Keheningan yang mencekam kembali menyergap ruang kerja Alaric Valerius setelah rentetan penghinaan yang ia muntahkan kepada Seraphina Azkadina. Aroma parfum Bianca Clarissa yang tajam seolah menjadi gas beracun yang memenuhi setiap sudut ruangan, menindas oksigen yang tersisa bagi Sera untuk sekadar bernapas. Sera berdiri mematung, menatap Alaric dengan pandangan yang sudah tidak lagi berisi cinta, melainkan kehampaan yang mengerikan. Ia merasa seolah-olah seluruh jiwanya telah dikuliti hidup-hidup, dibiarkan terbuka di bawah siraman cuka kata-kata kejam pria yang paling ia puja. Alaric, sang Titan yang ia anggap sebagai pelindung, kini berdiri dengan angkuh di samping mantan istrinya, seolah-olah Sera hanyalah noda kecil di atas karpet mahalnya yang harus segera dibersihkan. Alaric men

