Ellie mulai mencari buku yang sedang dia cari. Kata petugas perpustakaan, buku-buku soal misteri Werewolf ada di bagian belakang. Sungguh melelahkan jika harus ke belakang, tapi Ellie harus tetap melakukannya ini demi semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ada di pikirannya.
Satu buku menarik perhatiannya. Ellie mengambil buku tersebut dan membukanya, judulnya saja sudah menarik 'Shadow Werewolf' Ellie membaca bagian sampul belakangnya. Dia sepertinya harus membeli ini, walaupun dia tak tau pasti semua yang ada di dalam buku ini ada benarnya atau ada hoaks-nya.
***
Setelah selesai membeli buku, Ellie kembali masuk ke dalam mobil Kris. "Udah?"
Ellie mengangguk. "Beli buku apa?" tanya Kris.
"Em, cuman buku novel biasa." Ellie menyandarkan tubuhnya pada kursi mobil.
Kris tak menjawab, dirinya kembali bergulat dengan setiran-nya. Mobilnya berjalan membelah jalanan, sesekali dia menoleh ke arah Ellie yang sedang menutup matanya, sudah jelas kalau gadis itu tertidur. Cantik, satu kata yang dapat menggambarkan Ellie.
Sesampainya di depan rumah Ellie, gadis itu tak bergeming dari tempatnya. Walau Kris sudah berusaha membangunkannya terpaksa, Kris mengangkat tubuh Ellie masuk ke dalam rumah kediaman keluarga Ellie. Dia sudah sering melakukan hal ini, kadang juga Ellie berpura-pura tidur dengan alasan dia malas jalan.
"Kalian baru pulang?" tanya Laura. Kris menidurkan Ellie di sofa.
"Iya, Tan. Ellie tadi singgah buat beli buku," ujar Kris.
Laura mengangguk. "Kebiasaan dia tidur kalau pulang bareng kamu, maaf ya suka ngerepotin."
"Enggak apa-apa kok, kalau gitu Kris pulang ya, titip salam buat Ellie kalau bangun," ujar Kris.
Laura mengangguk dan mengantar Kris keluar rumah. Setelah kepulangan Kris, Laura kembali masuk ke rumah dia mencari buku apa yang dibeli oleh anaknya ini, jika saja Ellie membeli buku novel Laura akan memarahinya—karena anaknya ini sudah memiliki satu lemari isinya novel semua.
Laura mengernyitkan dahinya bingung, setelah membuka bukunya dia tersenyum tipis. Sepertinya anaknya ini sudah sangat kepo soal hal-hal yang berkaitan dengan werewolf. Ellie mengerjapkan matanya beberapa kali, dia terbangun dari tidurnya.
"Kris udah pulang?" tanyanya.
"Iya, udah pulang. Kamu sih bawaannya tidur mulu," ujar Laura.
Ellie menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari cengengesan tidak jelas. "Kan Ellie capek," keluhnya.
"Capek sih capek, cuman nyusahin orang mulu enggak boleh." Laura menyimpan buku yang tadi dibeli oleh Ellie.
"Mah ...."
"Hem?"
"Gimana buku yang Ellie beli? Cocok nggak? Mama kan, jarang banget jawab pertanyaan aku kalau aku nanya-nanya soal werewolf," kesal Ellie.
Laura menghela napasnya pelan. "Bukan begitu, tapi kamu kalau nanya harus liat tempat. Kamu dan Mama dulu berbeda," ujar Laura.
"Berbeda?"
"Iya, Mama dulu enggak kepo sama hal-hal mengenai werewolf."
"Di negara ini, ada 3 jenis yaitu manusia, werewolf, vampir. Kamu harus jaga diri dari manusia-manusia di luar sana, seiring berjalannya waktu semuanya akan kamu ketahui. Jadi enggak usah terlalu dipaksakan," ujar Laura mengusap kepala Ellie.
Ellie mengambil bukunya dan juga tasnya, dan masuk ke dalam kamarnya. Besok dia akan kembali ke kampus, haduh rasanya capek banget.
Angin malam kembali menyapa tubuh Ellie. Gadis yang tengah memainkan handphonenya sambil memakai earphone itu sibuk menikmati masa-masa istirahatnya. Dia hidup layaknya manusia, masih memakai handphone, memakai baju seperti manusia hanya beda keturunan saja.
Ellie menyimpan handphonenya dan beralih pada bukunya. Angin terasa sangat kencang malam ini, membuat jendela kamar Ellie terbuka. Dengan malas, Ellie menggerakkan kakinya berjalan menuju jendela luar. Satu suara dapat dia dengar. Hanya kata 'auhh' yang panjang. Ellie menutup jendela kamarnya dan kembali berbaring.
Pagi hari tiba, Ellie bangun lebih awal. Dia tak mau kena omel oleh orang tuanya lagi, setelah bersiap gadis dengan rambut yang dikuncir itu memakai sepatunya. "Aku pergi, Mah, Pah. Kris udah jemput," alibinya lalu pergi meninggalkan rumah.
Sebenarnya, Kris tidak menjemputnya dia hanya ingin lebih mandiri lagi. Ellie memesan taksi, setelah menunggu beberapa menit taksi pun datang.
***
Ellie berjalan seperti biasa melewati koridor kampusnya dia berjalan sambil memainkan handphone-nya. Sesampainya di kelas, lagi-lagi tatapan para kaum lelaki tertuju padanya, Ellie berjalan menuju bangkunya dan menatap Kris. "Anterin aku balik ya," bisik Ellie.
"Hem."
"Dingin banget sih kek es kutub Utara," kesal Ellie.
Satu kampus riuh, entah karena apa. Katanya ada mahasiswa baru. Ellie yang tak mau peduli dia hanya fokus kepada bukunya, duduk di dekat Kris membuatnya terus bergulat dengan buku-buku. Bukan karena mau bersaing, tapi Ellie tak bisa memainkan handphone di dekat Kris. Dia akan marah.
"Siapa mahasiswa barunya?" tanya Ellie.
"Mana aku tau," jawab Kris.
Ellie mendengus.
Setelah selesai bergelut dengan buku-bukunya Ellie berjalan menuju toilet, perutnya serasa mules sepertinya dia mau buang air kecil. Ellie berjalan, dia memutar bola matanya malas saat menengok ke belakang. Para lelaki yang mengikutinya.
"Kalian m***m ya! Aku mau ke toilet," kesal Ellie lalu berlari.
Brakh ....
Dua kali, kemarin dan hari ini Ellie menabrak seseorang dan berakhir tumbuhnya yang terhempas. Satu tangan terulur, Ellie menatap orang di depannya. Sama seperti kemarin, ternyata dia orang yang sama. "Maaf, maaf!" Ellie yang ingin melanjutkan larinya tertahan oleh lelaki tersebut.
"Kita belum kenalan," ujarnya.
"Enggak sempat! Aku mau ke toilet, entar cowok-cowok buaya itu ngikutin lagi," ujar Ellie berusaha melepas pegangan tangan lelaki—yang dia tabrak tadi.
"Eric."
Ellie menghela napasnya pelan. "Aku Ellie, oh ya berhubung kamu ada di sini. Mohon bantuannya, berdiri di sini kalau ada cowok yang mau masuk. Larang!" ujar Ellie lalu masuk ke dalam toilet tanpa menunggu jawaban dari Eric.
Eric menatap ke arah sekitar, sepertinya cewek yang tadi dia hadapi sedang menghayal. Eric yang tak peduli dengan permintaan Ellie dia kembali berjalan menuju kelasnya, dia duduk di kelasnya. "Ellie?" gumamnya. Namanya, seperti nama orang ... ah sudahlah!
Ellie yang keluar dari toilet, dia tak menemukan Eric yang berada di luar. "Dasar pelit," kesal Ellie lalu berjalan menuju kelasnya. Untung saja tidak ada orang yang masuk ke toilet tadi.
"Darimana?" tanya Kris.
"Dari tempat boker."
"Enggak ada jawabannya yang lebih bagus apa? Toilet misal—"
Belum sempat Kris melanjutkan ucapannya, dosen datang bersama dengan Eric, Ellie yang sempat tertunduk langsung mendongak saat melihat dosennya datang. "Dia adalah mahasiswa baru di kampus ini, Eric silahkan kenalkan dirimu."
"Eric Criss. C bukan K," ujarnya.
Ellie terdiam, mungkin Eric-lah yang menjadi perbincangan dari kemarin hingga sekarang. Ellie akui kalau Eric memang tampan dan memiliki tubuh layaknya model, tak jauh beda lah dengan kasta dari Ellie.
***