BAB 9-TERJEBAK IKATAN KONTRAK

1988 Kata
Aurora berjalan lemas menuju ruangan khusus karyawati, dia membutuhkan waktu sebentar saja menenangkan dirinya. Di hari pertamanya kerja, Aurora sudah di pertemukan dengan orang-orang yang ingin dihindarinya. Kesialannya itu membuatnya terpancing emosi tapi lagi-lagi selama dia bekerja harus menahan diri untuk mempertahankan pekerjaannya. Sebisa mungkin Aurora harus tidak menimbulkan masalah yang membuatnya dipecat di hari pertama kerjanya. Aurora pun berdiri tegak, dia tidak boleh berlama-lama karena harus melanjutkan pekerjaannya di area lantai satu. Tapi, beberapa rekan seniornya berdiri menghadangnya. Salah satunya Vanessa yang tidak menyukai Aurora karena perlakuan tidak adil bosnya. "Berikan tips yang kamu dapatkan dari hasil layanan mu di lantai 3!" pinta Vanessa. "Bukannya tips yang diberikan pengunjung hak pegawai yang diberi tips?" tanya balik Aurora. "Kamu harus membaginya!" balas Vanessa. "Apa alasannya aku harus membaginya?" "Aku tahu dengan wajah cantikmu kamu merayu bos Ricko hingga mendapatkan perlakuan spesial," tuduh Vanessa. "Seharusnya aku yang ditugaskan dan mendapatkan tips yang kamu dapatkan. Apa sekarang kamu mengerti alasan harus membaginya?" "Aku ditugaskan ke ruang VVIP bukan karena merayu bos. Tapi..." "Alah, banyak alasan," potongnya sambil memberi isyarat pada temannya. Tiga gadis itu memegang tangan Aurora. "Kalian mau apa? lepaskan!" teriak Aurora sambil berusaha melepaskan diri meskipun hasilnya sia-sia. Vanessa mengambil uang di sakunya, tentu saja dia mengetahui uangnya di sana. Karena terlihat menonjol di saku rok mininya. "Jangan serakah!" ucap Vanessa. "Ini bagianmu, sisanya bagian kami," sambil memisahkan 5 lembar dan memasukkannya ke saku rok Aurora. "Kembalikan uangku!" teriak Aurora. "Apa kamu ingin dipecat di hari pertamamu masuk kerja? kami akan bersandiwara agar bos percaya jika kamu menganiaya kami," ancamnya. "Tapi kamu tidak bisa mengambil uangku sebanyak itu! aku membutuhkan uang itu untuk pengobatan ayahku," bela Aurora. Tapi Vanessa masa bodoh. Dia mengambilnya dan mengangkat tangannya ke atas. "Jika kamu mengadu pada Hana. Aku pastikan kamu akan dipecat," ancam salah satu gadis dari ketiga gadis yang memegangnya. Aurora yang membutuhkan pekerjaan akhirnya mengalah, setelah ketiganya meninggalkannya. Tubuhnya ambruk, dia duduk bersimpuh sambil menangis. Entah kenapa kesialan akhir-akhir ini terjadi tanpa henti. Aurora idak mengerti dengan nasibnya saat ini. "Kamu harus kuat, kamu mampu menghadapinya (sambil menangis). Sakit, kenapa sesakit ini?" Aurora pun menangis sepuasnya tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya. "Berhenti menangis!" terdengar suara seorang wanita membuat Aurora menengadahkan wajahnya. Seorang wanita cantik berdiri tak jauh darinya, wanita itu mengenakan pakaian elegan. Dari kuku-kukunya yang panjang dan berwarna-warni menandakan dia wanita dari kalangan atas. "Aku akan membantumu keluar dari masalahmu," ucapnya. Aurora memilih diam, dia teringat wanita yang bertemu dengannya di halte bus. "Bukannya kamu...?" "Aku yang menghampirimu di halte bus tapi kamu mengabaikan ku," jawabnya. Wanita itu mendekati Aurora kemudian mengulurkan tangannya. Aurora sempat ragu tapi akhirnya dia menerimanya hingga berdiri tepat di depannya. "Hapus air matamu!" perintahnya sambil memberikan tisu. Sikap wanita itu begitu dominan. Aurora pun mengelap air mata yang membasahi pipinya bahkan dia mengeluarkan ingusnya. "Astaga, apa aku salah memilih? suamiku akan semakin ilfeel jika kelakuannya jorok itu. Lupakan soal sikapnya! aku bisa mendidiknya sebelum bertemu Jayden. Yang terpenting saat ini aku harus bisa membujuknya menerima tawaranku." Setengah jam kemudian, Aurora turun dari mobil mewah yang ditumpanginya bersama Revalina. Revalina membawanya ke salah satu hotel bintang lima karena tidak nyaman berlama-lama di kelab malam. "Ikuti aku!" perintahnya. Aurora pun berjalan cepat mengikutinya. Aurora melihat dua lelaki mengenakan jas lengkap berdiri di depan pintu utama bersama beberapa gadis cantik berseragam lengkap. Saat Revalina melintasi mereka, dengan serentak mereka menyapanya. Aurora memperhatikan Revalina, wanita itu hanya mengangkat tangan kanannya tanpa menoleh sedikitpun. Dia berjalan angkuh memasuki area lobi hotel. Seorang lelaki berjas lengkap menghampirinya, kali ini Revalina menghentikan langkahnya. "Apa kamu sudah mempersiapkan semuanya?" tanyanya. "Sudah Nyonya, mari saya antar anda!" jawabnya. Revalina memutar tubuhnya menatap Selena yang langsung menegakkan tubuhnya. "Ikuti aku!" Hanya perintah itu yang terlontar dari mulut Revalina, seperti dari awal mereka bertemu di ruang istirahat karyawati kelab malam. Wanita itu bahkan tidak memperkenalkan diri tanpa ragu membicarakan penawarannya. "Aku akan membantumu menyelesaikan semua masalahmu tapi dengan beberapa syarat," ucapnya sambil mengangkat wajahnya dengan angkuh. Wanita itu benar-benar sosok pribadi yang menjunjung tinggi harga dirinya bahkan terkesan sombong. "Kenapa anda bersedia membantuku?" tanya Aurora. "Karena aku memilihmu," jawabnya membuat kening Aurora berkerut. "Memilihku?" "Aku tidak suka menunggu, segera putuskan sekarang juga?! apa kamu mau bekerjasama denganku?" ucapnya sambil memiringkan kepalanya. Aurora masih diam, siapapun tidak akan memutuskan dengan cepat penawaran dari orang asing. "Aku tidak suka menunggu," ucapnya lagi sambil membuang wajahnya ke lain arah. Revalina memutar tubuhnya kemudian melangkah ke arah pintu tanpa menoleh sedikitpun membuat Aurora panik. "Tu-tunggu! aku akan menerima penawaran mu," panggil Aurora dengan cepat membuat wanita itu tersenyum penuh kemenangan. Meskipun tidak tahu pekerjaan apa yang hendak dilakukannya atas imbalan yang akan Revalina berikan. Tapi, baginya keputusan itu sudah benar. Mengingat Aurora tidak lagi memiliki cara lain keluar dari semua masalahnya, terutama masalah ekonomi. "Ikuti aku!" perintahnya. "Kemana?" tanya Aurora. Revalina tidak menjawabnya terkesan mengabaikannya, dia melangkah dengan cepat. "Aurora!" panggilnya memecahkan lamunannya. "Ya," jawab Aurora. Gadis itu menatap lelaki berjas lengkap tadi membuka pintu kamar hotel dengan nomor 123. "Masuklah!" perintahnya tanpa menoleh sedikitpun. Aurora pun mengikutinya tanpa ragu, dia pasrah apapun yang terjadi sebagai resikonya sudah memutuskan menerima penawarannya. Aurora melihat seorang pelayan hotel membungkukkan badannya, sementara Revalina duduk di kursi yang tersedia di kamar itu. Pelayan itu dengan anggun menuangkan wine ke gelas bening kemudian menyodorkannya. Aurora memilih berdiri mematung menunggu perintahnya. Dia mengarahkan pandangannya ke sekeliling kamar mewah itu. Tarif untuk membayar kamar itu tentunya bernilai fantastis. Aurora yang sudah terbiasa membooking kamar hotel saat melakukan perjalanan bisnis di luar kota bersama Jayden tahu benar. "Duduklah!" perintahnya. Aurora dengan cepat duduk di kursi yang berhadapan dengan Revalina. Kemudian duduk tegak sambil menatap wanita cantik di depannya. Wanita itu masih terlihat muda, Aurora menafsirkan usianya dibawah 30 tahun. Wajahnya yang dipoles makeup terlihat glowing dan terawat. Rambutnya yang mengembang berwarna dark brown tergerai indah. Aurora yakin jika wanita yang duduk di depannya bukan orang biasa, ditambah lagi kesanggupannya menyelesaikan masalahnya. Sedangkan masalah utamanya berhubungan dengan uang dengan nominal fantastik. "Kamu tadi