″Troll!″ teriak Alice. ″Lawanku seekor troll?″
Tuan J tidak memberikan komentar apa pun, dia hanya memberi isyarat pada Alice agar segera mengalahkan lawannya.
Beberapa siswa tampak terkejut hingga tak mampu berucap, tubuh mereka mematung menyaksikan sosok gempal yang tengah menatap kosong Alice. Jika Jeanne tidak dipegangi oleh kedua siswi yang ada di dekatnya, mungkin dia akan langsung berlari ke arah Alice.
″Kenapa kau heboh sekali,″ sindir Rosalina. ″Itu hanya troll.″
Tidak terima nasib temannya disepelekan, Jeanne langsung berteriak ke arah Rosalina hingga membuatnya terlonjak ke belakang. ″Hanya katamu? Lawanmu itu cuma utukku rendahan. Itu troll, tidak bisakah kau lihat ukuran mahluk itu? Jika memang sanggup, gantikan Alice dan kalahkan troll tersebut!″
Tuan J bertepuk tangan agar Jeanne dan Rosalina menyudahi pertengkaran mereka. ″Sudahlah, troll itu hanya ilusi. Tidak akan menyerang peserta selain Alice, lagi pula mahluk itu tidak akan melukai siapa pun. Jadi, Alice segera kalahkan troll itu dan biarkan peserta berikutnya melakukan uji—″
Ucapan Tuan J terpotong oleh sebuah hantaman gada. Gada melesat dan membentur sisi kanan Tuan J. Kurang beberapa senti, gada itu mungkin akan meremukkan sebagian tubuh Tuan J. Nyatanya troll tersebut menyerang orang yang bukan peserta uji ketangkasan.
″TROLL!″
Jeritan yang berasal dari salah seorang siswa sudah cukup untuk menciptakan sebuah kepanikan besar. Para siswa dan siswi berlari ke segala penjuru untuk menyelamatkan diri. Rosalina segera diseret menjauh oleh anggota gengnya, dan Jeanne meronta-ronta dalam cengkeraman siswi yang berusaha menjauhkan Jeanne dari tempat ujian.
Tuan J selaku penanggung jawab uji ketangkasan berusaha menyerang troll menggunakan magyk pengekang. Sulur-sulur tali yang terbentuk dari aura Tuan J yang berpendar biru mulai mengular ke sekitar area leher sang troll. Nihil. Tak satu pun magyk yang dilontarkan Tuan J mempan. Tali aura tersebut langsung mendesis ketika menyentuh kulit troll, dan kemudian lenyap. Beberapa petugas keamanan berusaha menolong Tuan J dengan melemparkan magyk api, namun bola-bola api yang tercipta dari aura itu pun meletup—lenyap menjadi kehampaan.
″Hei, Troll bau! Lihat ke belakang!″ seru Alice dengan nada mengejek, ″Lawanmu itu aku, bukan mereka! Berani-beraninya kau mengabaikanku. Dasar tidak sopan!″
Semua orang terdiam, sementara si troll memandang kosong sosok Alice yang berdiri di depannya. Cairan hijau tampak menggantung di salah satu lubang hidung si troll. Hampir-hampir tidak bisa dipercaya ada gadis sebodoh Alice. Dari kejauhan Jeanne berteriak meminta Alice untuk segera melarikan diri, tapi yang dilakukan oleh Alice malah sebaliknya.
″Muka babi!″ teriak Alice sambil mengacungkan kepalan tangannya ke udara. ″Tahu tidak kalau kakimu itu bau sekali!″
Setelah berkata demikian Alice menari-nari bagaikan bebek kesurupan, beberapa kali dia menirukan gerakan lamban si troll dan terus saja mengejek. Alhasil dari perbuatan Alice adalah wajah terpana para penonton yang bingung antara harus memuji keberanian Alice atau mengejek tingkah konyol Alice. Ekspresi penonton tidaklah penting, di sini yang perlu Alice khawatirkan adalah mulai munculnya bercak-bercak merah di kedua pipi troll. Bibir si troll gemetar dan giginya mulai bergemelutuk, kemudian si troll menggeram jengkel dan mulai berjalan tersaruk ke arah Alice.
Tanpa perlu dikomando, Alice langsung berbalik dan berlari dengan tenaga penuh. Troll itu mengejar Alice dengan langkah tersaruk-saruk, entahlah apa yang menyebabkan sang troll kesulitan dalam melangkah. Mungkin karena gada yang dibawanya terlalu besar, atau mungkin juga karena kedua kakinya terlalu mungil untuk ukuran tubuh bagian atas.
Di sepanjang jalan yang digunakan Alice sebagai jalur pelarian dipenuhi dengan suara teriakan membahana yang meminta Alice untuk mempercepat laju. Sepintas Alice melihat ke sisi beranda, Amanda Rose terlihat panik meminta para petugas untuk segera menyelamatkan muridnya. Tak jauh dari kepala akademi, Alice melihat sosok Robin yang berdiri terpaku.
Alice tidak tahu harus bereaksi seperti apa melihat orang yang paling tidak ingin dijumpainya ada di akademi, yang jelas otak Alice memerintahkan seluruh anggota badannya untuk melaju.
Bola api dan batu terus dilontarkan oleh para petugas, namun selalu saja benda-benda tersebut lenyap tak berbekas, seolah ada tabir pelindung di sekitar troll. Petugas perempuan berkulit gelap mulai melemparkan tali tambang di sekitar leher, lengan, dan kedua kaki troll. Setelah tali-temali tambang tersebut saling terpaut, dengan gesit si perempuan mengikat tali ke dua pohon besar. Masih saja si troll meronta dan berusaha menarik tali-temali yang menghentikan langkahnya. Kedua pohon perkasa itu mulai bergetar, dari bawahnya akar-akar yang berbentuk seperti saraf tercabut keluar.
Kuncian gagal, si troll melempar tali tambang yang sempat mengungkungnya dan mulai mengangkat gada membentur tanah. Duumm! Tanah bergetar, para petugas kewalahan mempertahankan diri. Mata hitam si troll terus mencari-cari sosok gadis berambut pirang yang tadi mengejeknya. Cuping hidung sang troll kembang kempis, cairan hijau mulai mengalir turun dari lubang hidung.
″Yuhu!″ teriak Alice sambil melambaikan tangan. ″Aku di sini!″
Setelah melonjak riang bagaikan kelinci putih, Alice kembali berlari ketika troll itu mengejar Alice dengan langkah tersaruk yang menyedihkan sambil berteriak parau. Kedua mata Alice terus mencari-cari tempat yang bisa dia gunakan sebagai tempat berlindung. Sambil terus berlari Alice mulai meraba-raba sakunya dan mengeluarkan sebuah batu berwarna cokelat tanah.
Di belakang Alice, si troll meraung jengkel.
″Aduh, apa kau tidak lelah mengejarku?″ ucap Alice jengkel. ″Ternyata menjadi populer itu melelahkan.″
Alice terus berlari menuju bagian taman yang biasa digunakan oleh para siswa dan siswi untuk beistirahat. Tepat di sana—Alice menemukan sesuatu yang dibutuhkannya. Alice berlari dan tanpa ragu masuk ke dalam kolam oval berdiameter dua puluh meter, rok hitamnya terlihat mengembang terkena genangan air. Dia terus berenang menjauh sementara di belakangnya si troll ikut memasukkan kakinya ke dalam air. Itik-itik yang merasa terancam segera terbang menjauh meninggalkan kolam hunian. Kweek, kweek, kwee—bruuk. Salah seekor itik yang panik menubruk wajah Alice yang berusaha mendorong seluruh otot tangan dan kaki untuk mengayuh lebih cepat ke seberang. Si itik tenggelam dan beberapa bulu menempel di wajah Alice.
Setelah Alice berhasil sampai ke seberang, dilemparkannya batu yang sedari tadi digenggam. Blup, batu mungil itu tenggelam tepat ketika posisi si troll berada di pertengahan kolam.
Tidak terjadi apa-apa.
Lalu, dalam hati Alice pun menghitung.
Satu
jarak antara troll dan dirinya hanya tinggal beberapa meter.
Dua
troll mulai mendekati Alice.
Tiga troll mulai mengarahkan tangan gemuknya ke arah Alice.
Empat terdengar suara gemuruh.
Lima Alice memberikan cengiran lebar.
Air kolam semakin menggelap dan mulai berbuih. Pusaran-pusaran mungil mulai terbentuk di sekitar tubuh troll. Troll yang gagah itu berusaha menggapai Alice, namun tangannya sama sekali tidak bisa menyentuh Alice. Struktur air bening yang ada di kolam berubah bentuk menjadi lumpur padat berwarna cokelat gelap. Lautan lumpur tersebut mulai menarik paksa si troll ke dalam kubangan lumpur. Si troll menolak dan berjuang keluar dari dalam neraka lumpur. Usahanya sia-sia belaka, seluruh tubuh troll terhisap dan hanya meninggalkan ruang sunyi.
Terdengar bunyi letupan dari dalam kolam, sebuah bola berwarna merah keluar dan terjatuh tepat di samping Alice yang tersungkur melihat troll itu tidak berhasil meremuknya.