Gazain keluar dari bilik kamar mandi hanya berbungkus jubah mandi hotel dengan wajah segar. Pandangannya menelisik Gia dari ujung kaki hingga rambutnya. Tanpa pakaian sopan dan tertutup sama sekali. “Tak kusangka kamu secantik ini.”
Gia memerah, malu mendapatkan pujian itu. “Kalau tidak, mana mau kamu menolongku.”
Gazain mendekat, gugup sendiri dirinya. Selama ini belum pernah menyentuh perempuan dengan kegilaan begini. Namun, Gazain tak akan mau dianggap lugu sebagai seorang lelaki. Darah durjana warisan Abifata mengalir di tubuhnya, tanpa pengalaman secuil pun, Gazain tahu ia bisa menikmati malam ini. Nalurinya sebagai lelaki dewasa terbangkitkan sempurna. “Mari kita nikmati malam ini dengan sempurna, Sayang!”
Berawal dari satu sentuhan berakhir dengan kepuasan. Dalam malam panjang itu semua kendali diri mereka dilepaskan. Gazain dengan kemarahan dan kemenangannya atas sang ayah. Gia pun melepas diri dari semua belenggu dosa orang tuanya. Mereka sedang merayakan kebebasan masing-masing.
Gazain menikmati sepenuhnya. Napas tersengal yang menutup percintaan dahsyat mereka. “Bagaimana menurutmu? Kita perlu satu ronde lagi atau ... tiga?”
Gia tersenyum lepas. “Kurasa istirahat sebentar diperlukan.”
Jemari Gazain mengusap rambut dan wajah cantik Gia yang bercahaya oleh keringat kenikmatan. “Aku harap tebusan yang kuberikan cukup untukmu. Benar-benar besok kamu tidak akan melihatku lagi, Gia.”
Nada perpisahan Gazain lumayan menyesakkan, tapi Gia menepis duka, jauh dari situasi nyamannya saat ini. “Tenanglah, aku tidak akan mencarimu.”
“Bagus!” Gazain lalu menggenggam jemarinya. Ada perasaan bersalah yang datang. “Kukatakan sekarang sebelum kita berpisah. Kamu memang sudah meminum pil anti hamil, tapi ... jika yang berusaha kita cegah tetap berbuah, kamu punya dua opsi. Datanglah padaku, aku akan bertanggung jawab penuh untukmu dan dia. Jika kamu memutuskan untuk menggugurkannya, itu pilihanmu, dosamu ditanggung sendiri.”
Gia mereguk sulit salivanya. “Ya.”
“Aku akan meninggalkanmu. Kita akan berpisah. Jika kamu tidak hamil, artinya cerai berlaku di antara kita berdua. Selagi haidmu belum datang tiga kali, jangan berhubungan ... begini dengan lelaki mana pun, mengerti?!” jelas Gazain pelan, penuh penekanan.
“Ya.”
Mata mereka saling tatap, sangat dekat. Gazain kemudian menarik diri, “Setelah itu lanjutkanlah hidupmu.”
Gia menelaahnya, rasa takjub menyebar di dadanya. “Kamu seperti orang yang lurus. Paham dan menjalankan ketentuan-Nya.”
“Aku tidak begitu,” sangkal Gazain. “Usaha yang kulakukan tidak berhasil sebaik yang kuharapkan.”
Gia mendekat, memberanikan diri untuk menyatukan bibir mereka secara singkat. “Terima kasih untuk surga semalam ini.”
***
Dua bulan kemudian.
Usaha warungnya bisa dibilang lumayan laku. Hidupnya juga lancar saja. Yang tak Gia sukai justru beberapa lelaki yang berusaha mendekatinya. Saat ini Gia benar-benar tak mau meladeni siapa-siapa, fokusnya satu yaitu menata hidup. Gia menyebutkan dirinya belum menikah dan merantau sendiri jadi ia mulai gugup saat biasanya haid datang tetapi dua bulan ini terlewati begitu saja. Pada bulan pertama Gia belum berani untuk mengunjungi apotek dan membeli alat tes kehamilan karena takut hasilnya akan mengacaukan hidup tenang Gia saat ini. Namun, terlambat di bulan kedua ini Gia mau tak mau melakukan tes urinenya. Terkejut, tapi tidak terlalu syok saat didapatinya garis dua pertanda positif di sana. Dengan tenang dan kepala dingin Gia berusaha tidak menghubungi Gazain ataupun melibatkan dia. Rencananya Gia akan tetap menjalankan warung makannya sampai usia kandungannya membesar nanti lalu membayar orang untuk menjaga warung dan membantu di dapur selagi Gia dekat waktu persalinan. Namun, ternyata tak semudah yang dibayangkannya. Dari pemilik kontrakan Gia mendapatkan tatapan curiga, juga mual muntah Gia yang mengganggu sekali, baik di warung maupun di kontrakan. Gia terus menafi sebagai masuk angin atau kelelahan saat ada yang menanyainya. Gia pikir ia harus lari lagi dari tempat itu dan memulai ulang dengan latar suami bekerja di luar pulau dan baru terdeteksi kalau dirinya hamil.
Hampir sepekan Gia bisa bertahan dari panas telinganya yang mendengar bisik-bisik orang tentang siapa yang menghamili Gia. Namun, Gia tetap tak mau meladeni ocehan mereka.
"Di sini?" tanya seorang perempuan.
"Ya. Banyak yang merekomendasikan tempat ini. Katanya selain enak, pemiliknya juga cantik," jawab lelaki yang dilingkari lengannya oleh perempuan itu.
"Baiklah. Mari kita coba. Kita lihat, aku pasti lebih cantik dari dia,” balasnya sombong.
Gia tak bisa lari dari takdir. Ia tahu, sudah berapa kali ia ingin lari dari kehendak Tuhan, tapi tetap terjebak di dalamnya. "Silakan, mau pesan apa?" tanya Gia ramah seolah tak tahu itu sepupu dan calon suami pengkhianatnya dulu.
"G---gia?!" Nana berseru.
Gia memutar bola matanya. Sudah jauh ia hindari mereka, entah mengapa tetap dipertemukan juga.
"K--kenapa kamu di sini?!"
"Aku tinggal di sini sekarang. Mau pesan apa?"
Nana bersedekap tangan di depan dadanya, "Jadi kamu, yang katanya cantik itu," Nana melirik Aslaf yang canggung. Tampak dungu, seperti biasa. "Aku tidak tahu kalau kamu bisa memasak."
Gia menggeleng. Serius ia menahan diri supaya tak meladeni Nana. "Kalau belum mau pesan silakan duduk dulu, pilih menu yang ingin dipesan."
Nana kemudian menarik Aslaf ke kursi duduk. Hampir penuh warung itu oleh pengunjung yang makan di tempat.
Gia melayani pembeli yang lain. Mendadak rasa mual itu muncul lagi mendorong tenggorokannya. Terpaksa Gia berlari ke belakang. Tak lama ia kembali juga sambil meminta maaf dan meneruskan pelayanan kepada pengunjung warungnya.
Nana kembali dengan senyum penuh ejekan, "Hamil, ya? Mana suamimu?"
"Aku sudah menjauh dari hidup kalian, Nana. Jangan usik hidupku,” ucap Gia penuh penekanan.
"Kamu tahu, kami di sini sedang berbulan madu ke dua. Merayakan dua bulan pernikahan kami. Artinya dua bulan juga sejak malam itu. Ayah bilang kamu pasti membayar lelaki itu agar tidak terlalu terlihat menyedihkan setelah hilang semua milikmu. Keangkuhanmu begitu mirip dengan ayahmu, Gia. Lihatlah sekarang, kamu sendirian di sini dan dalam kondisi hamil muda. Susah payah hidupmu karena apa yang telah dilakukan kalian terhadap keluargaku!”
Gia tak nyaman karena orang-orang memasang telinga atas pembicaraan mereka. Jelas sekali pembicaraan sengit ini bisa jadi petaka untuk Gia, tanpa imbas bagi Nana.
"Wajahmu pucat tahu," tegurnya geli. "Jelas sekali yang kukatakan benar semua."
"Pergi dari sini, Nana," usir Gia geram.
"Aku jamin kamu tidak akan bertahan lebih lama,” katanya kemudian angkat kaki dan membawa suaminya.
Gia pikir yang terjadi dengan Nana dua hari yang lalu itu sudah berakhir, tapi ternyata itu permulaan saja. Kini, saat Gia baru sampai di warungnya bangunan yang sebagian besar terdiri dari kayu itu telah ambruk. Nanar pandangan Gia menatapnya. Benar-benar ingin luruh air mata ke pipi.
"Ibu Gia ... maaf!"
Gia menoleh ke belakang. Seorang lelaki yang Gia kenali sebagai ketua RT di sana tampak canggung mendekatinya. "Ada apa, Pak?"
"A---anu ...."
Gia menunggu dengan perasaan tak nyaman. "Warung saya, bapak tahu siapa yang mungkin membuatnya jadi begini?"
Pak RT menggaruk tengkuknya dengan wajah meringis.
Sejujurnya Gia cukup yakin Nana rela membayar orang demi merusak usahanya. Kebencian Nana mungkin saja sudah ditanamkan Paman Gorgi sangat dalam untuk Gia. "Bisakah saya lapor polisi, Pak?"
"J---jangan, Bu!" panik beliau. "Jangan."
"Setidaknya saya harus tahu siapa pelakunya, Pak."
Pak RT mengangguk pelan. "Saya hanya bisa menyampaikan. Begini, Bu Gia. Yang merobohkan warung Ibu sebenarnya warga sini semua. Mereka juga meminta Ibu ... dijauhkan dari lingkungan ini. Mohon maaf sekali. Sebagai ketua RT saya berkewajiban menyampaikan keresahan mereka. Saya harap Ibu Gia bisa menerima."
Gia tertusuk. Sakit sekali meskipun sangat santun dan lembut penyampaian Pak RT. "Mengapa saya diusir juga setelah warung saya dirobohkan, Pak? Harusnya ada ganti rugi," balas Gia baik-baik. “Saya juga bisa menjelaskan baik-baik. Bukan main hakim sendiri begini.”
"Kami mendapat laporan bahwa Ibu lari dari keluarga dan hamil dari lelaki tidak jelas. Tentang warung, saya sudah coba menghentikan warga, tapi ... mohon maaf, Bu."
Gia tetap menuding Nana penyebabnya. Mungkin saja sebagian warga memang dibayar dan terhasut omongannya.
"Saya berharap Ibu bisa menemukan tempat lain yang lebih nyaman."
Gia hanya bisa menghela napas dan kembali ke kontrakannya. Sempat berpamitan baik-baik meski tak diberi raut bagus oleh pemilik kontrakan. Kini Gia lelah untuk memulai dari awal. Kondisi hamilnya tidak memungkinkan untuk memulai usaha lagi. Begitupun saldo yang pernah diberikan Gazain. Rugi modal pada bangunan warung dan peralatannya yang belum kembali tak bisa diharapkan lagi. Jadi, Gia bertolak kembali ke alamat yang Gazain pernah berikan dua bulan lalu.
Gia membaca ulang alamat itu berkali-kali sambil melihat bangunan di depannya. Rumah berbentuk lain dari umumnya rumah, tapi terkesan penuh sentuhan seni. Gia berjalan masuk ke halaman rumah yang tak berpagar itu kemudian mengetuk pintunya.
Gia mengerjap saat di depannya berdiri seorang perempuan cantik. "Benar ini alamat ....?"
"Ya. Cari siapa?"
"Ini rumah ... Gazain?" Gia memastikan lagi.
Dia mengangguk. "Ada keperluan apa dengan suami saya?"
"S---suami?!"