bilang akan membantuku menyelesaikan masalah ku. Lantas, syarat apa yang harus aku lakukan sebagai imbalannya?" tanya Aurora memulai topik pembicaraan. "Aku membutuhkan tubuhmu," jawabnya. "Apa?" jerit kecil Aurora dengan mata membulat. "Rahim mu," ucapnya mempertegas bagian tubuh yang paling dibutuhkannya. "Aku tidak mengerti?" "Aku akan memberi mu uang untuk menyelesaikan semua masalahmu. Tapi, kamu gadaikan rahim mu untuk melahirkan anak benih dari suamiku!" Tubuh Aurora langsung bergetar setelah mendengar ucapannya. Jangankan menggadaikan rahimnya, menjual tubuh pun untuk mendapatkan uang tidak terlintas sedikitpun dalam benaknya. "Anda jangan bercanda Nyonya!" "Apa aku terlihat bercanda?" jawabnya sambil memiringkan kepalanya. Revalina menggoyangkan wine dalam gelasnya. "Segera kamu ambil keputusan menerima penawaran ku atau tidak?" Aurora terdiam sejenak mencerna semua yang diucapkannya, dunianya sedang semrawut. Aurora pun tidak bisa berpikir jernih, kewarasannya dipertanyakan saat dia menangis-nangis dan menjerit-jerit karena tak kuat menerima beban berat yang menghantamnya, batinnya terguncang. Di tambah lagi, mendengar tawaran ekstrim dari wanita di depannya sungguh tekanannya semakin berat. "Apa yang harus aku lakukan? apa aku harus menerima tawarannya? tapi, menggadaikan rahim ku. Apa sebuah keputusan yang baik untuk masa depan ku kelak. Sia-sia mempertahankan kesucianku. Hingga aku kadang bertengkar dengan Matthew karena tidak mau berhubungan badan. Dalam waktu sekejap aku menjualnya. Ya, menjual tubuh ku membiarkan rahimku ditanam benih lelaki beristri." "Segera katakan apa keputusanmu, Aurora Gwen!" "Aku-?" "Aku kecewa jika kamu menolaknya," potongnya. "Aku yakin kamu akan menyesal menolak penawaran ku," tambahnya sambil tersenyum devil. Aurora meremas-remas kedua sisi rok mininya sambil memikirkan keputusan yang akan dia ambil. Menolaknya sama saja membuang kesempatan yang belum tentu terulang lagi. 2 milyar nominal mengerikan yang harus dia sediakan dalam waktu beberapa minggu lagi. Tidak mungkin dia mendapatkannya meskipun menjual tubuhnya. "Apa kamu akan memenuhi permintaanku jika menerima penawaran mu?" "Tentu saja," balasnya sambil meneguk wine-nya. Aurora menarik napasnya kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Dia sudah mengambil keputusan. "Aku menerima tawaran mu menggadaikan rahimku untuk melahirkan anak dari benih suamimu asal kamu memberi uang sebesar 2 milyar!" jawabnya dengan lantang. "Aku bersedia memberimu 5 milyar juga membiayai seluruh pengobatan ayahmu. Imbalan itu sepadan dengan pengorbananmu melahirkan anak kami," jawabnya. "Apa?! kamu akan membiayai...?" dengan ekpresi terkejut. "Aku akan membereskan semua masalahmu dalam hal keuangan karena aku ingin kamu fokus dengan tugasmu," jawab Revalina. "Apa kamu masih virgin? maksudku belum melakukan hubungan badan dengan mantan kekasih mu?" "K-kamu menyelidikiku?" dengan mata membulat dibalas tawa lepas membuat Aurora menatapnya tajam. "Apa aku harus menjawabnya?" sambil melirik lelaki berjas lengkap yang berdiri tak jauh dari Revalina. "Ibarat transaksi jual beli, aku harus memastikan barang yang akan ku beli," jawab Revalina sambil menyeringai. Aurora meremas rok mininya. Jika menuruti kata hatinya dia sakit hati, secara tidak langsung Revalina merendahkannya. Revalina dengan terang-terangan menganggapnya sebagai barang yang diperjual belikan. "Aku masih virgin sebagai jaminannya jika suamimu mengeluh aku pastikan kamu mengambil kembali uang mu!" jawab Aurora dengan tegas. "Sikapmu seperti ini yang membuatku menyukaimu," balas Revalina sambil memberikan isyarat mata pada lelaki berjas lengkap yang langsung menaruh berkas berisikan lembaran surat kontrak di depan Aurora. "Jangan terburu-buru, baca dengan teliti semua yang tertulis di sana!" Aurora pun membacanya dengan sangat teliti, dia yang memiliki posisi wakil direktur di perusahaannya. Tentu sudah familiar dengan surat perjanjian semacam itu. "Kamu boleh menanyakan beberapa poin yang tertulis di sana!" "Di sini tertulis jika aku harus tinggal di tempat yang ditentukan pihak pertama setelah menandatangani surat perjanjian. Apa aku tidak diijinkan untuk sekedar berpamitan pada orang tuaku. Mereka akan mengkhawatirkan ku jika menghilang begitu saja," ucap Aurora . "Tidak perlu khawatir! seperti yang tadi aku katakan. Aku akan mengutus orang untuk mengurus mereka terutama ayahmu. Karena aku tidak yakin ibu tiri mu akan memperdulikan mu," balas Revalina terkesan mencibir. "Kamu sampai menyelidikiku sejauh itu?" cibir balik Aurora karena Revalina sudah menguntitnya sampai ke masalah pribadinya. "Tidak ada yang tidak ku ketahui di dunia ini," ucapnya dengan angkuh. "Sombong." "Jangan mengumpat ku dalam hati mengatakan ku sombong!" ucapnya membuat Aurora terperanjat kaget. "Ti-tidak, aku tidak melakukannya," bantah Aurora dengan tergagap. "Dari sikapmu membuatku yakin, kamu melakukannya," sanggah Revalina. "Haish! jika istrinya seperti ini bagaimana suaminya? aku harap tidak sesombong dan semenyebalkan dia." Aurora membaca nama JAYDEN REYNOLDS sebagai suami dari pihak pertama yang bernama REVALINA OFELIA. "Reynolds? sepertinya aku pernah mendengarnya, Tapi aku lupa di mana?" gumamnya. "Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Revalina. "Aku tidak memikirkan apapun." "Jika sudah tidak ada yang kamu tanyakan segera tandatangani perjanjian itu!" Revalina pun menandatanganinya begitu juga Revalina. "Setelah kamu menandatangani surat ini rumah yang harus kamu tebus sudah aku bayar. Jangan memikirkan kedua orang tuamu! fokus saja melahirkan anak kami!" Lelaki berjas itu membuka pintu, terlihat seorang dokter dan perawat masuk ke dalam kamar. "Mereka mau apa?" tanya Aurora terlihat ketakutan. "Dokter Hagis akan memeriksamu," jawabnya sambil tersenyum ke arah dokter cantik yang berdiri tak jauh darinya. "Memeriksaku?" "Kebenaran dari pengakuanmu, apa kamu benar-benar masih virgin?" pungkasnya. "Kamu meragukanku?" balas Aurora sambil mengerlingkan matanya. "Aku hanya memerlukan pembuktian untuk membenarkan pengakuanmu," terangnya dengan tegas. Dokter dan perawat itu menuju ke arah kasur dan lelaki berjas lengkap itu keluar dari kamar. "Kemarilah Nona! saya akan memeriksa anda," ucap dokter tersebut. "Kengerian apa lagi ini? dokter itu akan memeriksaku. Sedangkan aku tidak pernah memperlihatkan milikku pada siapapun." Revalina memberi isyarat mata agar Aurora menghampiri dokter cantik itu. *** Beberapa jam kemudian, Aurora duduk di tepi kasur salah satu kamar mansion yang dipilih Revalina untuk menjadi tempat tinggalnya selama terikat kontrak. Aurora menatap lingerie yang dikenakannya berwarna merah terang, berhubungan saat ini menurut hasil pemeriksaan dokter dalam masa suburnya, meskipun Aurora tidak memahaminya. Revalina memutuskan agar Aurora memulai tugasnya berhubungan badan dengan suaminya. Tentu saja Aurora gugup dan gelisah, dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia belum pernah melakukan itu dengan lelaki manapun termasuk Matthew. "Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya sambil meremas-remas jemarinya. Pintu kamar terbuka lebar dan keras membuat Aurora terperanjat kaget yang lebih membuatnya bertambah kaget saat melihat lelaki yang masuk ke dalam kamarnya dengan wajah prustasi. "K-kau...!" panggilnya sambil berdiri tegak menatap lelaki tersebut. "Jadi lelaki ini suami Revalina?" BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN