Keesokan harinya, mereka sudah bersiap menuju lokasi pembangunan. Evan dan Risa tiba lebih dulu. Mereka berdiri di tengah lapangan yang luas, tanah kosong terbentang, panas matahari begitu terik. “Panas…” ucap Risa dengan nada merengek, tangannya mengipas-ngipas wajah. Evan meliriknya sekilas, lalu berkata dengan nada ketus tapi terdengar manja, “Sabar.” Risa mendelik, lalu cemberut. “Maaf, Pak, kebiasaan,” gumamnya dengan wajah masam. Tak lama kemudian, Pak Bagas datang. Evan segera maju, tubuhnya berdiri tegap, seolah sengaja menghalangi pandangan pria itu terhadap Risa. Mereka berjabat tangan. Pak Bagas mencoba mencari-cari Risa, hendak bersalaman juga, tapi Evan cepat-cepat berkata sambil tersenyum, “Sekretaris saya sedang pilek, Pak. Nggak bisa salaman, nanti takutnya nular.

