Cahaya fajar yang merayap masuk melalui celah gorden kamar Seraphina Azkadina tidak lagi membawa kehangatan, melainkan hanya menyinari puing-puing kehancuran yang berserakan di lantai marmer. Di tengah kekacauan koper yang ternganga, perhiasan yang terpental, dan kemeja putih milik Alaric Valerius yang kini sudah lecek dan basah oleh air mata, Sera masih meringkuk. Tubuhnya terasa kaku, otot-ototnya memprotes karena ia menghabiskan malam dalam posisi janin di atas lantai yang dingin. Namun, rasa sakit fisik itu hanyalah gangguan kecil dibandingkan dengan kekosongan yang kini mendiami rongga dadanya. Isak tangis yang semalam meraung-raung kini telah habis, menyisakan tenggorokan yang perih dan hati yang telah mengeras menjadi batu karang yang legam. Sera perlahan membuka matanya. Ia mena

