Prolog

511 Kata
"Apa ini mas?" Mataku menyipit melihat amplop berwarna coklat yang diberikan Mas Nino padaku di suatu sore. "Itu... surat perjanjian. Bacalah." Nada suara suamiku bergetar. Dia bahkan langsung menundukkan kepalanya. Kulihat ada kilat kesedihan di matanya. Kubuka amplop itu, k****a dengan perlahan. Nafasku tercekat. Sejujurnya aku sudah bisa menduga isi suratnya, tapi tetap saja aku tak menyangka, ini akan nyata terjadi. Aku mencoba tetap tegar, tersenyum ke arah suami tampanku, yang masih tetap menunduk tak mau melihat ke arahku. Tidak, tidak akan ada air mata mengalir. Air mataku sudah habis tiap malam saat aku bersujud pada-Nya, memohon ampun dan petunjuk. Tidak akan aku tunjukkan air mataku pada suamiku ini. "Kenapa aku tidak kamu ceraikan saja, Mas? Jadi kalian bisa lebih leluasa." Mas Nino melihat ke arahku. Terkejut. Mungkin dia kaget dengan reaksiku yang tampak biasa saja. Padahal, sungguh, aku ingin menjerit, melampiaskan semua kekesalan dan kekecewaanku padanya, suamiku, yang tega berselingkuh. Memangnya apa yang dia harapkan dari seorang istri yang diselingkuhi selain kekecewaan? Mas Nino menolak melihatku. Dia memalingkan wajahnya. Malahan dia yang menangis. Dia mengusap ujung matanya cepat, membuat satu bulir air matanya tidak jadi turun. "Ceraikan saja aku, Mas. Jadikan perempuan itu istri sahmu. Anak-anak, si kembar ikut bersamaku." Bahkan untuk menyebut nama perempuan itu pun lidahku kelu. Apa kurangku selama ini dibanding perempuan pelakor itu? Tidak ada! Aku merasa sudah melakukan tugas dan peranku sebagai seorang istri, seorang ibu, dengan baik dan sebagaimana mestinya. "Aku tak akan menceraikanmu. Tidak. Tidak mau." Kulihat tangan Mas Nino terkepal. Dia menggeleng keras, tapi dia masih belum mau melihatku. Masih menolak untuk melihatku. Kudekati dia, kutangkup wajah tampan suamiku, agar ia mau melihatku. Sambil tersenyum aku berkata, "Di agama kita, seorang lelaki bisa memiliki sampai empat istri asalkan dia bisa memenuhi persyaratan. Salah satunya bersikap adil. Bahkan Aisyah ra pun pernah cemburu pada istri Rasul SAW yang lain. Aku bukanlah Aisyah ra yang berakhlak sungguh mulia. Aku hanyalah seorang Rania. Dan kamu pun bukan Nabi yang bisa berbuat sungguh adil. Daripada kita sering bertengkar nantinya, akan timbul dosa, lebih baik kita bercerai." ~~~ Empat tahun berlalu sejak perceraian kami, lelaki itu sekarang ada di hadapanku. Dia yang dulunya sangat tampan, sekarang tampak sungguh berbeda. Badannya kurus, pipinya sungguh tirus. Rambutnya rontok. Dia tidak terawat. Dia sakit keras. Kanker menggerogotinya. Lelaki itu bersimpuh di hadapanku. Menangis memohon maaf dan ampunan dariku dan si kembar. Dia bilang umurnya tidak lama lagi. Dia hanya ingin tenang, ingin dekat dengan kami, keluarganya, sampai ajal menjemputnya. Dia bilang, karma datang padanya karena pengkhianatannya pada kami, anak istrinya. Padahal aku dan kedua anak kembarku, tidak pernah menyumpahinya. Aku terenyuh melihatnya. Hatiku menjerit, kasihan pada laki-laki itu, lelaki yang masih tetap kucintai. Tapi logikaku menolak. Sudah cukup penderitaan yang dia berikan pada kami. Apalagi ada seorang lelaki lain yang mau menerimaku apa adanya, dengan status janda dan menerima anak-anakku. Tapi... sekali lagi, perempuan itu lebih sering berpikir dan bertindak berdasarkan hatinya, bukan logikanya. Mas Nino atau Yogi? Mana yang harus kupilih? Cinta masa lalu atau masa depan? Pengabdian dan pengorbanan ataukah kebahagiaan? | | | Jakarta, 4 Mei 2019
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN