Mark berdiri kaku di dekat jendela bar hotel itu. Kota asing di luar sana berkilau oleh lampu malam, tapi pikirannya gelap dan penuh desakan. Ponsel di tangannya masih terasa panas, seolah sisa suara Diana belum benar-benar pergi. Tangannya yang menggenggam gelas whiskey mengencang sampai buku-buku jarinya memutih. Cairan cokelat di dalam gelas bergoyang pelan, hampir tumpah. “Menjodohkan…,” gumamnya pelan, seperti tidak percaya. Suara Diana masih terngiang jelas di kepalanya. “Mark, Arka dan Kakak sudah sepakat. Anak rekan bisnis itu orang baik. Kamu juga kenal dia. Kami mau kamu bantu membujuk Giana. Dia lebih dengar kamu.” Mark mendengus kecil, pahit. “Bantu membujuk?” katanya pada bayangannya sendiri. “Mereka benar-benar tidak tahu apa yang mereka minta.” Ia mengangkat gelas ke

