Semuanya masih teringat jelas di kepala Eunbyul. Kala itu dia masih bocah ingusan yang kerap bermain-main sambil berlari mengelilingi panti asuhan. Rumah asuh tersebut sudah seperti rumahnya sendiri. Begitu menyenangkan dan nyaman. Tapi tentunya dia bukan bocah bodoh yang tak mengerti apa-apa. Eunbyul tahu jelas di mana dia berada. Awalnya hal itu tidak jadi masalah sama sekali karena dirinya dikelilingi orang-orang yang penuh kasih. Namun seiring berjalannya waktu, dia kehilangan banyak orang satu-persatu. Merasa begitu sedih kesepian. Tetapi yang paling menyakitkan adalah ketika kepercayaan dirinya mengikis memikirkan mengapa hanya dia yang tersisa. Mengapa hanya dirinya saja yang tidak dilirik sedikitpun? Mengapa hanya dia saja yang diam selagi orang-orang pergi satu-persatu? apa dia na

