Pemandangan di seberang gerbang kampus itu seharusnya menjadi potret romansa masa muda yang sempurna, namun bagi Alaric Valerius, setiap detik yang tertangkap oleh matanya adalah racun yang meresap ke dalam sumsum tulang belakangnya. Di dalam kabin Mercedes-Benz yang kedap suara, Alaric merasa seolah-olah pasokan oksigennya baru saja diputus secara paksa. Ia tidak lagi sekadar merasa sesak; ia merasa tercekik oleh pemandangan di depannya. Cerutu yang sudah mati di asbak perak menyisakan bau tembakau yang memuakkan, menyatu dengan aroma kulit jok mobil yang mahal, menciptakan atmosfer yang pengap dan mencekam. Kaivan Mahendra bergerak dengan keluwesan seorang pemuda yang tidak memiliki beban sejarah yang berdarah. Alaric melihat bagaimana Kaivan meraih helm full-face cadangan dari jok be

