"Ah iya benar, aku memang mahasiswa," ucap Aline membenarkan.
Rasanya agak canggung berbicara dengan Aron, karena dia juga sesama mahasiswa. Aline memang mahasiswa abadi disana.
"Oh, aku Aron, disini lumayan dingin, aku akan naik ke pinggir."
Aron lalu berjalan ke pinggir air terjun, Aline sedikt tersenyum simpul, kalau Aron Vampir, kenapa merasa dingin?
"Kenapa tersenyum?"
Aron menatap bingung Aline.
"Katamu kau vampir?"
"Kau percaya?" Aron melepas jaketnya dan memerasnya karena basah.
"Nenek buyut kami, vampir."
Aron tertawa keras mendengar ucapan Aline yang tak masuk akal. Vampir menjadi duyung?
"Coba ceritakan, aku mau dengar."
"Kau tau kraken? Salah satu dari kraken jatuh cinta kepada manusia. Begitulah singkatnya."
"Lalu?"
"Anak pertama mereka adalah manusia, cantik seperti ibunya, namun sayangnya anak keduanya memiliki rupa yang buruk, namun hati yang baik. Karena itu, dia dipercaya menjaga lautan, dan dia menjadi duyung seutuhnya."
Aron mengangguk mengerti.
"Kau tau tidak? Vampir sepertimu akan lebih kuat jika meminum darah manusia."
"Iya, benar. Aku merasa kekuatanku bertambah setiap hari ketika meminum darah manusia. Dan aku ternyata memiliki kemampuan khusus. Tubuhku rasanya seperti lebih kuat dari sebelumnya dan bisa mengeluarkan kekuatan menakjubkan."
Kalau saja memang ada sejarah seperti itu, Aron lebih memilih tak peduli lagi, yang dia pikirkan adalah bagaimana menemukan mayat Helena. Siapa yang mengambilnya.
Bukan hal yang mudah bagi Aron untuk menemukan mayat Helena, jejaknya tidak ada satupun yang tersisa. Anehnya tidak ada jejak kaki di hutan ini. Aron telah mengelilingi seluruh penjuru hutan, yang ia temukan malah putri duyung cantik yang sedang asik mandi. Tubuhnya sangat membentuk dan sangat menggoda, tapi Aron tidak teralihkan dengan kecantikannya yang hampir mirip dengan girlband korea blackpink yang akhir-akhir ini sedang booming. Aron memijat pelipisnya, dia sudah tidak sanggup lagi mencari Helena. Bukan karena lelah, tapi tak tau kemana lagi dia harus mencari, kemana lagi dia bisa menemukan sahabat plus gebetannya yang menghilang? Apa dia harus kembali ke markas Alvaro? Tapi rasanya sesak disana dan menjijikan. Dia harus melihat berbagai hewan mati yang di awetkan dalam tabung. Seandainya saja Helena tidak dia ajak membeli handphone baru, dia tidak akan kebingungan seperti saat ini harus mencari Helena. Aline melihat Aron sangat iba, dia kebingungan dan frustasi. Wajahnya terlihat murung.
"Apa sebaiknya kau istirahat dulu? Kelihatannya kau sangat lelah." Aline mengambil tissue dan mengusap keringat Aron
"Apa kau tau Lin? Helena itu sangat berarti di hidupku. Dia sahabatku sejak SMA. Parahnya lagi, Akulah yang membunuhnya!" teriak Aron frustasi.
Aline sangat tahu Aron begitu terpukul karena Helena. Dia sangat kebingungan dan marah pada dirinya sendiri.
"Iya, aku sangat tahu. Tapi bagaimana kalau kita lebih baik mencari tempat tinggal dahulu? Ada baiknya kamu beristirahat dengan tenang dan mencari Helena perlahan. Aku akan menggunakan instingku untuk mencari keberadaan Helena. Bawa aku ke tempat kau meletakkan dia."
Aron menggendong Aline dan tersenyum simpul.
"Sudah siap? Aku akan berjalan cepat dan bisa saja kau akan pusing." Aron meraih tangan Aline menggenggamnya erat. Aline yang baru saja mengenal Aron merasa sangat spesial karena diperlakukan sangat lembut seperti ini. Meski seorang vampir Aline mampu merasakan Aron aura yang positif, dia bahkan tidak takut digigit oleh Aron. Aline malah merasa sangat nyaman dan ingin mengenal Aron. Bahkan wajahnya yang kini sangat dekat dengan Aron, dia merasa Dejavu, mirip dengan seseorang. Aline memperhatikannya sangat lekat, wajahnya seperti mirip dengan seseorang. Seperti wajah seseorang yang dulu dia puja. Kara. Dia mengerjapkan matanya menatap Aron, benar. Wajahnya sangat mirip dengan Kara, hanya saja rambutnya yang agak berbeda.
"Kara?" ucap Aline lirih. Namun rupanya Aron tak mendengarnya dan terus fokus berjalan. Kara, nama itu yang dulu menghiasi hidup Aline, bahkan dia datang ke pernikahannya. Dia juga melihat anaknya tumbuh. Sampai suatu saat Aline memutuskan untuk berhenti mengikuti keluarga Kara. Dia harus bisa mandiri dan move on dari Kara, karena Kara bukan ditakdirkan untuknya. Selama 86 tahun, Aline akhirnya menemukan sosok yang sama seperti Kara, tapi apakah memang ini yang ia inginkan? Bersama dengan orang yang sama dengan Kara? Atau hanya sebuah ambisi belaka karena tidak mendapatkan Kara yang sebenarnya.
"Disini." Aron melepaskan gendongan Aline dengan lembut. Dia masih ingat menaruh Helena ke tempat ini. Saat tubuh Helena kaku dan pucat darahnya terserap habis oleh Aron.
"Biar aku yang menerawangnya." Aline berjongkok, memejamkan mata, mengeluarkan energinya. Dia memegang tanah itu dan dia mencari selubung jiwa menemukan sosok Helena dalam penglihatannya. Lama, hampir lima belas menit Aline tetap pada posisinya, sedangkan Aron masih menunggu di belakangnya, dia melindungi Aline jika saja terjadi sesuatu. Kekuatan Aline lama tidak ia gunakan, tetapi dia masih bisa melatihnya.
"Rambut dia hitam panjang bergelombang?" tanya Aline. Dia telah menemukan hasil penerawangannya. Sosok perempuan itu tidak mati, dia juga berubah menjadi vampir, bahkan kekuatannya melebihi kekuatan Aron. Yang Aline tau Helena pergi ke arah selatan menuju area kampus.
"Iya! Apa sudah berhasil menemukannya?" Aron sangat antusias memperhatikan ucapan Aline. Dia memilih untuk diam menyimak Aline. Rasa penasarannya sudah sangat besar. Namun Aline malah pusing, tubuhnya bergetar dan limbung.
Bruk.
Pandangan Aline menjadi gelap dan dia merasa kelelahan, tubuhnya ambruk. Untung saja Aron ada di belakangnya menahan Aline.
"Lin? Aline?" Aron mengguncang tubuh Aline, tapi rupanya Aline tak kunjung sadar. Aron membawa Aline ke dekat air terjun, barangkali dengan dekat air itu Aline akan sembuh, tapi hasilnya nihil. Sudah hampir satu jam, tapi Aline tak kunjung sadar. Dia terus menutup mata dan tenang layaknya orang mati. Aron menyelimuti Aline dengan jaketnya dan menggosok-gosokkan tangan Aline. Mencoba memberikan kehangatan pada Aline.
"Ayo Aline, kumohon, bangunlah, bagaimana dengan Helena?" Aron mengusap dahi Aline, namun tak kunjung sadar.
Dia mengambil air dari air terjun lalu mengusapkan ke wajah Aline, berharap sensasi dinginnya air bisa membuatnya sadar kembali.
Aline mengerjapkan matanya menyerngitkan dahinya saat merasa aliran kekuatan dari air, dia membuka matanya, tepat wajah Aron di depannya. Dia gugup dan bersemu merah, malu ditatap Aron begitu dekat. Mata merah darahnya begitu pekat, dan membuat Aline kagum, ingin terus menatapnya. Tampan, mirip dengan Kara. Sifat lembutnya juga.
"Aline, bagaimana? Kau tak apa? Apa duyung perlu makan? Ayo kita membeli makan terlebih dahulu Lin! Aku tak mau kau mati dengan cara mengenaskan atau kelaparan."
"Aron, tak apa aku hanya sedikit kelelahan menggunakan kekuatanku."
***
“Apa kau vampir sungguhan?” tanya Aline ragu.
Aron mengangguk dan menunjukkan taringnya, tapi Aline malah tertawa. Wajah Aron yang sangat imut membuatnya terlihat tidak cocok dengan taring itu.
“Aku yakin itu gigi palsu.”
Aline tertawa mengejek Aron, melihat Aline yang tertawa, Aron tidak terima dan dia mencubit pipi Aline gemas.
“Aw!” pekik Aline.
Ada satu hal yang menjanggal dalam benak Aron, kalau saja Aline seorang putri duyung, kenapa dia lebih memilih berada dalam dunia manusia yang penuh kekejaman, penuh dengan peperangan, sebagian dari mereka memiliki hati yang buta. Aron hanya mengetahui duyung adalah makhluk abadi bersirip yang sangat kental dengan dunia mistis.
“Kau sendiri? Kenapa memilih menjadi manusia?” tanya Aron memandangi wajah Aline yang cantik berseri. Tidak ada yang bisa menandingin kecantikan duyung sepertinya, apalagi Aline adalah anak dari putri raja.
“Kau benar ingin tahu?” tanya Aline, dia mengembalikan buku bacaannya ke dalam rak lalu kembali duduk di depan Aron.
“Iya, kenapa?” Aron semakin penasaran dengan ucapan Aline, rasanya ada yang selalu Aline tutupi. Setiap kali Aron bertanya hal ini, Aline selalu berbelit.
“Kau tau? Aku benci harus bercerita ini, membuka luka masa lalu.”
Aline tertawa hambar, tersirat luka yang dalam yang dulu tersimpan, seperti mawar layu yang telah kering namun durinya masih tajam.
“Yasudah, simpan saja.”
Aron enggan memaksa Aline untuk bercerita, seketika pikirannya kembali kepada seseorang yang pernah bersemayam pada ruang hati Aron. Gadis elegan nan anggun bernama Helena. Kampus sempat gaduh karena hilangnya Helena, namun tidak ada satupun yang mencurigai Aron, dia hanya memilih diam dan mengikuti skenario drama sebagai pelaku yang tersembunyi.
“Terimakasih, aku memiliki sejuta rahasia dan masa lalu yang kelam, hanya saja aku tutupi dengan senyum yang tak akan pudar.”
Aline tersenyum kepada Aron, lalu menggandeng tangan Aron keluar perpustakaan.
“Ron, aku benci menjadi duyung, aku juga benci menjadi manusia, bisa kau ubah aku menjadi vampir?” tanya Aline.
“Aku juga benci menjadi vampir, aku benci menjadi manusia, bisa ubah aku menjadi duyung?” balas Aron.
Aline seketika tertawa atas ucapan Aron yang menirukannya, tertanya makhluk apapun mereka, sama saja memiliki rasa tidak puas.
“Kau mau dengar sebuah kisah legenda masa lalu?” tanya Aline.
Aron duduk kembali di lorong kampus, rupanya kampus agak sepi, hari mulai akan gelap.
“Horror?” tanya Aron langsung to the point, dia jenis laki-laki yang sangat takut film horor.
“Sedikit.”
Aron menggeleng, tak mau mendengar cerita Aline, disinilah uniknya Aron, dia vampir, yang selalu dianggap monster menakutkan bagi manusia, tapi dia sendiri takut pada dirinya sendiri, apalagi kisah horror.
“Jangan cerita aneh-aneh."
"Ini bukan cerita aneh, dengarkan aku. Total umurku, 86 tahun. Aku selalu hidup abadi, jadi aku tahu semua yang terjadi di kampus ini. Entah ini horor atau sesuatu yang aneh. Aku pernah melihat seekor kucing yang selalu mengikuti tuannya. Anehnya, kucing itu selalu mengikutiku, dia kucing hitam dengan tanda sabit di kepalanya. Yang paling aku merasa heran adalah, kucing itu tidak pernah mau memakan ikan yang kuberi. Lalu aku berkenalan dengan pemilik kucing itu. Pemuda tampan dan terlihat berkelas namun misterius, namanya Michaello. Dia selalu datang saat kampus ini sepi mahasiswanya, anehnya dia selalu duduk sendiri di kelas C3, aku tak tau apa yang dia cari, tapi dia selalu datang dengan kucing hitamnya itu. Aku merasa auranya sangat berbeda, dia bukan manusia biasa, sama seperti saat aku merasakan auramu. Mungkin kekuatanku hilang di dunia manusia, tapi aku memiliki insting yang sangat kuat. 15 tahun kemudian, lelaki itu menghilang. Aku tidak lagi menemukannya sejak ada badai banjir bandang. Dan aku sebagai duyung, saat itu meminta ayahku sang dewa laut untuk menyeimbangkan air di permukaan. Yang aku masih merasa janggal. Kemana lelaki itu pergi? Anehnya lagi, dia tidak terlihat menua sepertiku. Ah ya, satu lagi, kucing itu pernah menyelamatkanku saat aku hampir mati, aku hampir saja akan tertabrak bus besar tapi kucing hitam itu tiba-tiba menggingit ujung rokku dan membuatku menjauh dari bus itu. Saat itulah, aku merasa kucing itu adalah the Familiar, setidaknya harusnya aku mengucapkan terimakasih kepada kucing hitam itu, aku jadi tidak tega jika manusia selalu berasumsi bahwa kucing hitam itu adalah pembawa sial."
Aline mengambil napas sejenak lalu duduk di samping Aron. Sedangkan Aron hanya mengangguk, mencerna semua cerita Aline. Terdengar klise tapi Aline terlihat serius menceritakannya. Aron menjadi penasaran siapa lelaki itu.
"Mungkin lelaki itu The Familiar?" tanya Aron. Aline hanya tertawa hambar saat mendengar ucapa Aron, kisah fantasy dalam komik. Dan lagi, itu hanyalah khayalan penulis. Tapi kenyataannya vampir dan duyung pun memang ada. Bisa jadi, memang lelaki misterius itu pemilik The Familiar. The Familiar, karya Adam Jey Epstein dan Andrew Jacobson. Menceritakan hewan yang akan tunduk kepada empunya. Hewan itu adalah hewan khusus yang memiliki bakat bisa berbicara dengan manusia, hewan itu juga memiliki sihir yang menakjubkan untuk melindungi nyawa tuannya.
"Ah! Iya buku itu! Aku harus membacanya sampai habis, akan aku ungkap kebenarannya! Rupanya kau cerdas juga Ron!" ucap Aline. Dia bergegas menuju perpustakaan kembali lalu mencari buku fantasy itu, tapi sayangnya buku itu hilang, tidak ada pada tempatnya. Aron menjadi semakin penasaran, begitu juga dengan Aline yang masih sibuk mencari buku itu, yang jadi masalah adalah, baru saja mereka menyentuh buku itu, namun sekejap hilang. Bukannya itu menjadi semakin menguatkan dugaan mereka bahwa benar lelaki itu adalah salah satu klan The Familiar.
"Coba aku pinjam tanganmu," Aline menjulurkan tangannya, dia berniat untuk menelusuri letak buku itu. Terakhir kali buku itu telah disentuh oleh Aron, dia mencoba menerawang kemana buku itu. Kemampuan Aline yang masih bisa digunakan di dunia manusia hanya satu, melihat masa depan.
"A-AH!" pekik Aline, lalu dia melepas tangan Aron.
"Kenapa?" tanya Aron panik.
"Buku itu.. telah dibakar, beberapa menit yang lalu, tak jauh dari sini, ayo kita kesana!" Aline menarik tangan Aron menuju ke belakang halaman kampus mencari buku fantasy itu.
"Tu-tunggu! Aline!"
Dan benar, buku itu telah menjadi abu dalam semak hijau halaman belakang kampus, sekilas Aline dapat melihat kucing hitam menghilang dari pandangannya.
Kucing itu, kucing yang ia cari.
***
Kara keluar dari kamarnya lalu turun melihat Karen yang sedang bingung mengatasi akuarium yang bocor, perlahan airnya mulai akan habis, Kara melihat adiknya yang panik kembali lari ke kamar mengambil akuarium milikknya yang terisi gabus bulat kecil-kecil, dengan beberapa gulungan kertas didalamnya, akuarium kecil itu biasanya menjadi tempat beberapa gulungan kertas yang berisi genre cerita, fantasy, romance, horor, dan masih banyak lagi. Terkadang jika Kara bingung harus menulis apa, ia mengambil satu gulungan kertas itu untuk menentukan genre apa yang akan dia tulis. Kara menumpahkan seluruh isi akuarium ke lantai kamarnya dan turun kebawah, kali ini ia tak menggunakan anak tangga, ia langsung melompat dari atas melalui celah tangga, seperti superhero yang seketika datang melompat turun menyelamatkan ikan yang sulit bernafas, ia menggenggam koi dalam akuarium besar tersebut dan memindahkan kedalam akuariumnya lalu ia isi dengan air dari wastafel. Adiknya Karen yang melihat hal itu terkejut, Kara yang tiba-tiba melompat dari atas, bagaimana bisa kakaknya melompat tanpa cidera, mungkin karena panik segala hal jadi memungkinkan bagi Kara, pikir Karen. Ikan Koi itu kini selamat, mereka berdua tersenyum lega, ikan itu sangat berarti bagi mereka, peninggalan dari nenek.
Koi itu sekarang sudah bisa bernafas dan bergerak bebas kesana kemari dalam akuarium, coraknya yang putih merah, dan memiliki tanda hati tepat dikepala membuat ikan itu menjadi terlihat unik dan menggemaskan. Kara dan Karen segera membersihkan lantai diam-diam, tak mau orang tua mereka terbangun dan kembali ke kamar masing-masing. Saat Kara menaiki anak tangga yang ketiga, ia menoleh kebelakang, dilihatnya ikan itu, seolah tatapan mereka bertemu, ikan itu terdiam dan melihat Kara, Kara hanya tersenyum melihat ikan itu, ia sangat lega ikan kesayangannya masih hidup ia kembali mendekati akuarium itu dan mengambilnya, dibawanya ke kamar, barangkali ikan itu bisa memberikan inspirasi bagi Kara untuk menulis cerpen kali ini.
Akuarium itu ia letakkan disamping laptobnya yang masih menyala, ia masih menatap koi itu yang bergerak kesana kemari, namun lama – kelamaan ia melihat ikan itu seperti gelisah ke kanan kiri, mengitari akuarium, Kara berpikir ikan itu kurang oksigen, ia segera kekamar mandi mengisi bathub kamar mandinya dan memindahkan koi tersebut kedalam bathub kamar mandinya. Ia tidak tega jika Koi itu merasa semoit dalam akuarium kecil itu, rencananya ia akan membelikan akuarium baru untuk Koi itu. Koi itu kini lebih bebas kesana kemari, Kara mengamati tanda hati dikepala koi itu, ia ingat sekali pesan neneknya saat memberikan koi itu untuknya. Tanda hati dikepala koi itu adalah wujud cinta nenek pada cucunya, Kara dan Karen. Sudah semakin larut malam, ia kembali ke kamar dan merebahkan dirinya diatas kasur lalu memeluk erat gulingnya, tubuhnya meringkuk mengingat kembali kenangan dengan neneknya, sejak kecil oma selalu memanjakannya dan mjatuh dari sepeda saat masih 5 tahun, neneknya terlihat panik dan menggendongnya, saat itu kakinenyanyanginya mendidiknya untuk menjadi lelaki yang tangguh, ia teringat saat ia ya berdarah namun dengan sabar neneknya mengobatinya dan menghiburnya agar tidak menangis lagi. Mengingat omanya Kara jadi rindu, sambil memejamkan mata ia mengingat lagi kenangan lain bersama omanya, perlahan ingatan itu membawanya tertidur pulas dan menariknya ke alam mimpi.
Kara terbangun mendengar panggilan di handphonenya ia cepat angkat dan menerima panggilan itu, lalu segera mengambil sepasang pakaian dan handuk dari lemarinya lalu dia segera mandi. Namun ia menghentikan aktivitasnya mendengar suara perempuan mendengungkan nada, ia kira Karen mandi dikamarnya, ia menutup pintu kamar mandi lagi lalu turun namun ia terkejut saat melihat Karen yang sedang menaiki motor bersiap untuk berangkat kuliah,lalu kembali lagi keatas sambil membuka pintu kamar mandinya lagi, kali ini ia membuka dengan suara kencang, tak lagi mendengar suara perempuan itu, ia masih menebak nebak suara siapa yang ia dengar, lalu ia masuk membuka perlahan selambu bathub dan mendapati seorang perempuan berkaki sirip menghadap ke tembok, Kara terkejut dengan apa yang dilihatnya, ia menutup selambunya, lalu membuka lagi dan ternyata perempuan itu masih ada. Ia ragu dengan apa yang dilihatnya, tak berani mendekati perempuan itu, perempuan itu juga masih berdiam juga takut dengan Kara. Ia menerka bagaimana bisa ada putri duyung disini, lagipula itu kan hanya mitos, tak mungkin ada putri duyung, ia berpikir mungkin saja ada fans yang mengagumi beberapa tulisannya di majalah, lalu nekat masuk kamarnya dan menggunakan busana putri duyung. Lalu dibalik selambu Kara mencoba untuk berbicara dengan perempuan itu “Siapa kamu?” Namun perempuan itu tak membalas pertanyaan Kara, ia sibuk menutupi dirinya dengan rambutnya yang panjangnya sepinganggnya. Kara menunggu jawaban perempuan itu, namun tak kunjung mendapat jawaban, Kara kembali membuka selambu dan duduk dipinggiran bathub memberanikan diri, ia mengamati perempuan itu sambil tangannya mengepal didepan d**a, takut jika perempuan itu tiba-tiba menyerangnya, namun perempuan itu kini mencoba menghadapkan wajahnya pada Kara, ia mendongak dan menatap Kara yang juga menatapnya, tangannya menyilang didada menutup sebagian tubuhnya yang terbuka. Kara yang menyadari perempuan itu tak berbusana cepat-cepat memalingkan wajahnya dan memberikan handuknya, perempuan itu mengerti maksud Kara, ia melilitkan handuk membungkus tubuhnya. Kara mulai membuka suara memecah keheningan diantara mereka berdua.
“Jadi kamu siapa? Kenapa diam saja?” “A.. aku.. Aline”
“Kamu siapa? Kenapa kamu bisa nekat disini ?”
“Aku putri duyung, aku disini dari tadi malam” Jawaban Aline yang membuat Kara tertawa lalu kembali menatap Aline tak percaya. Melihat Kara yang tertawa tak percaya padanya ia cemberut menangkup air di tangannya lalu melemparkan air itu kepada Kara. Kara terdiam melihat Aline yang wajahnya merah cemberut, matanya mulai berair, sebelum Aline menangis Kara mengajaknya bicara lagi.
“Maaf, jangan marah, aku kira kamu fans ku yang suka dengan tulisanku. Kamu benar putri duyung? Coba buktikan padaku, berikan aku uang 1 Juta sekarang!”
“Kamu kira aku jin apa?? Aku ini putri duyung!” Aline semakin marah pada Kara dia mengambil air lebih banyak dan menyiramkannya pada Kara. Ia gemas bagaimana bisa Kara tak mengenalnya, padahal selama ini Kara dan Karen lah yang merawatnya, memberi makan dan menyelamatkannya kemarin. Kini Kara sudah basah kuyup, ia memengang tangan Aline menghentikan Aline yang menyiramnya. Lalu ia mendekatkan wajahnya pada Aline yang sedari tadi masih terlihat marah. Kali ini Kara ingin balas dendam, satu tangannya memegang kedua tangan Aline dan satu lagi tangannya mencipratkan air pada wajah Aline.
***
"Tidurmu nyenyak?" tanya Aron kepada Aline yang masih terlentang di atas kasur, malas bangun, terlalu nyaman.
"Ya, sangat nyenyak." Aline tertawa atas pertanyaan Aron, vampir dan duyung tidak tidur, tapi mereka berpura-pura memejamkam mata. Setidaknya tempat tinggal hanyalah untuk penyamaran mereka sebagai manusia.
"Permisii.." suara seseorang perempuan memgetuk pintu apartemen.
Aron membuka pintu itu, seorang perempuan paruh baya tersenyum kepadanya.
"Maaf, saya dari Aisen Property, ada peraturan jika laki-laki dan perempuan dalam satu apartemen wajib menyerahkan fotokopi buku nikah."
Aron mengerjapkan matanya, mencoba mencerna ucapan wanita ini, buku nikah? Apa itu artinya dia dan Aline harus menikah?
Aline menemui mereka dan berkata, "Ah, iya maaf. Kita masih bertunangan, sebentar lagi akan menikah, kami pasti segera memberikan fotokopinya."
Perempuan paruh baya itu menggeleng, dia tidak setuju dengan ucapan Aline.
"Tapi tetap saja kalian saat ini tidak bisa tinggal bersama, cepat kalian segera ke KUA, bukannya kalian akan lebih leluasa berhubungan jika sudah sah? Saya hanya memberi tau hal itu, kalau begitu saya permisi dulu, terimakasih."
Wanita itu berbalik dan pergi menjauh, mendatangi pintu lain.
"Aduh bagaimana ini?" Aron bingung, terlintas ide di kepalanya.
"Ah begini saja, aku beli lagi apartemen di lantai atas." Aron tersenyum kepada Aline, tapi Aline menggeleng.
"Buat apa juga aku memiliki apartemen sendiri? Sudahlah, ayo menikah!" Aline menggandeng Aron berniat membawanya menuju KUA. Tapi Aron menarik tangannya kembali.
"Pernikahan itu bukan suatu permainan." Aron menatap mata Aline serius.
“Hah? Memangnya salah kalau kita menikah?” tanya Aline.
Aron tertawa kecil atas pertanyaan Aline, bagaimana mungkin bisa menganggap pernikahan itu sesuatu yang enteng dan hal kecil. Menikah membangun rumah tangga satu untuk selamanya, bahkan Aron memiliki ketakutan untuk menikah, dia takut pernikahannya gagal seperti ayah dan ibunya. Kesetiaan dan kejujuran itu sangat mahal, hanya orang yang mengerti arti cinta sesungguhnya bisa mempertahankan sebuah pernikahan. Dia baru mengenal Aline dalam sebulan, dan juga Aline bukan manusia, meski Aron juga sekarang seorang vampir, dia selalu tidak mengerti bagaimana menjalankan hidup dengan Aline. Apakah nantinya anak mereka akan sama dengan Aron atau dengan Aline?
“Setidaknya, kita harus berpikir sebelum bertindak. Jangan gegabah.”
Aron menutup pintu apartemen dan menggiring Aline untuk masuk kembali ke dalam. Untuk sementara waktu, dia membiarkan Aline untuk tinggal dengannya. Rencana Aron membelikan apartemen bukanlah ide buruk, lagipula harta kekayaan ayahnya yang telah Aron keruk masih banyak tersedia. Apalagi hasil penjualan sertifikat rumah warisan ayahnya. Bisa dibilang dia anak yang durhaka, bahkan sampai kini dia belum lagi berkunjung ke rumah ibunya, meski ia telah memakan ayah tirinya. Dia tak tau bagaimana keadaan ibunya sekarang. Dia sudah menjadi monster, bahkan ibunya melihat sendiri bagaimana Aron menikmati darah ayah tirinya.
“Terserah!” Aline cemberut lalu masuk ke dalam kamar dengan bibir mengerucut. Memang laki-laki bukan makhluk yang peka dan mengerti jutaan kode wanita. Aron tidak memahami jika Aline memiliki rasa kepadanya, meski begitu Aron hanya diam mendengus, dia ingin kembali menjadi manusia, menikmati secangkir kopi hangat dan kue manis yang dia sukai. Sayangnya lidahnya terasa sangat pahit menyantap itu semua. Dia lebih berselera meminum darah. Aron menyalakan televisi dan mendengar kabar berita yang mengejutkannya. Beberapa nelayan di pesisir pantai dan para pemburu hewan di hutan ditemukan tewas tak berdaya, tubuhnya dingin kaku dan putih memucat, tubuh orang itu seperti kehabisan darah, namun tidak ditemukan tanda-tanda tubuh yang luka, hanya saja leher mereka yang seperti tergigit. Aron membelalakkan matanya saat melihat luka gigitan pada leher, mereka mengumumkan warga untuk lebih waspada, diduga ada hewan buas yang sedang menyerang. Dia bangkit lalu mengetuk pintu kamar Aline dengan panik.
“ALINE! BUKA PINTUNYA LIN! INI BAHAYA!” Alvaro mengetuk pintu Aline dengan panik. Tak lama Aline keluar dengan wajah malasnya, dia enggan menatap wajah Aron.
“LIN! Lihat berita sekarang!” Aron menarik pergelangan tangan Aline dan menggiringnya menuju ruang tamu, dia lalu menunjuk berita yang misterius itu.
“Hah? Bagaimana bisa? Total korban sudah 24 orang! Ini gila! Apa yang terjadi?” ucap Aline bingung.
“Aku menduga sesuatu, ada vampir buatan lain yang dilakukan oleh Alvaro, kita harus kesana sekarang!” ucap Aron.
Mereka menuju rumah Alvaro, jaraknya cukup jauh. Untung saja Aron bisa melakukan kemampuannya berjalan cepat, Aline yang kini berada dalam pelukan Aron jantungnya berdegup kencang, meski sudah sering dipeluk Aron untuk berjalan cepat, tapi masih saja dia tidak bisa terbiasa, jantungnya terus berdegup kencang, wajah Aron yang sangat dekat membuatnya gugup. Aron memang sangat mirip dengan wajah Kara, tampan dan memiliki hati yang baik. Bahkan sifat mereka juga sama, mungkin benar jika reinkarnasi itu ada.
“Ini rumahnya?” tanya Aline.
Terlihat rumah yang terlihat sederhana, namun sepi. Lampunya padam, Aline merasakan kekuatan aneh yang ada di dalamnya. Dia mencegah Aron untuk masuk ke dalam karena aura yang dirasakan Aline sangat mengusiknya.
“Tunggu.” Aline menjulurkan tangannya lalu memejamkan mata, mencoba menerawang isi kamar itu, rumah itu kosong. Dia membuka matanya lalu menatap Aron.
“Rumah ini kosong,” ucap Aline.
“Coba kau lihat dibagian bawah,” balas Aron.
Aline mengangguk dan kembali menerawang, kali ini tangannya ia arahkan ke bawah rumah, dia melihat seorang dokter berjas putih, tengah disekap oleh seorang wanita. Rupanya perempuan itu yang menyebarkan aura tidak baik.
“Ah!” Aline mundur terpental saat ada kekuatan yang menyerang kemampuannya. Aron menangkap tubuh Aline sebelum Aline terjatuh di tanah.
“Ada apa? Kau tidak apa-apa?” tanya Aron khawatir, sesaat keseimbangan Aline goyah. Dia merasa kepalanya sakit. Aron membawa Aline menjauh dari rumah itu, namun Aline menahan Aron.
“Tidak, kita harus masuk, wanita itu akan membunuh seorang dokter!” ucap Aline. Aron menyuruh Aline tetap diam diluar, namun Aline enggan, dia memaksa untuk masuk. Gelap, hampir tak terlihat. Itu yang dilihat Aline, namun Aron dapat melihat dengan jelas meskipun gelap. Hingga mereka sampai pada satu pintu, ruangan Alvaro. Tanpa permisi Aron segera mendobrak pintu itu, dan tampak Alvaro yang dicekik oleh seseorang yang ia kenal.
“HELENA!” teriak Aron. Pupil mata Helena membesar saat melihat Aron di hadapannya. Tangannya melepas cengkraman di leher Alvaro.
“Aron?” tanya Helena, matanya berkaca-kaca. Dia langsung menghambur pelukan kepada Aron. Dia mengira Aron telah mati karena kecelakaan itu.
“Kau tau? Aku sangat khawatir.”
Helena mengeratkan pelukannya kepada Aron, begitu juga dengan Aron yang mengeratkan pelukannya kepada Helena. Aline melihatnya agak terusik dengan mereka yang asik berpelukan, Aline juga tak tau siapa perempuan ini. Aline mengakui Helena berparas cantik dan menawan, tapi apakah mungkin kisah cintanya sama seperti 60 tahun lalu? Kara yang jatuh cinta pada perempuan lain. Kalau terus begini, kapan dia menemukan cinta sejatinya? Aline mundur dan keluar ruangan, dalam gelap dia meraba menuju keluar rumah. Hatinya sesak dan sakit.
“Bagaimana kau bisa hidup lagi?” tanya Aron kepada Helena sembari masih memeluknya erat.
“Harusnya aku yang bertanya! Bagaimana aku bisa berada di hutan?” tanya Helena
“Aku.. vampir..” lirih Helena.
Aron terkesiap, dia terkejut atas ucapan Helena, bagaimana bisa Helena berubah menjadi Vampir? Tatapan Aron beralih menuju Alvaro, dokter yang dulu mengubahnya menjadi vampir. Apa benar dia yang mengambil Helena dari hutan dan mengubahnya menjadi vampir?
***
“ARGH! Tumbuhan apa itu? Rasanya sangat menyakitkan!” Aron jatuh dan tergulung-gulung di atas tanah. Aline dan Helena menghentikan aktivitasnya lalu berjalan ke arah Aron, lengannya terluka oleh tumbuhan Pirancheus. Tumbuhan itu adalah tumbuhan berduri yang suci, racunnya akan mematikan para jiwa yang kotor. Termasuk vampir, para pemakan manusia. Helena berusaha menutupi luka Aron, dan Aline menggunakan kekuatannya, namun tidak berhasil. Aline akhirnya berjalan menuju sebelah barat hutan, mencari penyembuh luka Aron. Tumbuhan Porancheus, tumbuhan yang berkebalikan dengan Pirancheus, tumbuhan itu masih dalam satu famili namun memiliki fungsi yang berbeda, Piran menyakiti, jika Poran menyembuhkan. Namun tumbuhan itu sangat langka, bentuknya kecil dan daunnya menjari. Aline tidak mudah menyerah begitu saja saat semua mulai gelap. Keadaan di hutan semakin mencekam, sepi. Sebenarnya Aline juga takut terhadap hewan buas, apalagi kekuatan sihir duyungnya sudah tidak ada, hanya tersisa kekuatan insting yang dia miliki. Helena masih memangku kepala Aron, kini keringat Aron bercucuran dan tubuhnya pucat pasi. Dia terus mengingagu kesakitan. Helena tak tau apa yang harus dia lakukan, apalagi dia tak mungkin meninggalkan Aron sendirian di hutan ini. Helena menanti Aline yang sangat lama, dia juga takut sesuatu terjadi dengan Aline. Tak lama datang suara auman serigala. Insting Helena mulai bergerak, dia mencium hewan yang bukan biasa. Werewolf. Dia segera menyembunyikan Aron di balik semak. Tak lama hewan itu muncul. Helena membekap mulut Aron agar tidak mengeluarkan suara, namun indra penciuman werewolf sangat tajam.
Aline mencari Poran masih mengelilingi hutan ini, sayangnya dia masih belum berhasil. Entah kemana keberadaan Poran, tumbuhan itu kecil dan menjari. Seharusnya yang mencari Helena, bukan Aline. Penglihatan Aline mulai memudar saat tubuhnya lemas. Seekor tupai menghampirinya, dia lelah dan duduk di depan pohon. Dia mengelus tupai kecil itu, mengambilnya lalu memeluknya. Tanpa Aline sadari dia telah menyerap ingatan tupai itu, dia mengambil semua ingatannya. Aline kembali bangkit setelah mendapatkan informasi letak tumbuhan Porancheus.
“Terimakasih tupai kecil, aku berjanji akan kembali untukmu.” Aline mengecup dahi tupai itu. Si tupai berlari karena malu telah disentuh Aline.
Aline berjalan menuju Helof Hile, daerah hutan tempat tumbuh Porancheus, keadaan disini lebih terang, dia memetik daun itu, namun tiba-tiba muncul bayangan merah dari pohon oak disampingnya. Aline terkejut, dan menatap bayangan itu. Seorang perempuan cantik dengan bandana bunga dikepalanya dan sayap putih, persis seperti malaikat. Cantik dan sempurna.
“Kau telah memetik tanaman suci. Apa kau tau tanaman apa itu?” tanya perempuan itu kepada Aline.
“Ma-maaf, aku membutuhkan tanaman ini, untuk menyembuhkan temanku, dia terkena duri Pirancheus.”
“Pirancheus tidak akan pernah salah kebenarannya. Sama dengan selai bulan (Mondmarmalade) yang telah kau makan. Kau mantan duyung kan? Terlena karen cinta manusia, makhluk perusak bumi. Dan kini kekuatan sihirmu telah hilang.”
Aline tertegun dengan ucapannya, bagaimana dia bisa tau semuanya?
“Apa kau? Dewi Helofine?” tanya Aline hati-hati.
Konon dongengnya, dewi ini adalah dewi yang mengetahui segalanya, dia penyeimbang dunia tumbuhan dan lautan. Energi yang dia miliki adalah kekuatan tumbuhan dan dia menyatu dengan air.
“Ya, ternyata kau memang duyung yang cukup cerdas. Katakan kepadaku, apa aku perlu membunuhmu? Tongkatku sudah siap mengeluarkan sihir yang akan menjeratmu.”
Dewi Helofine menatap Aline penuh amarah, dia sangat membenci orang yang memetik dedaunan di hutan suci ini.
“Sungguh, aku memetik daun ini untuk menyelamatkan temanku yang sekarat, kumohon bebaskan aku. Biarkan aku menyembuhkannya.”
“Beri aku alasan, kenapa kau malah menyelamatkan vampir yang menjadi pemakan semua manusia? Apa aku tidak salah dengar? Apa kau sudah mempertimbangkan semua ini? Coba kau pikir jika terjadi kekacauan vampir dengan manusia? Bukankah bumi menjadi tidak seimbang? Masih ada dua jam untukmu berpikir sebelum temanmu Aron mati terkena racun.”
“Tapi dia itu kemari melewati hutan suci Arkelash ini untuk menuju Reitha, kau tau kan tempat suci para duyung? Reitha, tempat semua bisa memohon apapun, Aron dan Helena akan memohon menjadi manusia kembali disana. Jadi tolong, lepaskan kami.”
“Aku tidak bisa hanya terhasut dengan kata-kata, akan kuberikan tanaman itu kepadamu, dengan satu syarat.”
“Apa itu syaratnya? Jika aku sanggup akan aku penuhi.”
Tak lama Dewi Holfine mengeluarkan mantra dan seekor tupai ada di tangannya. Rupanya tupai itu bukan tupai biasa.”
“Bawa tupai ini sampai ke Reitha. Dia harus menyaksikan kedua vampir itu berubah menjadi manusia lagi. Aku akan menitiskan sihirku kepadamu. Agar kau bisa berjalan cepat dan menggunakannya saat terdesak. Ingat, saat terdesak.”
Aline menerima tupai itu lalu berjalan kembali menuju Aron, makin lama makin dekat dia mendengar auman serigala. Dia makin khawatir jika bangsa werewolf menemukan mereka.
“Tunggu!” teriak Aline
Dia menyiapkan sihirnya dan menggunakannya untuk mengusir werewolf. Aline tidak melakukan apapun yang menyakiti mereka, tapi dia berkomunikasi lewat batin untuk mengusir mereka. Tak lama semua serigala yang ada dihadapan mereka berbalik arah. Aline menghela napas lega, dan Helena berterimakasih kepadanya.
“Ini obatnya, aku minta maaf jika sangat lama."