Musik DJ kembali menggema lebih keras, lampu strobo menari liar di langit-langit. Adrian baru saja menuangkan segelas minuman dingin untuk Bianca, menyorongkannya dengan senyum halus. “Untukmu, Bianca,” katanya. Bianca menerima gelas itu tanpa banyak basa-basi, ujung bibirnya melengkung tipis. “Hm… terima kasih,” ucapnya sambil menyesap perlahan. Champagne dingin itu meninggalkan rasa segar di lidahnya, namun bukan minuman yang membuatnya bersemangat—melainkan permainan yang sedang berlangsung. Saat Adrian hendak melanjutkan percakapannya, Daniel berdiri dengan percaya diri. Ia mengulurkan tangannya ke arah Bianca, senyumnya pun tampak menggoda. “Mau ikut berjoget denganku?” tanyanya, suara rendahnya nyaris tertelan dentuman bass. Bianca menoleh ke arahnya, menimbang sejenak. Tatapanny

