BAB 08

1834 Kata
Hamil anak William Pearson adalah hal yang tidak pernah diharapkan oleh Veronica. Dia tak habis pikir, bagaimana mungkin dirinya bisa mengandung— padahal selama berhubungan, dia selalu mengutamakan keamanan. Sudah bisa dipastikan kalau janin di dalam perutnya itu anak Will, karena dia tidak pernah melakukan hubungan intim dengan pria manapun. Rex datang dengan membawa hasil penyelidikannya tentang berkas kepolisian milik Will serta formulir untuk menggugurkan kandungan di salah satu rumah sakit swasta. Syarat menggugurkan kandungan sangat ketat dan sulit, namun berkat koneksi orang dalam, dia dengan mudah mengurus administrasinya. Dia berkata, “Minggu depan kau bisa memulai pemeriksaan. Nanti terserah dokter, jadwal untuk menggugurkan kandunganmu.” “Syukurlah.” Veronica menepis semua rasa bersalahnya. Tak mau tahu karena dia membenci William. Apapun yang berhubungan dengan pria itu harus dia singkirkan, sekalipun anak sendiri. Kepalanya memang berkata demikian, namun jauh di lubuk hatinya, dia tak mau melakukan itu. “Kau yakin ... hamil?" Rex menatap perut Veronica, sangat tidak menyangka kalau wanita ini sedang hamil. ”Iya, aku sungguh hamil.“ ”Dan kau ingin menggugurkannya?“ ”Iya, kenapa kau keheranan begitu? Ada banyak sekali wanita yang melakukan itu.“ ”Well, benar, tapi rata-rata adalah gadis remaja, mereka tidak bisa bertanggungjawab, kau sudah dewasa, Veronica, kau seorang ibu, kau tega melakukan itu?“ ”Dengar, ini anak Will, aku tidak masalah mengandung anak siapapun, kecuali dia!“ ”Jadi, kau benar-benar yakin itu anak Will? Tidak ada pria lain?“ Veronica mengangguk. “Kau pikir aku ini siapa? Aku hanya berhubungan dengan pria itu saja, dan aku tak mau membahasnya.” “Oke.” Merasa situasi sedang canggung dan emosi Veronica juga tak stabil karena hormon kehamilan, Rex berpamitan. Veronica menutup pintu, lalu berdiam diri di rumah itu. Tadinya dia ingin bekerja kembali sembari mengurus berkas penyelidikan dari Rex, tapi pikirannya menjadi runyam sejak adanya janin di perut. Setiap pagi, dia merasakan gejala kehamilan, dari mual hingga sakit kepala. Sekalipun dia sudah meminum obat untuk meredakan efeknya, tapi ternyata masih sama saja. Kehamilan pertama ini membuat selera makannya turun. Setiap dia memasukkan makanan ke mulut, selalu saja berakhir menjadi muntahan. Enam hari berlalu dan segalanya masih sama. Dia hanya menunggu hari esok, dimana dia akan melakukan pemeriksaan pertama untuk rencana menggugurkan bayi ini. Akibat kehamilannya, dia menjadi malas melakukan apapun, walau hanya sekedar mandi. Dan, tanpa dia duga, tiba-tiba bel rumahnya berbunyi. Awalnya dia mengira itu Rex yang mungkin membawa kabar gembira tentang jadwal pemeriksaan yang dimajukan, tapi nyatanya ... Will. Tak jauh berbeda dengan kondisi Veronica yang berantakan, Will pun demikian. Bedanya, Will terlihat seperti kurang tidur akibat memikirkan hubungan mereka. Veronica agak terkejut melihatnya. Pada akhirnya tempat ini diketahui oleh pria ini. “Kau lagi ...” Will menahan pintu agar tak ditutup kembali. Dia mendorongnya, lalu memaksakan diri untuk masuk. “Kau bilang akan menghubungiku jika kau sudah mendapatkan informasi. Aku menawarkan bantuanku, Veronica, kenapa kau tak menghubungiku?” “Bagaimana kau bisa menemukan rumah ini?” “Itu tidak penting, jawab saja pertanyaanku ...” Will tertegun sejenak karena merasa aroma rumah ini sangat pengap. Dia juga heran melihat kondisi ruang tamu yang berantakan, penuh sampah kemasan plastik bekas camilan Veronica. “Apa-apaan kau ini? Sejak kapan kau menjadi sangat kotor?” “Bukan ...” Veronica ingin muntah lagi, tapi ditahan. “Urusanmu.” “Kau sakit?” Will spontan menyentuh wajah Veronica yang sangat tidak bertenaga. “Kau pucat sekali? Kenapa kau tidak mengabariku kalau sakit? Aku akan menelpon dokterku—” “Tidak ... perlu.” Veronica menepis tangan Will, lalu berbalik badan dan berjalan menuju ke dalam rumah. “Kalau kau datang kemari hanya untuk sok perhatian padaku, lebih baik pulang saja, dan jujur aku tak butuh bantuanmu. Aku masih ...” Rasa mualnya menyerang kembali. Dia berlari ke arah kamar mandi belakang tanpa mempedulikan Will. “Veronica?” Will sontak kaget. Dia ikut mengejar Veronica. Keningnya mengerut, pertanda sangat khawatir sekaligus panik. Selama mereka berkencan, wanita itu selalu menjaga pola makan sehingga tubuhnya senantiasa bugar dan tak pernah kelihatan pucat. Dia sedih, mengira mungkin ini karena Veronica terlalu banyak memikirkan masalah kematian ibunya. “Veronica?” panggilnya lembut sembari berjalan ke arah dapur, dan syok melihat kondisi ruangannya. Tempat ini kecil, interiornya modern, jadi jika kotor sedikit— maka akan kelihatan agak kumuh. Tidak tahan melihatnya, dia melepaskan jas, lalu dilempar ke arah kursi. Dia menggulung kedua lengan kemeja hingga siku, kemudian mengumpulkan piring dan gelas kotor ke dalam wastafel. Dia membersihkan sampah-sampah yang menggunung di meja. Setelah itu, dia mencuci semua perlengkapan makan yang menumpuk di wastafel tadi. Pekerjaan semacam ini bukan masalah oleh Will. Dia sudah lupa kapan terakhir kali menyentuh sabun cuci. Iya, dia pengusaha besar, benda yang paling dia sering pegang adalah pena untuk menandatangani dokumen dan ponsel. Veronica keluar dari kamar mandi, dan terdiam menatap Will membersihkan dapurnya. “Kenapa kau membersihkan dapurku?” Ia bertanya, yang lantas menghentikan kegiatan Will. “Tak usah sok peduli.” Will menoleh, tatapannya menjadi sayu ketika memperhatikan wanita itu masih mengenakan baju tidur sutra merah. Sekalipun dalam kondisi pucat, rambut berantakan, aura cantiknya masih terlihat. “Kau sakit 'kan? Jadi sebaiknya kau tidur saja, kita jangan berdebat— aku akan membereskan rumah ini. Aku juga akan menelpon dokter pribadiku,” sahutnya. “Tidak perlu, karena aku tidak sakit.” Veronica merasa letih, dia lantas menarik salah satu kursi yang mengintari meja makan, lalu duduk sembari menyandarkan punggung. Dia menghela napas panjang, dan tanpa sengaja, dia membelai perutnya. Will sempat curiga dengan tingkah Veronica, tapi dia sendiri yakin tidak mungkin wanita itu hamil, mengingat betapa ketatnya saat mereka berhubungan badan. “Kau bilang tidak sakit? Lihatlah dirimu, kau ... Sangat berantakan.” “Aku hanya stress dan lelah.” Veronica memang sedikit stress akibat kehamilan yang tidak diinginkan itu. “Karenamu.” Will mendekati Veronica, hendak memeriksa kondisi suhu tubuhnya melalui kening. “Kau sakit 'kan? Biar kuperiksa suhu tubuhmu.” Veronica menepis tangan Will dengan kasar. “Sudah kubilang, aku tidak sakit, aku hanya lelah! Dan jangan berani menyentuhku, aku sudah muak denganmu.” “Aku tidak percaya kau jadi sekejam padaku.” Will menghela napas panjang, sudah terbiasa menghadapi Veronica yang uring-uringan. Dia mencari cangkir di rak-rak sekitar meja, lalu teh dan s**u. “Akan kubuatkan teh kalau begitu. Duduklah.” “Jangan mengira kau berbuat baik, maka sikapku akan berubah.” Veronica memicingkan mata, tak mau hatinya luluh karena perlakuan baik Will. “Kau berniat buruk padaku 'kan? Ingin membunuhku? Setelah tahu siapa aku, aku ancaman, bukan? Sembari mengambil air di kran ke dalam teko, Will menegaskan, “kalau aku berniat membunuhmu, kau sudah mati dari kemarin, dan aku tidak perlu turun tangan langsung.” “Kau dan teman-temanmu memang licik.” “Tolonglah, Veronica, aku sekarang temanmu, jadi berhentilah memusuhiku. Aku berniat membantu, aku ... sungguh menyayangimu.” Dia takut Veronica marah jika dia mengatakan 'mencintai', alhasil dia terpaksa menggantinya dengan kata 'menyayangi'. Pada dasarnya dua kata tersebut memang dirasakan Will. Aroma parfum dari jas Will ternyata membuat Veronica mual kembali. Dahulu aroma ini sangat menggairahkan, tapi saat ini ... dia merasa kepalanya berputar-putar. Dia bergegas menuju ke arah kamar mandi kembali. Will makin curiga. Saat ia membuang bungkus teh, ada bungkus obat-obatan yang telah habis di tumpukan tong sampah. Bungkus kemasan obat itu memiliki tulisan resep dokter yang intinya diperuntukan untuk ibu hamil. Berdasarkan tanggal yang tertera, masih beberapa hari yang lalu mulai dikonsumsi. Begitu Veronica datang, Will langsung melempar bungkus obat kosong itu ke atas meja. “Kau hamil?” Ia bertanya. Veronica tak ada niatan menyembunyikan ini, jadi dia langsung mengaku, “iya, kenapa?” Kebahagiaan terlihat jelas menerpa diri Will. Matanya terharu, sementara bibir mengembang membentuk senyuman. Dia tidak menyangka kalau akan menjadi ayah, dan yang paling menggembirakan adalah anak itu akan lahir dari rahim Veronica, satu-satunya wanita yang dia cintai. “Aku tidak percaya ini,” ujarnya sembari menghampiri Veronica, lalu mendekapnya seerat mungkin. “Kita akan menjadi orang tua.” “Aku juga tidak percaya.” Jika Will bahagia, maka Veronica bertambah stress teringat kalau hamil. “Aku akan menjadi ayah. Veronica muak. Dia mendorong Will sangat keras. Melihat pria itu bahagia terasa sangat menyakiti hatinya. Dia pun berdusta, “hei, jangan salah paham, Tuan Pearson, aku memang bilang hamil, tapi aku tidak bilang ini anakmu 'kan?” “Apa maksudmu?” “Aku sudah bilang, aku berkencan dengan pria lain, ini anak Rex, kekasihku. Bagaimana mungkin aku hamil anakmu, sementara kita selalu memakai pengaman berlapis-lapis? Tidak mungkin 'kan?” Will masih sakit hati dengan keberadaan pria lain itu, tapi dia tetap tak mau mempercayai ucapan Veronica. Dia memperingatkan, “Kau jangan bohong, aku tahu itu anakku. Kau terlalu membenciku, Veronica, ini tidak adil, aku sudah memberikan bukti kami tidak bersalah, kenapa kau masih saja seperti ini? Jangan berbohong masalah seperti ini ... ini bukan masalah pribadi saja, ini masalah anak. Itu anakku juga, aku berhak tahu tentangnya...” “Blah, blah, blah,” sela Veronica memalingkan wajah. Ia marah, gelisah, sekaligus sedih. “Sampai aku menemukan pelaku yang sebenarnya, kau dan teman-temanmu akan kuanggap sampah. Jadi, jangan berpikir aku mau hamil dari pria sampah. Kau dengar itu, Kriminal? Jangan bahagia dulu ... anak ini adalah anak Rex.” “Itu anakku.” Will masih bersikeras. Dia tidak mau membayangkan pria lain tidur dengan Veronica. “Kau tidak mungkin mengkhianatiku, aku mengenalmu.” “Kau tidak mengenalku, Bodoh. Hanya karena aku menyerahkan keperawananku padamu, bukan berarti aku hanya tidur denganmu. Aku menyerahkan keperawananku padamu agar kau percaya padaku waktu itu. Intinya aku tidak mencintaimu sama sekali, aku mendekatimu untuk menyelidiki kalian lebih dekat.” “Itu dia, kau terobsesi pada kasus ibumu, matamu menjadi buta dan hanya menargetkanku, kau bahkan menyerahkan keperawananmu padaku, kau menjadikan aku sebagai objek dendam, artinya kau memang tidak peduli dengan pria lain. Bagaimana bisa kau hamil dengan orang lain, sementara fokusmu adalah balas dendam padaku?” Apa yang dikatakan oleh Will memang benar sampai-sampai membuat Veronica kehabisan bahan untuk berdusta. Kebenciannya pada Will dan teman-temannya membuat dia tidak bisa melirik pria lain. Dia tidak bisa bersenang-senang walau untuk sesaat. Pikirannya hanya tertuju pada Will. Will memahami kebisuan mendadak itu. Dia mendekati Veronica, berusaha untuk menyentuh perutnya. “Sayang ... tolong hentikan, kita bisa mendebat masalah lain, tak masalah, tapi tolong ini serius, ini anakku, aku yakin itu.” “Ah, jangan sentuh ... dan sudahlah.” Veronica mundur setiap kali didekati. “Tidak penting masalah anak ini karena aku akan menggugurkannya.” “Apa katamu?” Will tersentak kaget. “Aku tak bisa memiliki anak sekarang, tidak di saat aku harus menuntaskan misteri kematian ibuku. Tidak ... tidak bisa...” Veronica mendadak mual karena banyak pikiran. Ia mengingat kembali semua ini dilakukan demi sang ibu. Tanpa sadar, dia menggerutu lirih, “Tidak, apalagi anak dari pria b******k sepertimu.” Dia terdiam, merutuk diri sendiri karena mengatakan hal yang sesungguhnya. Will tersenyum lega. Dia sama sekali tidak tersinggung dipanggil b******k oleh Veronica. Malahan, dia bahagia mendengar kenyataan bahwa itu bayinya. “Iya, apa kubilang, itu memang anakku.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN