“Ran.. dari kapan kamu berjilbab?” tanya mamahnya.
“Belum lama ini mah, Rania sadar. Rania harus memperbaiki diri. Rania sekarang sudah besar mah”
Ibunya tersenyum. Ia tidak menyangka anaknya bisa menjadi semuslimah ini. Bahkan ia tidak pernah mengajarinya untuk memakai jilbab. Didikan darinya selalu ia padukan dengan tren yang sedang terjadi pada masanya.
“Menurut mamah, bagaimana Rania berjilbab mah?” Rania tersenyum sambil menatap wajah ibunya yang sudah lama tidak ia pandang.
“Itu bagus nak, mamah juga sadar. Mamah sudah salah mendidik Rania. Mamah merasa malu, kenapa mamah tidak pernah berpikiran untuk menutup aurat. Tapi mamah juga bangga Rania kini berjilbab”
“Mah, waktu mamah buat menutup aurat belum telat mah... Mamah masih ada kesempatan buat memakai hijab. Besok Rania ajak mamah untuk membeli jilbab ya mah..”
“Terima kasih sayang, mamah bangga punya kamu”
“Rania juga bangga punya mamah...”
“Mah, apa yang terjadi selama Rania tidak bersama mamah? Papah bagaimana? Papah di mana sekarang?”
“Mamah disadarkan oleh masalah nak, di saat mamah dan papah terus saling menyalahkan, kami sama sama saling merasa kehilangan kamu. Akhirnya mamah dan papah tidak lagi memikirkan cerai dan selalu mencari kamu. Namun usaha mamah dan papah gagal.”
“Terus sekarang papah di mana pah? Apa mamah tetap jadi bercerai?”
“Papah kamu sekarang kerja di kalimantan nak, papah ternyata terlilit hutang yang banyak. Papah kamu dulu punya hutang yang besar untuk menghidupi pacar papah. Mamah juga baru tau kalau papah ternyata selingkuh ketika mamah dan papah mencari kamu. Pacarnya telfon berkali kali ketika mamah di samping papah. Ketika mamah lengah akhirnya mamah membuka hp papah”
Mendengar yang di ucapkan ibunya itu Rania merasa sangat syok. Ia juga tidak pernah mengira kalau seorang ayahnya yang begitu tanggungjawab ternyata bisa selingkuh. Mamah Rania, ibu Vilda juga menceritakan banyak mengenai apa yang terjadi. Diam diam ternyata selingkuhan papah menggadaikan sertifikat rumah untuk keuntungannya sendiri. Ayahnya tidak dapat menebus sehingga rumahnya di sita. Kini pun ayahnya bekerja untuk melunasi hutang hutang yang selingkuhannya buat dengan mengatasnamakan nama ayahnya. Dengan alasan Rania mereka tidak jadi berpisah dan berusaha untuk memahami satu sama lain. Mereka belajar ikhlas. Menyatukan dua persepsi dan mengingat kesedihan penghiatan yang tidak mudah sudah terlewati tanpa terasa. Hingga kini mereka dapat saling menerima dan memperbaiki diri.
“Sudah mah tidak apa, mungkin itu cara Allah buat menyadarkan mamah dan papah” Rania tersenyum. Ia mengambil hikmah dari kejadian yang menimpa orang tuanya. Mungkin jaga jika tidak ada masalah waktu itu hidup mereka tidak akan puas. Mereka akan terus menumpuk harta hanya agar dipandang tetangga. Rania justru bersyukur orang tuanya dapat menyadari kesalahan hidupnya dan mau memperbaiki diri bersama sama walau dengan keterbatasan finansial.
“Mah, kapan papah akan pulang?”
“Pasti ia akan pulang secepatnya apabila papah tau Rania udah pulang”
Rania tidak sabar untuk bertemu dengan ayahnya. Rindu dengan ibunya sudah sedikit teoribati dengan bertemu dengannya. Namun rindu dengan ayahnya masih sangat menggebu. Ia sangat ingin untuk segera bertemu dengannya.
“Sebentar nak, mamah telfon ayah dulu.”
“Iya mah”
Tut tut tut...
Tut... tut..tut..
“Halo assalamu’alaikum, apa apa mah..”akhirnya panggilannya tersambung juga.
“Rania, kamu saja yang jawab. Biar nanti ia terkejut” ibunya berbisik bisik kepadanya
Mendengar ide dari mamahnya, ia mengikuti instruksinya. Sudah pasti nanti ayahnya akan kaget mendengarnya.
“Halo pah..”
“Loh mah, kok suaranya berbeda” suaranya terdengar seperti orang bingung. Sepertinya saran dari ibu Rania cukup berhasil.
Rania tidak menjawabnya dan menahan tawa dengan ibunya. Sesekali tawa mereka berhasil lolos masuk ke dalam panggilan.
“Halo? halo? kok diam?”
“Halo?”
Rania masih menghiraukan ucapan ayahnya. Ia kemudian mengalihkan ke panggilan vidio. Ayahnya yang melihat istrinya bersama seorang wanita berjilbab bertanya tanya. Sejak kapan istrinya memiliki teman berjilbab? Kurang lebih mungkin pertanyaan dalam batinnya seperti itu.
“Mah, loh kapan mamah punya kenalan orang berjilbab? Kok papah baru tau”
“Tidak pernah punya kenalan pah. Kata siapa mamah punya kenalan orang berjilbab” mukanya masih tetap datar. Ini demi kelancaran. Walaupun sebenarnya ia sangat ingin tertawa lepas melihat ekspresi suaminya.
“Lah terus siapa dia?”
Rania yang mendengar ucapan ayahnya dan ibunya hanya tersenyum menyimak. Ia juga tidak langsung memberi tahukan kalau dia adalah putrinya.
“Lah masa papah ngga kenal, coba di lihat lagi” ibunya masih terus tertawa.
Ayahnya mencoba memahami lagi. Ia melihat semua sisi wajah wanita itu. Sepertinya itu tidak asing. Wajahnya terus menampilkan kebingungan.
Rania yang berasa kasihan dengan ayahnya, di tambah ia sudah begitu kangen ingin melepas rindu dengannya akhirnya angkat bicara.
“Ayah masa lupa sama anaknya sendiri”
“Ya allah..”
Mendengar perkataan putrinya itu, ia baru menyadari kalau itu Rania. Rania terlihat lebih cantik mengenakan jilbab. Wajahnya terlihat lebih anggun. Apalagi ia mengenakan jilbab hyang sebelumnya tidak pernah ia kenakan. Hal ini yang menyebabkan ayahnya tidak mengira kalau itu anaknya.
“Papah kangen nak..” ayahnya berbicara dengan bercucuran air mata.
“Rania juga sangat merindukan papah”
“Rania minta maaf ya pah buat semua salah Rania..”
“Iya sayang, papah juga minta maaf, sabar ya nak besok papah akan pulang”
“Iya pah, hati hati di sana,”
Ibunya yang menyaksikan pertemuan antara ayah dan anak melalui panggilan vidio juga ikut meneteskan air mata. Ia bersyukur kini keluarganya kembali lengkap bahkan dengan versi yang berbeda. Kehidupan yang selalu di penuhi rasa syukur, kehidupan yang saling menyayangi dan kehangatan keluarga yang begitu sangat terasa.
***
“Assalamu’alaikum..”
“Tok Tok Tok!!!”
“Tok Tok Tok”
Hari masih begitu pagi. Tumben sekali ada yang bertamu sepagi ini. Rania yang sedang membantu ibunya di dapur segera keluar. Menemui tamu itu dan menanyakan maksud kedatangannya.
“Wa’alaikumsalam sebentar,” jawab Rania sembari membuka pintu.
Sosok lagi laki laki sudah mematung dengan tegak. Pungunggnya mengendong ransel. Sosok itu tersenyum melihat ke arahnya dan langsung mendekapnya.
“Anakku apa kabar..”
“Papah...”
“Syukurlah papah pulang, pah Rania minta maaf untuk semua salah Rania”
“Sudah lah nak, papah sudah memaafkanmu. Itu juga kesalahan papah”
Mereka masuk ke dalam rumah. Ibu Rania yang menyadari anaknya sedang terlibat obrolan ia keluar. Memastikan keamanan putrinya. Ia mengira putrinya berbicara dengan orang asing. Ternyata suaminya telah pulang. Ia langsung berjabat tangan dan mencium pungung tangan suaminya itu yang tidak lagi sehalus dulu. Kini telapak tangannya sedikit kasar. Menandakan pekerjaan yang ia lakukan kini tidak mudah. Bahkan itu memerlukan tenaga yang tidak sedikit.
Rania baru merasakan suhu kehangatan keluarganya sehangat ini. Rania bersyukur. Kini keluarganya telah berubah dari yang dulu. Rania tidak pernah menyangka akan merasakan hal semacam ini. Rania lega melihat orang tuanya yang bekerja sama untuk bertahan hidup setelah banyaknya cobaan yang mereka lalui.
“Nak, sejak kapan kamu berjilbab? Sungguh papah tidak bisa mengenalimu di telefon”
“Ada deh pah, sudah lumayan lama. Dan ternyata ini nyaman banget. Mamah juga katanya mau berjilbab juga mah”
Papah melirik ke mamah dengan manis. “Alhamdulillah, pasti mamah akan secantik Rania nanti”
Mamah yang mendengar perkataan papah tersenyum. Pipinya merona. Sepertinya mamah tersipu malu. Rania tertawa kecil. Mamah tidak menyadarinya jika putrinya tengah mengamati wajahnya diam diam.
“Nak, selama ini kamu tinggal di mana?”
Mendapat pertanyaan tersebut Rania berpikir. Sepertinya ia akan menyembunyikan masa kelamnya ketika berada di Amerika. Bagiamana pun juga jika orang tuanya mengetahui pati mereka akan merasa sangat terpukul. Rania memilih untuk menutup rapat aibnya. Bukankah Allah juga memerintahkan hambanya untuk menutup aib dari orang lain?
“Alhamdulillah Rania bertemu dengan gadis pesantren pah. Rania tinggal di pesantren milik gadis itu di Jawa Timur.”
“Ya Allah, ternyata kamu tinggal di pesanten nak. Papah tidak pernah menyangka kamu bisa tinggal di sana”
“Alhamdulillah pah, Alhamdulillah Rania pintu hatinya di buka”
***
“Bagaimana dengan yang ini mah?” Rania membentangkan kerudung dengan kedua tangannya. Bermaksud ibunya dapat melihat apa yang ia pegang dengan jelas.
“Eh coba sini nak, kayaknya ini bagus juga” mamah menimbang nimbang kerudung dengan warna coklat yang aku berikan. Perpaduan antara coklat tua dan moca terlihat sangat menarik.
Mamah masuk ke kamar pas. Rania ikut turut bersama mamah. Rania melihat mamah dari pantulan cermin. Sungguh mamah ternyata bertambah cantik ketika menggunakan jilbab. Mamah juga terlihat sangat nyaman menggunakan kerudung itu. Mamah akhirnya mengambil kerudung itu. Ia sangat menyukainya. Baik potongan maupun perpaduannya memang sangat cocok dengan wajah mamah. Rania juga memilihkan beberapa jilbab lain untuk mamah tercintanya.
***
“Subhanallah” papah kaget ketika menyadari mamah berada di belakangnya. Ia bukan kaget melihat kehadirannya yang tiba tiba. Dari kejauhan pun papah sudah mendengar kepulangan mereka dari obrolan mamah dan Rania lakukan. Papah kaget melihat sosok mamah yang kini terbalut penuh auratnya. Sungguh seperti bidadari surga.
“Gimana pah penampilan mamah?” mamah unjuk kebolehannya di depan papah, Mamah gerlagak layaknya model. Memperlihatkan kerudung yang ia kenakan.
“Wih, bener nih istri papah?” papah memandang dengan penuh kekaguman. Mamah merasa senang.
“Pah..”
“Iya nak ?” kini papah beralih kepada Rania. Ia tahu putrinya akan menyampaiakan sesuatu.
“Pah, lusa Rania ke pesantren lagi ya..”
“Loh cepat sekali nak,” papah tidak menduga kalau Rania akan secepat ini kembali ke pesantren.
“Iya pah, Rania mau menuntut ilmu lagi”
“Baiklah kalau begitu. Belajar yang benar. Papah juga lusa sudah harus kerja lagi. Kemungkinan nanti malam papah akan kembali ke tempat kerja papah”
“Iya pah, makasih banyak”
“Mah Rania minta maaf ya, Rania ninggalin mamah lagi buat sementara. Rania mau ke pesantren sambil berusaha merintis bisnis mah. Kalau mamah kangen mamah hubungi ponsel Rania ya mah..”
“Iya nak, tidak mengapa. Nanti jangan lupa ajarin mamah lagi tentang islam ya nak”
“Iya mah itu pasti” Rania tersenyum ke arah mamah dan papahnya secara bergantian.