naik lift, hingga di depan pintu kamarnya. Koridor itu sangat sepi, tak ada satupun orang yang melintas. Christy bersandar di pintu. Dia tersenyum. "Kamu yakin masih gak mau mampir ke dalam?" tanya Christy menelisik sorot mataku. Aku berusaha tersenyum tenang. "Enggak. Kamu masuk aja. Besok-besok kabarin aja ya pas bisa ketemuan," jawabku. Dengan gerakan anggun, jemarinya menarik dasiku hingga kami berdekatan. Dia memagut bibirku lagi, kali ini lebih lembut. "Yoga, kalau kamu mampir ke dalam, kita bisa ... lanjutin yang tadi," bisiknya. Terus terang, laki-laki 'normal' mana yang akan menolak ajakan itu? Terutama jika yang bicara adalah seorang wanita seperti Christy. Tapi aku masih berusaha menahan diriku. Dan masih berpegang teguh pada keyakinanku, bahwa batas itu tak boleh aku langgar. "Masuklah, Christy. Sudah malam. Aku harus pulang. Besok aku harus ke kantor pagi-pagi," ujarku beralasan. Alis matanya naik lagi, tak ada kemarahan yang terlihat. Dia tetap tersenyum menggoda, bercampur dengan kelicikan. Seolah dia sedang mengulur tali, dan nantinya dia akan menggulung tali itu lagi. "Okay. Thanks honey. Bye," ucap Christy sebelum masuk ke kamar apartemennya. Aku berjalan di koridor ke arah lift. Mencoba membetulkan dasiku sambil menghela napas. Bersama Christy, sepertinya adalah yang paling 'berat'. Sejujurnya di titik itu, aku mulai tidak yakin apa aku bisa menahannya. Menahan diriku sendiri. Masalahnya bukan terletak pada fisiknya yang seksi. Sebelum dengan Christy, aku sudah berpacaran dengan beberapa wanita yang secara fisik seksi. Tapi Christy berbeda. Campuran antara karakter dan sensualitasnya, membuatku beberapa kali nyaris melanggar janjiku pada diriku sendiri. Tidak. Aku tidak akan melakukan 'itu' dengannya. Dan tidak dengan yang lainnya juga. Aku terdiam di dalam lift. Mengusap wajahku. Teringat pertanyaan Gito padaku. Mau sampai kapan kamu seperti ini? . . ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN