Mata Keisha terpejam begitu melihat wajah Erlangga yang kian dekat. Kedua tangannya bertumpukan di depan dadanya, menekan kuat agar membuat jantungnya tenang. Hitungannya sudah mencapai angka sepuluh, tapi tidak ada yang terjadi. Erlangga menatap serius pada Keisha yang terpejam. Tampak takut sekaligus malu. Ia memiringkan kepalanya, mengambil sisi pandangan yang lebih baik. Tak lama itu bibirnya tersenyum. Jantungnya berdebar cepat dengan detak menyenangkan. Tak pernah merasa sebahagia ini hanya dengan memperhatikan wajah seseorang. Tangannya terulur, menyentuh samar ujung poni Keisha, tapi tidak lebih jauh. Ia kembali menjauhkan tangannya. “Udah,” beritahu Erlangga. Mata Keisha terbuka seketika. “Udah?” tanyanya bingung. Ia tidak merasa sudah dicium. Tunggu, ia juga tidak tahu sih k

