PATAH HATINYA JANGKAR

2344 Kata
Sudah dua hari ini setelah kejadian meyayat hati Jangkar, ia hanya diam merenung persis orang tanpa arah hidup, ini adalah kali keduanya Jangkar jatuh hati lagi dengan seorang wanita yang menurutnya pas dihatinya, namun semuanya berbalikmenghempaskan harapannya. Setiap malam Jangkar hanya diam di dalam kamarnya sembari di temani oleh gitar kesayangannya. Ia masih belum menerima takdir bila Rhea sudah menikah, mana laki-lakinya lebih ganteng darinya. Sebenarnya dia juga terlihat tampan hanya saja ia enggan merawat dirinya, makanya beberapa kali ia punya gebetan selalu hilang di tengah jalan entah yang jalan dengan temannya atau lebih parahnya ia di kibuli oleh sang wanitanya bilangnya single akhirnya taken. Jangkar melamun di kursi depan rumahnya dengan pandangan kosong, tadi tepatnya siang tadi saat ia hendak berangkat ke kampusnya ia melihat Rhea sedang bergeleyut manja di langan suaminya, ia hanya bisa menyembunyikan raut wajahnya dengan masker wajahnya dan menarik helmnya dan segera melaju kencang karena tak mau hatinya luka untuk kedua kalinya. Dari pagar rumahnya, teman Jangkar melihatnya dengan tatapan aneh, Ical nama tepatnya turun dari sepeda motornya dan menghampiri temannya yang sedang asik bengong asik seperti sapi mlopong. "Woy, k*****t bengong mulu, di w******p kagak bales tahunya kaya orang gila, stres." Teriak Ical dengan kencang tapi yang diajak ngomong masih dengan mata kosongnya "Eh bocah, anak pak Abdul Mohammad. Gue gampar juga lo, bikin kaget aja pada." Teriak Jangkar kesal Dengan perasaan kesal Ical melayangkan tangan besarnya tepat ke kepala Jangkar. Sebuah jitakan kasar mendarat mulus di kepala Jangkar, dan syukurnya jitakan Ical manjur hingga sang empunya kepala menoleh garang kearah sobatnya yang hanya cengar-cengir tanpa dosa itu. "Apaan lo main jitak kepala gue aja, ngga tahu apa lo tiap tahun ni kepala di beri doa sama emak gue." Kesal Jangkar "Eh babik, gue dari tadi manggilin elo nyet. Elo udah kaya sapi kurang nutrisi." "Gue ngga denger lu panggil gue, kambing!" Sergah Jangkar "Kuping lo kan budeg nyet, mana pakai melamun mana ada titisan k*****t kaya lu suka melamun begini?" Tanya Dahlan teman Jangkar yang lain "Gue manusia nyet, elo yang titisan kambing." "Sak karepmu. Anake titisan setan kan ngono, Ora gelem ngalah" Dengus Jangkar sambil mengambil posisi duduknya (Terserah kamu. Anaknya titisan setan kan begitu, ngga mau kalah) "Eh kambinggg!!" "Berisik lo. Kenapa sih lo udah dua hari ini ngga ikut tanding basket lagi" Tanya Ical "Lagi patah hati gue, Cal" Jujur Jangkar "Gegayaan amat lo pake patah hati, biasanya patah tulang juga, ngga patut nyet lo gitu." Ejek Bimo—cowok berambut kriting "Ini beda mamen, rasanya sejuk kalo lagi deket dia, gue suka sama dia nyet. Tapi dia udah punya suami." Jelas Jangkar dengan raut pedih "Eh elo yang gila, udah punya suami masih lo incer aja, kaya kagak ada cewek lain aja lo, sadar babik." Jerit Ical dengan semangat "Mana gue tahu kalo udah punya suami." "Siapa cewek itu sih nye?t" "Dia mbak Rhe, Cal" "Yang tetangga baru itu?" "Iya." "Yang rumahnya sebelahan sama gue itu?" "Iya anaknya pak suritan takdir" "Yang lagi hamil itu?" "Iya kamprettt" "Masyaallah Kar, inget ngga boleh jadi pebikor woy!" "Ah elahh ngga usah pake teriak monkey." "Kaya ngga ada cewek lain aja kar, udah deh katimbang lo galau galau t*i kambing, ikut gue kita tanding sama anak kompleks sebelah." "Kuylah gue,nyet." Setuju Bimo dan Dahlan Setelah bercerita antara empat lelaki tadi beranjak pergi, kini Jangkar sudah bersiap untuk main basket lagi. Ia sudah sedikit lega sudah meluruhkan perasaan kecewanya pada sahabatnya sedang kecilnya itu, sekarang ia yakin bahwa ia bisa moveon dari mbak sayang itu, setelah menali tali sepatunya Jangkar bangun dari posisi duduknya dan segera nangkring di motor sportnya. Kali ini Jangkar ingin menuntaskan semua yang mendera di hatinya, ia ingin menyalurkan emosinya, ia hanya ingin membuktikan hatinya bahwa ia bisa melupakan mbak Rheanya. Jangkar turun dari motornya di ikuti Ical dan teamnya sudah menunggunya sembari sedang bercanda pada team anak-anak komplek sebelah. Kini mereka mulai melakukan pemanasan sebelum memulai tanding basketnya. Rekor yang di dapat team Jangkar sudah mencapai empat - Nol, ia menjampsut dengan gerakan yang semangat dan membara, ia emosinya bisa tersalurkan disini dan Jangkar merasa sudah lebih baik, mulai hari ini, dengan kucuran keringatnya ia memutuskan untuk melupakan Rhea. Segitunya ya patah hati? ○○○ Pagi ini Rhea ingin berjalan-jalan menghirup udara sore yang udaranya memang sedang sejuk sejak sedari siang tadi, jogja beberapa hari di guyur hujan terus hingga hari ini cuaca hanya menampakkan udara sejuknya saja, ia hanya ingin sekedar untuk mengistirahatkan pikirannya dari Shaka, beberapa hari ini Shaka selalu memenuhi pikirannya, ia rindu Shaka, amat sangat. Rhea berjalan ke arah gerbang depan itu, ia ingin melihat pertandingan basket sore ini mengingat ini adalah hari sabtu, seperti sudah terjadwal setiap hari kamis dan sabtu akan ada pertandingan basket di lapangan basket ujung komplek. Saat ingin melangkah keluar suara panggilan berat memanggil nama Rhea, reflek Rhea menenggok ke arah sumber suara, Lando, ya cowok yang rada agak kurang sepersen otaknya itu yang memanggil Rhea. For your information, sejak kedatangannya ke jogja bersama Arjuna dan Naya sahabatnya, oh ya jangan lupakan juga Naya berpacaran juga dengan sahabat dari Shaka, lengkap sudah bukan penderitan Rhea. kemanapun Lando selalu menemani Rhea bila keluar, ada rasa risih memang saat laki-laki itu selalu mengintili Rhea kemanapun saat ia pergi kecuali Rhea saat pergi kerja. Kadang rasa tak enak bergelenyut di hati Rhea mengingat Lando adalah pacar dari sahabatnya Rhea, tapi Rissa yang sebagai pacar Lando tak ada kata risi, pernah ia bilang. "Bawa aja Rhe, ngga mungkin lo bisa suka sama k*****t ini, lo kan udah falling in love with mamas Shaka, udah bawa aja. Toh buat meyakinkan si Jangkar juga kalo lo udah taken, Rhe." Dengan berat hati Rhea mengikuti rencana konyol sahabat-sahabatnya. Walau ia harus menyakiti anak orang. Dari tempatnya ia berdiri Rhea bisa melihat Jangkar yang sedang bersemangat melempar bola basketnya agar bisa masuk ke dalam ringnya, di sampingnya laki-laki yang sedang asik cerewet itu Rhea biarkan. "Hebat juga tuh bocah." Celoteh Lando tiba-tiba "Iya di jago basket, Ndo." Kata Rhea yang hanya di angguki oleh Lando "Rhe, lo nggak pengen ketemu sama Shaka, dia udah kaya mayat hidup sekarang" Bujuk Lando Malah, kayanya bakal jadi mumi berjalan. "Nggak sekarang Ndo, gue harus nyiapin semuanya biar siap. Meski gue sama anak gue pengen ketemu Shaka." "Jangan lo turutin egois lo terus, anak lo juga butuh perhatian dari bapaknya, kalo lo cuman bersembunyi di zona nyaman lo terus gimana lo bisa raih Shaka buat lo miliki." Kata Lando dengan serius "Gue cuman belom siap Ndo, gue harus yakinin hati gue dulu sebelum ketemu Shaka." Kekeh Rhea lagi "Dan gue mohon jangan sampe Shaka tahu gue tinggal di mana, setelah nanti gue pulang ke Bandung semua bakal jelas dan gue udah siap buat menghadapi semuanya Ndo." "Kapan lo ke Bandungnya Rhe?" "Gue belum tahu, dan selain gue nyiapin diri buat ketemu Shaka gue juga mau nyiapin diri gue di depan orangtua gue Ndo, gue tahu pasti mereka nanti bakal kecewa sama gue, anak yang selama ini mereka banggakan malah membalas dengan kaya gini" "Ngga akan ada orangtua yang bakal tega buat berbuat lebih buat membalas kesedihannya saat anak gadisnya yang sebentar lagi jadi ibu, gue yakin Rhe semarah-marahnya orangtua lo mereka masih ada rasa ngga tega, jadi siapkan diri lo. Jangan terlalu lama, sebelum semuanya benar-benar sirna dan lo ngga bisa ngeraih dia Rhe." Saran Lando  "Gue harap lo mau memikirkan secepatnya agar beban yang lo tanggung berkurang, dan lo ngga bakal nanggung beban berat ini sendirian lagi, ada Shaka yang bakal ada buat lo." Imbuh Lando lagi "Gue cuman takut Ndo, orangtua gue bakal kecewa berat sama gue." "Nggak, percaya sama gue." Lando memeluk Rhea "Thanks Ndo, gue kira lo cuman segrombolan orang yang otaknya hanya tertulis kalimat be.ca.n.da.an aja, ternyata bisa bijak juga ya." Kekeh Rhea di sela-sela tangisnya "Gini-gini gue paling waras dari tiga orang itu." Kekeh Lando juga "Yang satu siapa?" "Abyan, dia lebih gila dari gue sama Arjuna, meskipun punya raut wajah serius tapi dia bahaya gilanya." Kata Lando yang masih terkekeh tipis Bibir Rhea membentuk bulatan O "Ada ya orang gitu" "Untung lo kenanya sama Shaka, dia meskipun pengacara hatinya dia ngga tegaan dan asal lo tahu Shaka itu orangnya bertanggung jawab, jadi lo ngga usah takut kalo Shaka ngga tanggung Jawab, nona cantik." Jelas Lando lagi dengan kedipan matanya "Gue kangen sama Shaka ndo, ngga usah bahas dia lagi." Tangis Rhea mulai runtuh lagi "Ya Allah, resiko ngurus ibu hamil begini." Teriak Lando dengan suara sepelan mungkin. ○○○ Di posisi lain, Jangkar memperhatiakan dua orang sisih kanan dari tempatnya ia berada, ya ia melihat Rhea dengan suaminya, suaminya sedang merangku mesra Rhea yang ia lihat sedang menangis. Apa Rhea di sakiti oleh suaminya sampai menangis sesenggukan di d**a bidang suaminya itu. Secepat mungkin Jangkar beranjak dari duduknya tanpa menghiraukan temannya memanggil namanya. Jangkar berjalan menuju ke arah Rhea dan suaminya yang sedang asik berpelukkan d tempat terbuka seperti ini. Potek hati abang,dek! Langkahnya semakin dekat ke arah Rhea berada, Lando yanng tahu Jangkar menuju ke arah mereka ia semakin mengeratkan pelukannya. "Ada Jangkar menuju ke sini, cepet diem yang nangis dan peluk gue erat dan mesra." Bisik Lando tepat di kuping Rhea yang hanya di angguki oleh Rhea. Seketika Rhea hanya berreaksi dengan gugup, sebisa mungkin Rhea mengontrol tubuhnya agar ta terlihat tegang. Dengan posisinya yang masih memeluk Lando Rhea memejamkan matanya dan mengenggam erat kemeja Lando. Udah kaya di kejar hulk ngamuk aja! Langkah jangkar mulai mendekat kearah Rhea dan Lando dengan wajah sedikit kesal, dan mata serta hatinya pun ikut menahan sakit, antara sakit mata dan panas hati. "Hai mbak Rhea, mas Lando." Sapa Jangkar "Eh ada Lando, abis main kamu Ndo?" Basa-basi Lando "Iya nih mas, loh mbak Rhea kenapa mas kok kaya abis nangis gitu?" "Oh ini, tadi dia liat ayam hampir di tabrak sepeda motor terus ikutan nangis tahulah kalo ibu hamil, Ndo" Alibi Lando "Bener mbak?" "Iya Kar, mbak gapapa kok cuman kasihan sama ayamnya tadi." "Yaudah kalo gitu kita pamit dulu ya Kar, kasihan Rhea dari tadi ngider mulu." Pamit Lando "Duluan ya Kar, salam buat bu Mitha." Kata Rhea ikut menimpali "Oh iya mbak, mas, silahkan." "Yuk sayang, kita pulang yuk udah hampir siang, kasihan anak kita butuh istirahat juga." Seloroh Lando "Iya mas." Setelah kepergian Rhea dan Lando, Jangkar mengerang frustasi dan menjambak rambutnya kuat-kuat setelah mendengar dan melihat adegan suami istri tadi. Jangkar lari ke arah motornya yang terpakir di dekat rumah Fadil dan segera menarik gasnya setelah itu ia pergi dari tempat lapangan basket. Ini hati abang potek lagi dek. ○○○ Sudah beberapa hari ini Shaka selalu pulang kerumah orangtuanya, karena satu alasan ia sedang sakit maka ia pulang kerumah oranguanya agar ada yang merawatnya. Namun sekarang keadaannya sudah membaik meskipun sudah membaik badanya masih lemas dan berakhir tidur di kamarnya. Hari ini ia bertekad untuk menghubungi Rhea setelah hampir tiga bulan ini ia tak menghubungi Rhea, sebelumnya Shaka pernah menghubungi Rhea namun yang ia terima adalah suara dari operatornya hingga akhirnya Shaka menyerah untuk tidak menghubungi Rhea dulu. Ia tahu bahwa Rhea sedang menenangkan dirinya. Suara nada tersambung menandakan telepon Shaka tersambung pada nomer yang ia hubungi, Shaka bangun dari tidurannya dan duduk bersandar di headbadnya menunggu sambungannya di angkat oleh di serbang sana. "Hallo?" "Rhe- Rhea" "Shaka?" "Iya ini saya Shaka Rhea, ka- kamu apa kabar?" "Shakaa." "Iya ini saya Rhea, jangan menangis demi Tuhan Rhea jangan menangis." "Shaka, saya butuh kamu—" "Rhea kamu serius, kamu dimana Rhea, saya akan nyusul kam-" Dan setelah itu sambungan yang tadinya lancar kini sudah terputus sebelum Shaka melanjutkan bicaranya, saat itu Shaka mengerang keras, ia sekarang berasa laki-laki tidak berguna, ia tak coba mencari Rhea dengan kaki dan tangannya malah ia tumbang seperti orang yang benar-benar seperti orang pesakitan. Suara sambungan mendering di sambungan ke lain nomer, Shaka menghubungi Lando, hanya ia yang bisa membantu Shaka, sedetik berlalu dan akhirnya sambungannya di terima oleh temannya. "Hallo, lando lo dimana temenin gue ke jogja sekarang." "Sorry, bro gue lagi ke malang buat pemotretan nih, sama Abiyan aja." "s**t! Lo pulang sekarang Ndo." "Eh kambing, gue kerja buat bekal nikahin pacar gue. Asal aja lo ngomong." "Please ndo, gue ngga mungkin ngajak Abiyan yang lagi ikutan gila." "Lo berusaha sendiri buat nemuin Rhea, Shak. Siapin diri lo sebelum semuanya benar-benar terlambat karena kebodohan lo itu." "Tapi gue harus cari di Jogja bagian mana." "Terserah lo, udah gue mau lanjut kerja dulu." "Woy bangsattt!" Setelah telepon terputus Shaka segera bangkit dari posisinya terduduk di kamarnya dan segera bersiap diri untuk pergi ke Jogja melupakan rasa sakitnya yang masih mendera kepalanya. Setelah semuanya siap ia keluar dari kamarnya untuk segera menuju ke arah garasi mobilnya. Saat itu terlihat mama Shaka yang sedang asik menonton tv itu, melihat aneh ke arah anaknya yang sedang terburu-buru melangkah itu. "Shaka, kamu mau kemana. Kamu masih sakit malah mau pergi gini?" "Mah, Shaka harus pergi sekarang." "Iya tapi Kemana Shak, badan lagi sakit gitu malah mau nekat pergi!" Omel sang mama "Mah, Shaka harus nyusulin Rhea, dia hamil anak Shaka mah" Jelas Shaka dengan mulus tanpa sadar mulutnya sudah berkata tanpa ia pikir dulu "Rhea? Hamil? Anak kamu??" Tanya mamanya yang terlihat shock "Iy- ii iya, ma." Jawab Shaka takut-takut "Shaka ya ampun kamu, bener-bener anak mama paling nakal ya kamu. Udah berapa kali mama ngomong sama kamu jangan jadi laki-laki cuman sembur benih sana-sini." Teriak marah sang mama "Ma, Shaka ngga ada waktu buat jelasin." "Mama ikut, pokoknya mama harus ikut. Bentar!" "Ma, mama di rumah aja oke, nanti Shaka ajak Rhea pulang kesini." "Ngga bisa, pokoknya mama harus ikut, titik!" "Yaudah buruan deh mah." Akhirnya Shaka hanya bisa pasrah Dua orang tadi akhirnya berangkat ke bandara tanpa ada persiapan apa-apa dan membawa barang seadanya, tidak memikirkan bagaimana nanti di rumah akan ada kehebohan apalagi setelah kepergian mendadak mereka berdua. Di Jogja nanti Shaka akan bertemu dengan Rhea lagi, dan ia akan memeluk Rheanya lagi, meluruhkan semua rindunya yang sudah tak ada tepiannya itu, semuanya penuh dengan nama Rhea disana. Sebenatar lagi Shaka akan mengahadapi ujian untuk menemukkan keberadaannya Rhea, dan berjanji ia akan membawa Rhea lagi menjadi miliknya seutuhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN