11. Juu Ichi

1082 Kata
Pertandingan kali ini cukup sulit untuk Iona, karena mereka diberikan waktu tiga jam untuk berbelanja dan menentukan menu yang akan di hidangkan. Semua hidangan harus lengkap dimulai dari makanan pembuka, makanan utama, dan makanan penutup. Meski menu yang diberikan bebas, mereka juga harus mewaspadai waktu yang sudah ditentukan. Iona berlari menuju ke pantry untuk mengambil keranjang dan memilih bahan makanan yang akan digunakan sebagai menu hari ini. Keuntungan Iona adalah , ia mendapatkan waktu ekstra selama lima belas menit untuk berada di dalam pantry. Setelah semua selesai dengan kegiatan di dalam pantry, para juri mulai menutup pantry agar peserta tidak bisa lagi mengambil bahan di sana. “Beruntung sekali aku mendapatkan waktu lebih banyak dari mereka,” gumam Iona. Para peserta di sana mulai memasak hidangan masing-masing, dan mereka juga sudah memiliki menu yang berbeda dari peserta lainnya. Seperti Iona yang akan membuat tiga hidangan untuk para juri di sana. Bahan yang sudah Iona bersihkan mulai ia potong dan disisihkan hingga saatnya digunakan. Tidak hanya itu, Iona juga membersihkan protein yang digunakan untuk hidangan utama. Jika para peserta akan mengambil menu Asia yang tidak jauh dari Negara mereka. Kini Iona menggunakan banyak sekali bahan untuk menu Asia Tenggara. “Apa yang akan kau buat?” tanya seorang juri. “Hidangan dari Asia Tenggara.” “Hmm, menarik. Hidangan dari sana kebanyakan menggunakan rempah-rempah yang cukup banyak. Karena itu hidangan dari wilayah itu sangat khas citarasanya,” ujar juri itu pada Iona. “Ya, aku tahu itu.” “Apa kau pernah mencoba makanan itu?” “Belum, dan aku berharap aku akan berhasil memasak semua hidangan yang sudah aku pilih,” ujar Iona dengan yakin. “Baiklah, aku akan menunggu di sana.” Setelah itu, Iona kembali fokus pada masakannya. Ia juga menggunakan piring saji khusus untuk menghidangkan makanan itu pada juri. Sementara dari meja juri, sesekali Haru menatap kinerja Iona dari mejanya. Ia tidak ingin mengganggu di sana, sehingga memilih untuk duduk dan tidak ingin berkeliling. Haru juga mengamati banyak peserta selama ini, dan menurut dia, Iona adalah peserta yang berkompeten. Waktu berjalan begitu cepat, hingga akhirnya salah satu juri menghentikan pertandingan memasak itu. Para peserta mengangkat tangan dari meja mereka, dan terlihat semua sudah siap untuk menghidangkan makanan pada para juri. Kali ini, Iona mendapatkan giliran yang terakhir. Ia harus menerima jika urutan yang diberikan seperti itu. Sampai akhirnya, nama Iona dipanggil oleh seorang juri. Rasa ingin tahu juri itu sangat tinggi, hingga membuat Haru sedikit menyindirnya. “Hei, jangan seperti itu, dia masih pemula, tidak sehebat yang kau bayangkan,” ujar Haru. “Kau hanya takut dia akan menggantikan posisimu saja, Haru. Sekarang kita nikmati saja dulu apa yang sudah dimasak oleh wanita ini.” Iona hanya terdiam melihat kedua juri itu seakan sedang berselisih. Dan akhirnya makanan milik Iona kembali mendapatkan pujian. Iona merasa senang, dan menunggu hasil dengan tenang di ruang tunggu. Setelah beberapa menit berlalu, pengumuman di berikan. Juara utama tentu dimenangkan oleh Iona. Sedangkan dua lainnya berada di bawah Iona. Iona mendapatkan banyak sekali hadiah, mulai dari uang hingga beberapa barang yang bisa digunakan untuk memasak. “Dengan uang ini, aku bisa membeli satu apartemen untuk diriku sendiri,” ujar Iona. Setelah pembagian hadiah, Haru menyelipkan kartu nama miliknya untuk Iona gunakan. “Kau bisa bekerja di restoran jika mau, datang dan temui aku,” ujar Haru. “Terima kasih, Chef.” *** Setelah selesai dengan pertandingan, Iona pergi bersama Kudo untuk membeli sebuah apartemen yang letaknya tidak jauh dari retoran tempat Kudo bekerja. Apartemen yang dibeli oleh Iona cukup luas dan juga jauh lebih baik dari milik Kudo. Merasa senang dengan kemenangan yang didapatkan Iona, Kudo tidak akan khawatir lagi dengan wanita itu. Ia bisa saja melepaskan Iona untuk mencari pekerjaan di Tokyo dengan sendirinya. “Apa kau akan membeli mobil dengan sisa uang yang ada?” tanya Kudo. “Tidak, aku hanya akan membeli sebuah sepeda. Dan aku akan menyimpan sisa uang ini untuk ku gunakan nantinya.” “Lalu … apa rencana setelah ini?” tanya Kudo lagi. “Hum … aku ingin datang ke restoran yang sudah ditunjukkan oleh Chef Haru. Ia memberikan kartu nama dan menyuruh aku datang ke sana,” jelas Iona. “Selamat untuk kemenangan dan kesuksesanmu. Sepertinya aku akan sangat jarang bertemu dengan dirimu.” “Hei! Kau tidak boleh seperti itu! aku ingin kita selalu bertemu setiap ada kesempatan! Datanglah ke apartemen ini jika kau sudah selesai bekerja!” “Hahaha, baiklah.” Setelah percakapan itu, mereka mulai membersihkan apartemen dan mulai mengisi beberapa barang milik Iona di sana. sedangkan pada bagian dapur, Iona meletakkan hadiah yang di dapat dari pertandingan memasak itu. “Hadiah yang sangat berguna, dan aku bisa memasak di dapurku sendiri,” ujar Iona. Hei, apa kau akan meletakkan ini di sini?” tanya Kudo sembari menenteng pakaian dalam Iona. Kedua mata Iona membulat dan berlari meraihnya. Iona memukul Kudo dengan keras dan melarangnya untuk masuk ke dalam kamar. “Aku lapar, kita makan saja di luar untuk hari ini,” ujar Kudo sembari mengusap perutnya yang terus mengeluarkan bunyi aneh. “Baiklah.” Akhirnya kedua orang itu pergi ke sebuah restoran kecil. Di sana, Kudo dengan lahap memakan hingga lima porsi makanan. Ya, itu karena Iona mentraktir dia sebagai tanda terima kasih. Setelah perut terisi dengan makanan, mereka berpisah di sana. Iona berjalan kembali ke apartemennya seorang diri. Dan ia cukup terkejut saat tahu ada seorang juri yang masuk ke gedung apartemen itu. “Kau!” ucap keduanya bersamaan. “Maaf, apa kau tinggal di sini?” tanya Iona. “Tidak, tetapi … aku memiliki satu unit di sini. Hanya untuk jam istirahat saja karena lelah bekerja,” ujar pria itu. “Namaku Iona.” Iona mengulurkan tangannya. “Aku Heiji.” Iona berpamitan setelah berkenalan, ia sudah sangat lelah dan ingin segera tidur. Tetapi, Heiji kembali menghalangi langkah Iona. “Apa kau mau minum?” “Tidak, maaf … aku harus kembali ke kamar,” ujar Iona. Heiji membiarkan Iona kembali ke dalam kamarnya, dan ia juga berjalan menuju keluar karena hanya mengambil barang di lobby. Sampai di dalam kamar, beruntung Iona sudah merapikan bagian itu sendiri. Sehingga ia bisa segera berbaring dan tidur dengan tenang di dalam sana. Waktu yang Iona butuhkan untuk tidur kali ini tidak terlalu lama, tetapi … seseorang sudah mengganggu di depan pintu masuk apartemen. “Siapa yang datang?” gumam Iona. Ia pun berjalan malas untuk melihat siapa yang datang. Dan saat Iona membuka pintu apartemen dengan wajah sayu. “Kau sudah tidur?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN