Cemburu

1047 Kata
Gazain berkendara pulang sambil berharap satu hal yang baik, yakni akan terjalin keakraban di antara Medina dan Gia. Medina jelas akan mampu membawa diri, selain dari sisi usia, juga karakter positifnya pasti membuat nyaman Gia. Dengan Gazain pun, perempuan saleha itu selalu menyenangkan hatinya. Tentu saja sesama kaum hawa Medina akan bersikap lebih baik kepada Gia. “Assalamu’alaikum,” ucap Gazain kepada penghuni rumahnya. Gazain menunggu dibukakan pintu. Senyum sudah dipasang pada wajahnya, tapi belum juga Medina datang menguak pintu. Biasanya Gazain belum sampai ke teras pun Medina sudah lebih dulu menyembul, menyambutnya. Apa gerangan yang membawa perbedaan dari istrinya tercinta? Mungkinkah pengaruh Gia?! Gazain akhirnya memasukkan anak kunci rumah yang selalu dibawa bersama dengan kunci mobilnya. Dadda Gazain terasa sesak menduga apa-apa alasan yang akan didengarnya sesaat lagi. Begitu masuk Gazain temukan senyap suasana rumah, seolah tak ada penghuninya sama sekali. Dibawanya langkah menuju kamar, pelan Gazain turunkan hendelnya, dan tampak di depannya wajah lelap Medina. Seulas senyum mengembuskan semua amarah Gazain sebelumnya. Hampir pukul dua siang. Seperti biasa Medina memang selalu dengan rutinitasnya. Tidurnya damai dengan selimut berbatas leher sementara pendingin kamar bekerja memberi sejuk pada udara. Masuk Gazain lalu menutup pelan pintu. Menarik baginya memerhatikan sang istri bernapas teratur begitu. Sejenak, kepala Gazain mengingatkannya tentang keberadaan Gia, jika tidak, mungkin saat ini akan dibangunkannya Medina hanya untuk diajak bercinta. Sesekali Gazain suka membuat istrinya cemberut. Medina biasanya hanya akan mandi sekitar tiga hari sekali, dan kegemaran Gazain adalah memaksanya mandi selepas mereka bercinta. Medina mau tak mau bebersih diri selepas digauli sehingga rangkaian ibadahnya bisa dilaksanakan lagi. Selalu, semanis itu dia di matanya. Gejolak rasa bersalah hadir memukul Gazain tiba-tiba. Bagaimana wajah sang istri yang selama ini hanya bahagia, hari ini tumpah air mata karena dirinya. Gazain sendu membelai wajah sang istri penuh kasih, “Bangun, Nona!” panggilnya lembut. Medina beringsut singkat, tapi belum sadar. Senyum Gazain mengembang lagi. Sejak pernikahan mereka Gazain benar-benar merasakan kebahagiaan hidup. Medina di batas rasa kantuknya sering kali Gazain ajak bicara. Biasanya sang istri akan tetap menjawab, meski kadang gumamannya sulit dipahami, tapi masih selaras dengan pertanyaan yang diajukan. Kali ini Gazain juga ingin menggali alam bawah sadar sang istri tentang kedatangan Gia. “Nona ...” “Hm?” “Maaf karena menyakitimu,” katanya sungguh-sungguh. “Hm.” Seluas itu maaf istrinya. Makin ikhlas Medina dengan kondisi baru pernikahan mereka, makin sakit Gazain rasa dalam hatinya. Lelaki tampan itu berkernyit menahan kesal, “Bolehkah kita mendoakan keburukan untuk orang lain, Nona?” “Tidak. Doa itu akan kembali pada kita juga,” gumamnya pelan. Gazain tertegun lalu mengusap-usap istrinya, haru. “Mengantuk sekali?” “Hm.” “Tapi aku butuh ditemani, Nona,” adu Gazain manja. “Tapi aku ...” Gazain berdecak lidah singkat. Dibiarnya Medina melanjutkan tidur sementara Gazain pun terus membelainya pula. Gazain mengedarkan pandangan ke ruangan pribadi mereka kini. Beberapa perubahan terjadi bersama datangnya Medina. Istrinya tak bisa kepanasan, tapi juga tak suka kedinginan. Atas permintaan istrinya lah yang membuat kamar mereka punya pendingin ruangan. Medina akan tidur dengan benda itu menyala, tapi posisi Medina sendiri selalu berselimut hingga batas lehernya. Cat kamar yang semula berwarna putih polos, juga diubah ungu seperti kehendak istrinya. Senyaman mungkin Gazain wujudkan rumah untuk Medina. Panel air panas juga dipasang di kamar mereka demi Medina yang tak terbiasa mandi air dingin. Gazain menikahi putri kesayangan dan satu-satunya, yang tak pernah hidup susah sejak dari awal usia dan tak pernah kurang kasih sayang. Wajar jika istana mereka disulap sebaik-baiknya sesuai nyaman bagi Medina. Medina perlahan membuka kelopak matanya. Rasa gerah bergelung selimut memaksanya menyingkap buntalan serat itu, tapi malah tak sengaja dia menyentuh kulit. Beberapa kali dia mengerjap lalu tercengang, “Ka---kapan kamu kembali, Suamiku? Maaf, aku ... tertidur.” Senyum geli Gazain tampil, “Kamu memang selalu tidur siang.” Medina yang panik mengubah posisi berbaring jadi duduk. Rambutnya berjatuhan rapi meski tak diatur jemarinya sama sekali. Fokusnya hanya agar sang suami rido. “Aku sampai tidak sadar kamu pulang.” “Tak apa,” Gazain mengusap kepala istrinya, menenangkan. Medina menunduk berisi kekhawatiran. Kadang Gazain akan mempermasalahkan hal kecil sampai Medina harus meminta maaf puluhan kali. Tapi kali ini suaminya sungguhan melepas perkara lalai menyambut kedatangannya. Medina melirik jam kemudian sadar tentang kedatangan madunya. “Dia di kamar sebelah. Sudah bicara dengannya? Oh, rumah, bagaimana? Sudah dapat?” tanyanya bertubi dengan antusias penuh meski satu titik tusukan terasa di jantungnya. Gazain perih sendiri. Benar-benar doa keburukan muncul di benaknya untuk kandungan Gia. Tak peduli darah daging sendiri, Gazain memang tak mengharapkan mereka. Gazain bertekad ia tak akan menjadi penerus Abifata. Gazain haramkan dirinya bertindak mencelakakan Gia ataupun kandungannya, tapi ia tak bisa berdusta pada hati terkecilnya, Gazain berharap tak lahir ke dunia pengikat darahnya dengan Gia. “Suamiku?” panggil Medina pelan. “Hm?” Rengut Medina mengisyaratkan dirinya tak suka diabaikan, “Aku sudah bertanya.” Gazain menarik sudut bibir istrinya, mengubah ekspresi Medina jadi senyuman paksa. “Sudah. Gia akan tinggal tak jauh dari sini. Sudah kubayar juga biaya kontraknya selama tiga bulan.” Medina menghela napas, lalu memeluk Gazain manja. “Alhamdulillah. Minimal kamu tidak perlu repot pulang pergi jauh jika berganti hari.” Sempat Gazain khawatir bahwa istrinya akan menjauh sedemikian rupa, nyatanya tidak. Medina sama seperti biasanya dia. Perlahan Gazain rileks membiarkan nyaman istrinya dalam pelukan, “Nona ...” “Hm?” “Aku tidak suka begini.” Medina mendongak, “Maksudnya pelukan ini?” Gazain diam mengunci mulutnya. Medina tetap menatap meski Gazain tak memberi balasan, “Beginilah seharusnya dunia. Bisa jadi apa yang kamu benci sebenarnya baik untukmu. Jalani saja.” Benar, Medina memang pasangan hatinya. Dia tahu maksud dan penolakan Gazain untuk bercanda saat ini. “Aku mungkin marah kalau kamu tidak cemburu, Nona.” Medina mencebik, “Jangan jatuh cinta padanya. Habiskan semua cintamu untukku saja.” Gazain berhasil tergelak karena nada rajuk itu meringankan hatinya. “Cintaku memang semuanya untukmu.” Medina melepaskan pelukan perlahan. Sikap tubuhnya menyatakan bahwa ia juga akan serius dalam pembicaraan mereka. “Aku tahu egois bagiku jika mengatakannya, tapi sungguh ... jangan jatuh cinta padanya. Aku akan terluka, Gazain. Sayatan karena harus membagimu dengan dia sudah banyak mengenai kulitku. Jangan lebih dalam menghancurkan aku.” “Jadi aku harus menceraikannya setelah dia melahirkan?” tanya Gazain menelisiknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN