Chapter 2 : Teman Bermuka Dua

1072 Kata
Awalnya Nirmala mengira bahwa ada sesuatu hal yang penting, ternyata para guru hanya menanyakan agenda dari para Osis saja. Setelah menyelesaikan urusannya di ruang guru, Nirmala kembali lagi ke kantin untuk memakan pesanan makanannya. Sesampainya di kantin, teman-temannya tengah asik mengobrol, segera Nirmala menghampiri mereka. “Hey!” Nirmala berniat mengejutkan mereka. “Yo! Akhirnya kau kembali!” ucap Kevin menyambut kembalinya Nirmala. “Ini makananmu,” sahut Putri, sembari memberikan Nirmala nasi goreng pesanannya. “Terima kasih.” Nirmala pun langsung menyantap makanannya, sambil sesekali membalas ucapan teman-temannya. . . . Arvin yang sedang menikmati waktunya dengan buaian semilir angin yang berhembus sahdu di atap sekolah. Teralihkan dengan kedatangan Bryan yang mengejutkannya. Dilemparnya Bryan dengan botol minumannya yang sudah kosong. Untungnya dengan sigap Bryan menangkap botol itu dan membawanya kembali ke Arvin. “Mengganggu saja kau!” ucap Arvin sambil memejamkan matanya dan mengacuhkan Bryan. “Ayo pulang! Kau mau sampai kapan di sini, semua orang sudah pergi pulang.” Bryan pun menegakkan dirinya kembali dan menendang Arvin supaya ikut bangun. Arvin mengerang kesal, namun tetap mengikuti perkataan sahabatnya itu untuk berdiri dan pergi dari sini. Mereka pun berjalan beriringan meninggalkan atap sekolah dan kembali ke kelas mereka untuk pulang. . . . Nirmala dan teman-teman Osisnya pun mengakhiri makan bersama mereka. Dan memutuskan untuk lekas pulang, mereka masih harua belajar untuk ujian esok hari. Mereka berpisah di tempat parkir sekolah, seluruh temannya pulang menggunakan kendaraan pribadi mereka, sedangkan Nirmala menunggu jemputan supirnya di depan gerbang sekolah. Nirmala pun berjalan sendirian ke gerbang depan, sambil melambaikan tangannya kepada teman-teman yang melewatinya. Saat sedang asik mendengarkan lagu melalui earphonenya, tiba-tiba Nirmala merasakan seseorang mendorongnya dari arah belakang, yang membuat Nirmala terjatuh tersungkur. Saat menoleh ke belakang, Nirmala melihat seorang pemuda yang menatap minta maaf padanya. “Oopss! Maafkan aku!” ucap pemuda itu langsung pergi lari, tanpa membantu Nirmala berdiri. Lalu, di belakang pemuda itu, disusul oleh seorang pemuda lain, yang juga berlari sambil meneriaki pemuda yang menabrak Nirmala. Dengan kesal Nirmala berdiri sendiri, “Dasar anak-anak badung itu!” gumam Nirmala dengan geram. Nirmala pun berdiri sambil menepuk-nepuk roknya yang kotor penuh dengan butiran pasir yang menempel. Sambil menghentakkan kakinya, Nirmala melanjutkan langkahnya menuju gerbang depan sekolahnya, dari jauh ia sudah melihat mobil supirnya ada di depan gerbang menunggunya. . . . Tiga hari kemudian, nilai hasil ujian Nirmala muncul. Wali kelasnya mulai membagikan selembar kertas yang meliputi nilai mereka semester ini. Biasanya, Nirmala akan menerima nilai terbaik di kelasnya. Saat namanya dipanggil pun, Nirmala dengan percaya diri berjalan ke depan untuk mengambil hasil ujiannya. Nirmala melihat raut wajah gurunya tidak seperti biasanya. Biasanya sang wali kelas akan dengan bangga memberikan lapor ujiannya. Namun, kali ini wali kelasnya memberikan wajah yang tertekuk saat memberikan laporan hasil ujian Nirmala, yang membuat Nirmala sedikit mengernyitkan dahinya. Nirmala pun memeriksa nilainya saat menerima laporan hasil ujiannya. Bola mata Nirmala membelalak ketika melihat nilai hasil ujiannya. “Bu, ini pasti ada yang salah!” ucap Nirmala saat melihat semua nilai ujiannya kosong. “Lembar ujianmu tidak ada, jadi pihak sekolah beranggapan bahwa kau tidak mengerjakan ujian!” jawab wali kelas Nirmala, Bu Lena. “Ta..tapi aku mengumpulkan ujian.” Nirmala dengan gugup memelintir ujung bajunya. “Bagaimana kau bisa menjelaskan tentang tidak adanya lembar jawabanmu?” tanya Bu Lena seperti menyudutkan Nirmala yang kebingungan. “Aku benar-benar mengerjakan ujian itu, Bu!” ucap Nirmala masih tetap kekeh dengan pendiriannya. Bagaimana mungkin dirinya tidak mengerjakan ujian, Nirmala beberapa hari ini tidak bisa tidur, karena belajar semalaman untuk ujian ini. Bu Lena pun tidak ingin mendengar alasan Nirmala, segera guru itu menyuruh Nirmala untuk kembali ke kursinya. “Nirmala, kenapa?” ucap Stevi saat Nirmala sudah duduk di kursinya. Nirmala hanya diam dan memberikan kertas laporannya kepada Stevi untuk dilihat oleh gadis itu. “Apa-apaan ini, bagaimana bisa nilaimu kosong?” timpal Stevi dengan wajah kesalnya yang tidak biasa. “Entahlah,” jawab Nirmala menundukkan kepalanya di atas meja, frustrasi dengan apa yang terjadi dengan nilainya. Tanpa ada siapapun yang menyadari entah mengapa Stevi diam-diam menyunggingkan senyum miring. . . . Hari ini sebelum pulang sekolah, sebagai tanda berakhirnya semester ini, semua murid di SMA Nusantara dikumpulkan di lapangan sekolah untuk mendengarkan pengumuman siapa saja yang aman dan yang masuk ke dalam kelas buangan. Dengan langkah gontai, Nirmala berjalan ke lapangan. Karena, langkahnya yang tidak fokus, gadis itu menyenggol seseorang pemuda saat berjalan. “Maaf,” gumam Nirmala pelan tanpa menoleh pada orang yang ditabraknya dan segera pergi berlalu. Saat tiba di lapangan, teman-teman Nirmala menyuruh gadis itu untuk baris di depan barisan kelas mereka. Nirmala pun tidak banyak protes dan segera memasuki barisan. Upacara pun dimulai, satu per satu nama siswa yang tetap di kelasnya disebutkan, hingga akhirnya nama siswa yang akan menempati kelas buangan disebutkan. “... Nirmala Arunika, ....” Semua orang terdiam saat nama Ketua Osis mereka di sebutkan sebagai orang yang akan dimendiami kelas buangan di sekolah mereka. Nirmala pun hanya menundukkan kepalanya lesu. . . . Arvin yang sebenarnya tidak peduli dengan upacara konyol yang diadakan sekolahnya ini, tapi tetap ikut berbaris untuk menemukan kesenangannya. Saat teman-temannya yang lain terdiam saat nama seseorang disebutkan akan menjadi teman barunya di kelas buangan. Arvin pun mengernyit. “Ehh Bro, kenapa?” tanya Arvin menoleh kepada Bryan yang ada di belakangnya. “Lah, lu gatau? Dia Ketos kita!” ucap Bryan tak habis pikir dengan sahabatnya yang bodoh itu. “Hah! Dia kan yang nabrak gue tadi!” balas Arvin sambil menunjuk Nirmala yang berbaris di barisan depan. Bryan pun memukul pelan kepala Arvin, “Bukan itu yang penting sekarang t***l, dia bakal sekelas sama kita. Seorang Ketua Osis sekelas sama orang buangan macam kita!” Bryan pun mencoba menjelaskan serinci mungkin kepada Arvin. “Iya, gue tau. Terus, kenapa heboh, biasa aja lah,” timpal Arvin balik memukul kepala Bryan. “Otak lu emang rusak!” jawab Bryan, akhirnya emosi berbicara dengan Arvin. Arvin hanya menyeringai senang bisa membuat sahabatnya itu emosi. Ya, Arvin sebenarnya tidak terlalu memikirkan adanya orang baru dikelas mereka. Toh, itu semakin menggambarkan bahwa nilai dan jabatan bukanlah apa-apa. Bahkan seorang Ketua Osis pun dapat terperosok ke kelas buangan sekolah mereka. Entah tikus mana yang menjorokkan gadis itu ke dalam kelas mereka. Seringai Arvin semakin melebar saat ia menyadari akan adanya pertikaian di sekolah ini, cepat atau lambat. Sisa dari pengumuman itu adalah nama-nama lama yang disebutkan untuk mendiami kelas buangan, termasuk nama Arvin dan Bryan ada di sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN