“Kalau aku ikut juga?” Medina menatap suaminya penuh harap, “Aku boleh ikut. Dan kalau kita bertemu orang yang dikenal Ayah, bisa kuperjelas Gia sebagai temanku, tanpa harus menyebut dia sebagai istrimu juga.” Respons Medina mengundang Gazain mencebik. “Bagaimana?” tawar perempuan itu ceria, matanya berbinar begitu indah. Tak adanya kesan cemburu dari diri Medina membuat gemas Gazain. Kadang ia curiga rasa cinta Medina telah berkurang untuknya dan menurutnya perempuan itu sudah terlalu fokus pada Gia dan calon bayi, bukan lagi Gazain satu-satunya. Gazain tak akan menyangkal kalau dirinya sering kali bersikap kekanakan kepada Medina, dan ... sedikit pun Gazain tak ingin mengubah hal itu. Baginya Medina sudah banyak sekali mengenyam nikmat dan kemudahan dunia, satu rasa manja Gazain yang

