Koridor lantai puncak Menara Valerius yang dilapisi karpet tebal kedap suara itu mendadak terasa seperti lorong menuju eksekusi mati bagi Seraphina Azkadina. Langkah kakinya yang goyah terhenti tepat di ambang pintu ganda yang masih terbuka lebar, memamerkan pemandangan dosa yang baru saja ia saksikan. Oksigen di dalam gedung mewah ini seolah tersedot habis, meninggalkan Sera yang terengah-engah dalam keputusasaan yang mencekik. Ia menatap punggung tegap Alaric Valerius yang kini sudah kembali berdiri di samping Bianca Clarissa—wanita yang sedang merapikan tali gaun sutranya dengan gerakan tangan yang sengaja dibuat lambat, seolah ingin memamerkan sisa-sisa keringat keintiman yang masih tertinggal di kulitnya. Sera merasa jantungnya bukan lagi berdetak, melainkan berdenyut dalam luka yang

