Eps 1

3722 Kata
 Setelah hasil rapat keluar, dan Sheila yang terpilih. Ternyata oh ternyata ada 2 tim yang akan turun mewakili sekolah. Dan masing-masing tim terdiri atas 2 orang.   Gue berharap enggak satu tim sama Sheila dengan alasan tertentu, takut menjadi enggak konsen saat olimpiade dimulai. Itu yang paling gue takutkan, tapi ternyata semua enggak sesuai dengan harapan gue.   Haha. Ternyata gue satu tim dengan Sheila, dan Ivan bersama dengan Elvina. Gue takjub sih, soalnya di antara kami, hanya Sheila lah, yang menduduki kelas 10. Setelah gue tau kabar dimana gue satu tim dengan Sheila.   Gue berjalan menuju kelasnya, entah kenapa gue pergi ke sini. Tanpa alasan yang jelas, semenjak Sheila hadir dalam hidup gue, terasa plin plan gue melangkah.   Tepat di depan kelas Sheila, beberapa anak kelas 10 menatap gue takjub oke, gue akui gue ganteng. Tapi ini tidak selamanya terpikir oleh kaum hawa seperti Sheila.   Semenjak gue dan dia bertemu, entahlah ada yang berbeda. Gue akui tingkat harga diri dia sangat terjunjung dengan sikap yang dia miliki.   Gue manatap Sheila yang juga sedang menatap gue.   "Ngapain lo ke sini?" tanya Sheila.   "Lo denger pengumuman dari hasil rapatkan?" tanya Gue   Sheila hanya mengangguk sebagai jawaban. "Dan lo juga tau kalau kita satu tim." Gue bersedekap.   "Iya tau, gue bisa baca dan bisa denger semuanya." Dia malah mengikuti gerakan gue, bersedekap.   Gue menaikkan sebelah alis gue. "Ngapain lo? Ngikutin gaya gue?" tanya Gue membuat dia menoleh.   "Emang di dunia ini, cuman lo doang yang bersedekap?" tanyanya sedikit emosi.   "Ngegas, yaudah deh. Tujuan gue ke sini cuman nyuruh lo belajar dengan baik! Karena saingan di lomba ini banyak, lo harus tau itu," jelas Gue.   "Tanpa lo beri tahu, gue juga tau." Sheila memutar bola matanya malas.   Gue menggeleng melihat tingkahnya, tanpa balasan gue pergi ninggalin dia.   "Eh!" teriaknya, membuat gue menoleh.   "Apa? Kangen?" tanya Gue pede.   "Kepedean," jawabnya.   "Terus apa?" tanya Gue lagi.   "Enggak jadi, sono pergi," ujarnya membuat gue kembali menggeleng.   Gue kembali ke kelas yang di mana sudah ada Agam di sana, duduk dengan manisnya sambil membaca buku novel tebal.   Gue duduk di sampingnya membuat dia berhenti membaca. "Dari mana lo?" tanya Agam.   "Kepo." Agam menutup bukunya.   "Emang," jawabnya.   "Dari kelas Sheila, kasih tau buat belajar soalnya, olimpiade dimulai besok." Gue menjelaskan.   "Oh iya besok. AH BESOK? oh iya," ujar Agam sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.   "Kenapa sih lo? Aneh tau enggak," ujar gue.   Gue yang baru beberapa menit di dekat Agam langsung muak memilih untuk keluar kelas. Hari ini terlalu banyak free buat kelas gue.   Gue berjalan menuju lapangan, sesekali celingak-celinguk kayak orang gila tapi tampan.   Gue menyipitkan mata gue saat tau orang yang berdiri di depan ruangan guru adalah Sheila. Gue acuh, memilih tak peduli. Mungkin dia ada urusan atau kepentingan lain.   Hari mulai sore, waktunya gue istirahat dan pulang. Cukup lelah, berada di sekolah ini. Tanpa gue sadari, gue udah lama enggak balapan, tapi ya. Mungkin saat ini mau fokus untuk olimpiade dulu.   Tak cukup waktu yang lama, gue sudah berada di depan gerbang rumah milik Agam. Gue tersenyum singkat lalu masuk ke dalam, tepat di ruang tamu sudah ada Agam dengan benda pipih berbentuk kotak itu.   "Cepet banget lo pulangnya," ujar Gue.   "Lo aja yang lama," jawabnya tanpa menoleh ke arah gue.   Gue menggeleng, lalu naik untuk mengganti pakaian gue, setelah itu turun kembali untuk makan sekaligus belajar.   "Lo enggak ngajak si Sheila belajar bareng?" tanya Agam saat gue lagi asyik makan.   "Hem, dia bisa belajar sendiri." Gue kembali melahap makanan gue   Setelah suapan terakhir gue duduk di samping Agam, lalu membuka beberapa buku yang siap buat di pelajari.   Agam cukup membantu gue belajar dengan memberikan beberapa soal, lalu gue yang jawab untuk melatih hari esok yang penuh dengan pertanyaan.   "Fiks lo enggak usah belajar udah pintar," ujar Agam membuat gue besar kepala.   "Tapi boong." Lanjutan itu membuat gue menoyor kepala Agam.   "Canda, emang otak lo enggak usah diragukan deh, mending jual aja terus beli motor. Gimana?" tanya Agam lagi membuat gue ingin menebas kepalanya.   "Santai aja kali tuh muka, gue cuman bercanda. Hidup itu enggak semestinya diisi dengan hal serius doang, isi dengan candaan baru kehidupan itu berwarna," jelas Agam panjang kali lebar   Gue tak menggubris perkataan dari Agam memilih untuk tutup mata dan masuk ke alam mimpi.   Cuman 30 menit untuk tidur, gue kembali membuka mata saat adzan magrib berkumandang. Agam mengajak gue untuk sholat di mesjid.   Dengan cepat gue mengambil wudhu dan siap-siap ke mesjid.     ***   Kembali pada keadaan malam, gue kembali membuka buku gue membaca ulang lalu mengerjakan beberapa soal untuk latihan.   Di tengah kegiatan gue, Agam mengajak gue untuk makan malam.   "Udahlah, gue yakin lo bakal menang," ujar Agam.   "Belum tentu, Gam. Banyak di luaran sana orang yang lebih jago dan lebih pintar dari gue. Gue akui itu," jelas Gue membuat Agam mengangguk lalu memilih untuk kembali makan.   Terjadi keheningan hanya ada suara adu sendok. Setelah selesai, gue kembali ke ruang tamu dan membuka handphone gue. Bermain game, sambil menunggu kantuk tiba.   Beberapa jam setelah bermain, gue ngantuk memilih untuk naik dan tidur.   ***   Tring!!   Bunyi jam weker terdengar nyaring di telinga gue. Membuat gue bangun dan masuk ke kamar mandi, sholat lalu bersiap untuk ke sekolah.   Mungkin pagi ini gue lebih bersemangat, karena lagi-lagi berjuang untuk mengharumkan nama baik sekolah.   "Gue duluan ya, Gam!" ujar Gue tanpa menunggu balasan dari Agam, gue langsung berlalu pergi.   Sekitar 15 menit perjalanan, gue tiba di sekolah. Gue lirik jam tangan, ternyata baru jam 07.01 WIB.   Saat gue masuk, sudah ada Sheila yang duduk sambil memegang buku catatan.   "Cepet juga lo datang," ujar Gue.   "Gue deg-degan," ujar Sheila membuat gue menoleh.   "Kenapa? Giliran ngamuk ke gua enggak ada takutnya enggak ada deg-degannya, giliran gini malah deg-degan," ujar Gue panjang kali lebar.   "Beda situasi," ujarnya tanpa menoleh ke arah gue.   "Tenang, lagian lo enggak sendiri. Ada gue," ujar Gue membuat dia menoleh dengan tatapan sulit diartikan.   "Ngapa lo natap gue kek gitu?" tanya Gue seketika dia membuang pandangannya.   Setelah berbincang dan menemui guru, kini saatnya mereka tiba di tempat olimpiade.   Banyak kamera yang terpasang, dijejeran tempat Sheila dan gue berada. Gue merasa ada yang aneh dengan Sheila lalu gue dengan cepat bertanya.   "Kenapa? Ada yang salah?" tanya gue pelan.   Dia menggeleng.   "Terus kenapa lo kek gugup gitu?" tanya gue.   "Hem, gue cuman malas dengan kamera, benda yang membuat gue trauma akan satu hal."   FLASHBACK ON   "Sheila enggak mau, Mah!" teriak Sheila dengan isakan.   "Kamu harus mau! Ini juga demi keuangan kita dan juga agar kamu bisa terkenal bukan?" tanya Mama Sheila—Reina   "Sheila enggak perlu terkenal untuk hidup, Mah!" teriak Sheila lagi.   "Kalau Mama bilang, harus ya harus! Kenapa kamu jadi ngelawan gini?" tanya Reina.   Hiks ... hiks ....   "Kamu enggak boleh paksa anak kita untuk menjadi apa yang kamu inginkan!" ujar seorang paruh baya dengan suara berat yakni papa Sheila—Bara.   Sheila dengan cepat bersembunyi di belakang Bara.   "Kamu tidak perlu ikut campur, Pah! Aku sebagai Mamanya lebih tau dari pada kamu!" bentak Reina tepat di hadapan Bara membuat Sheila bertambah takut.   "Kalau saya bilang enggak ya enggak! Kamu jangan memaksa dia!" ujar Bara.   "Kamu juga tidak boleh melarang saya! Kalau kamu melarang saya! Saya minta cerai! Kita enggak pantas bersama, kamu tidak bisa memenuhi semua kebutuhan yang harusnya terpenuhi baik bagi saya maupun Sheila!" jelas Reina.   "Jangan Mah, Pah, kalian enggak boleh pisah," ujar Sheila dengan tangisnya.   Bara mengelus pelan urai rambut Sheila. "Dari pada kamu terpaksa? Mending seperti ini Nak," jelas Bara.   Hiks ... hiks ....   FLASHBACK OFF   Gue mencerna semua cerita dari Sheila tanpa sadar gue mengelus pelan pundak dia dan menghapus air matanya.   "Anggap kamera itu ada benda biasa, fokus sama tujuan jangan fokus sama kelemahan kamu? Oke?" tanya Gue pelan membuat dia mengangguk. *** Setelah hasil rapat keluar, dan Sheila yang terpilih. Ternyata oh ternyata ada 2 tim yang akan turun mewakili sekolah. Dan masing-masing tim terdiri atas 2 orang.   Gue berharap enggak satu tim sama Sheila dengan alasan tertentu, takut menjadi enggak konsen saat olimpiade dimulai. Itu yang paling gue takutkan, tapi ternyata semua enggak sesuai dengan harapan gue.   Haha. Ternyata gue satu tim dengan Sheila, dan Ivan bersama dengan Elvina. Gue takjub sih, soalnya di antara kami, hanya Sheila lah, yang menduduki kelas 10. Setelah gue tau kabar dimana gue satu tim dengan Sheila.   Gue berjalan menuju kelasnya, entah kenapa gue pergi ke sini. Tanpa alasan yang jelas, semenjak Sheila hadir dalam hidup gue, terasa plin plan gue melangkah.   Tepat di depan kelas Sheila, beberapa anak kelas 10 menatap gue takjub oke, gue akui gue ganteng. Tapi ini tidak selamanya terpikir oleh kaum hawa seperti Sheila.   Semenjak gue dan dia bertemu, entahlah ada yang berbeda. Gue akui tingkat harga diri dia sangat terjunjung dengan sikap yang dia miliki.   Gue manatap Sheila yang juga sedang menatap gue.   "Ngapain lo ke sini?" tanya Sheila.   "Lo denger pengumuman dari hasil rapatkan?" tanya Gue   Sheila hanya mengangguk sebagai jawaban. "Dan lo juga tau kalau kita satu tim." Gue bersedekap.   "Iya tau, gue bisa baca dan bisa denger semuanya." Dia malah mengikuti gerakan gue, bersedekap.   Gue menaikkan sebelah alis gue. "Ngapain lo? Ngikutin gaya gue?" tanya Gue membuat dia menoleh.   "Emang di dunia ini, cuman lo doang yang bersedekap?" tanyanya sedikit emosi.   "Ngegas, yaudah deh. Tujuan gue ke sini cuman nyuruh lo belajar dengan baik! Karena saingan di lomba ini banyak, lo harus tau itu," jelas Gue.   "Tanpa lo beri tahu, gue juga tau." Sheila memutar bola matanya malas.   Gue menggeleng melihat tingkahnya, tanpa balasan gue pergi ninggalin dia.   "Eh!" teriaknya, membuat gue menoleh.   "Apa? Kangen?" tanya Gue pede.   "Kepedean," jawabnya.   "Terus apa?" tanya Gue lagi.   "Enggak jadi, sono pergi," ujarnya membuat gue kembali menggeleng.   Gue kembali ke kelas yang di mana sudah ada Agam di sana, duduk dengan manisnya sambil membaca buku novel tebal.   Gue duduk di sampingnya membuat dia berhenti membaca. "Dari mana lo?" tanya Agam.   "Kepo." Agam menutup bukunya.   "Emang," jawabnya.   "Dari kelas Sheila, kasih tau buat belajar soalnya, olimpiade dimulai besok." Gue menjelaskan.   "Oh iya besok. AH BESOK? oh iya," ujar Agam sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.   "Kenapa sih lo? Aneh tau enggak," ujar gue.   Gue yang baru beberapa menit di dekat Agam langsung muak memilih untuk keluar kelas. Hari ini terlalu banyak free buat kelas gue.   Gue berjalan menuju lapangan, sesekali celingak-celinguk kayak orang gila tapi tampan.   Gue menyipitkan mata gue saat tau orang yang berdiri di depan ruangan guru adalah Sheila. Gue acuh, memilih tak peduli. Mungkin dia ada urusan atau kepentingan lain.   Hari mulai sore, waktunya gue istirahat dan pulang. Cukup lelah, berada di sekolah ini. Tanpa gue sadari, gue udah lama enggak balapan, tapi ya. Mungkin saat ini mau fokus untuk olimpiade dulu.   Tak cukup waktu yang lama, gue sudah berada di depan gerbang rumah milik Agam. Gue tersenyum singkat lalu masuk ke dalam, tepat di ruang tamu sudah ada Agam dengan benda pipih berbentuk kotak itu.   "Cepet banget lo pulangnya," ujar Gue.   "Lo aja yang lama," jawabnya tanpa menoleh ke arah gue.   Gue menggeleng, lalu naik untuk mengganti pakaian gue, setelah itu turun kembali untuk makan sekaligus belajar.   "Lo enggak ngajak si Sheila belajar bareng?" tanya Agam saat gue lagi asyik makan.   "Hem, dia bisa belajar sendiri." Gue kembali melahap makanan gue   Setelah suapan terakhir gue duduk di samping Agam, lalu membuka beberapa buku yang siap buat di pelajari.   Agam cukup membantu gue belajar dengan memberikan beberapa soal, lalu gue yang jawab untuk melatih hari esok yang penuh dengan pertanyaan.   "Fiks lo enggak usah belajar udah pintar," ujar Agam membuat gue besar kepala.   "Tapi boong." Lanjutan itu membuat gue menoyor kepala Agam.   "Canda, emang otak lo enggak usah diragukan deh, mending jual aja terus beli motor. Gimana?" tanya Agam lagi membuat gue ingin menebas kepalanya.   "Santai aja kali tuh muka, gue cuman bercanda. Hidup itu enggak semestinya diisi dengan hal serius doang, isi dengan candaan baru kehidupan itu berwarna," jelas Agam panjang kali lebar   Gue tak menggubris perkataan dari Agam memilih untuk tutup mata dan masuk ke alam mimpi.   Cuman 30 menit untuk tidur, gue kembali membuka mata saat adzan magrib berkumandang. Agam mengajak gue untuk sholat di mesjid.   Dengan cepat gue mengambil wudhu dan siap-siap ke mesjid.     ***   Kembali pada keadaan malam, gue kembali membuka buku gue membaca ulang lalu mengerjakan beberapa soal untuk latihan.   Di tengah kegiatan gue, Agam mengajak gue untuk makan malam.   "Udahlah, gue yakin lo bakal menang," ujar Agam.   "Belum tentu, Gam. Banyak di luaran sana orang yang lebih jago dan lebih pintar dari gue. Gue akui itu," jelas Gue membuat Agam mengangguk lalu memilih untuk kembali makan.   Terjadi keheningan hanya ada suara adu sendok. Setelah selesai, gue kembali ke ruang tamu dan membuka handphone gue. Bermain game, sambil menunggu kantuk tiba.   Beberapa jam setelah bermain, gue ngantuk memilih untuk naik dan tidur.   ***   Tring!!   Bunyi jam weker terdengar nyaring di telinga gue. Membuat gue bangun dan masuk ke kamar mandi, sholat lalu bersiap untuk ke sekolah.   Mungkin pagi ini gue lebih bersemangat, karena lagi-lagi berjuang untuk mengharumkan nama baik sekolah.   "Gue duluan ya, Gam!" ujar Gue tanpa menunggu balasan dari Agam, gue langsung berlalu pergi.   Sekitar 15 menit perjalanan, gue tiba di sekolah. Gue lirik jam tangan, ternyata baru jam 07.01 WIB.   Saat gue masuk, sudah ada Sheila yang duduk sambil memegang buku catatan.   "Cepet juga lo datang," ujar Gue.   "Gue deg-degan," ujar Sheila membuat gue menoleh.   "Kenapa? Giliran ngamuk ke gua enggak ada takutnya enggak ada deg-degannya, giliran gini malah deg-degan," ujar Gue panjang kali lebar.   "Beda situasi," ujarnya tanpa menoleh ke arah gue.   "Tenang, lagian lo enggak sendiri. Ada gue," ujar Gue membuat dia menoleh dengan tatapan sulit diartikan.   "Ngapa lo natap gue kek gitu?" tanya Gue seketika dia membuang pandangannya.   Setelah berbincang dan menemui guru, kini saatnya mereka tiba di tempat olimpiade.   Banyak kamera yang terpasang, dijejeran tempat Sheila dan gue berada. Gue merasa ada yang aneh dengan Sheila lalu gue dengan cepat bertanya.   "Kenapa? Ada yang salah?" tanya gue pelan.   Dia menggeleng.   "Terus kenapa lo kek gugup gitu?" tanya gue.   "Hem, gue cuman malas dengan kamera, benda yang membuat gue trauma akan satu hal."   FLASHBACK ON   "Sheila enggak mau, Mah!" teriak Sheila dengan isakan.   "Kamu harus mau! Ini juga demi keuangan kita dan juga agar kamu bisa terkenal bukan?" tanya Mama Sheila—Reina   "Sheila enggak perlu terkenal untuk hidup, Mah!" teriak Sheila lagi.   "Kalau Mama bilang, harus ya harus! Kenapa kamu jadi ngelawan gini?" tanya Reina.   Hiks ... hiks ....   "Kamu enggak boleh paksa anak kita untuk menjadi apa yang kamu inginkan!" ujar seorang paruh baya dengan suara berat yakni papa Sheila—Bara.   Sheila dengan cepat bersembunyi di belakang Bara.   "Kamu tidak perlu ikut campur, Pah! Aku sebagai Mamanya lebih tau dari pada kamu!" bentak Reina tepat di hadapan Bara membuat Sheila bertambah takut.   "Kalau saya bilang enggak ya enggak! Kamu jangan memaksa dia!" ujar Bara.   "Kamu juga tidak boleh melarang saya! Kalau kamu melarang saya! Saya minta cerai! Kita enggak pantas bersama, kamu tidak bisa memenuhi semua kebutuhan yang harusnya terpenuhi baik bagi saya maupun Sheila!" jelas Reina.   "Jangan Mah, Pah, kalian enggak boleh pisah," ujar Sheila dengan tangisnya.   Bara mengelus pelan urai rambut Sheila. "Dari pada kamu terpaksa? Mending seperti ini Nak," jelas Bara.   Hiks ... hiks ....   FLASHBACK OFF   Gue mencerna semua cerita dari Sheila tanpa sadar gue mengelus pelan pundak dia dan menghapus air matanya.   "Anggap kamera itu ada benda biasa, fokus sama tujuan jangan fokus sama kelemahan kamu? Oke?" tanya Gue pelan membuat dia mengangguk. *** "Gue udah bilang sama lo, Shei. Fokus sama olimpiadenya, jangan sama kameranya!" Gue membentak Sheila.   Sheila menggeram tertahan. "Gue punya trauma dengan kamera! Lo bisa mikirin perasaan gue, nggak, sih?!"   Gue memegang bahu Sheila dengan kencang. "Gue pikirin perasaan lo! Tapi lo juga harus pikirin perasaan gue, gue malu sama papa karena nggak menangin olimpiade itu!"   "EGOIS!" Sheila berteriak di depan wajah gue. "LO EGOIS, DJA!" Kilat amarah terlihat dari pancaran mata Sheila. Wajahnya memerah.   "GUE NGGAK EGOIS, SHEI! Gue udah bilang sebelumnya sama lo, JANGAN FOKUS KE KAMERA, FOKUS AJA KE OLIMPIADE!" Gue balas membentak Sheila.   Sejujurnya, gue benar-benar kecewa dengan Sheila. Tim kami mendapatkan peringkat kedua dari bawah. Hanya karena traumanya yang kampungan itu, gue sampai kalah. Gue nggak bisa buktiin ke papa kalau gue memang bisa.   "KALAU SEANDAIKAN GUE BISA, BAKALAN GUE LAKUIN!" Nafas Sheila terengah-engah. Dia menghapus air matanya dengan kasar.   "Lo sengaja kalah saat olimpiade, kan?! Lo nggak mau lihat papa gue bangga dengan gue, kan?! JAWAB!" Gue menggoncang bahu Sheila. Sheila menepis kasar tangan gue.   "LO MIKIR DONG, NGOTAK! YAKALI GUE BERUSAHA KALAH DALAM OLIMPIADE!"   Gue meraup wajah dengan kasar. "Bayangin, Shei! Kita peringkat dua DARI BAWAH!"   "Trus lo pikir gue mau? Gue suka?! ENGGAK! GUE JUGA MALU, DJA! GUE JUGA MALU!"   "Ini semua gara gara lo!" Gue menunjuk wajah Sheila.   "Lihat Ivan dan Elvina! Mereka menang, Shei. Padahal apa? Kita lebih baik KALAU SEANDAIKAN LO NGGAK t***l KAK TADI!" Gue benar-benar. Kalut. Kecewa.   "LO EGOIS, DJA! EGOIS." Bibir Sheila bergetar. "Lo coba ngertiin gue sedikit aja, bisa nggak?"   Gue menjambaki rambut gue sendiri dengan kasar. "Gue kurang ngertiin lo apalagi? Gue udah kasih lo dukungan sebelum olimpiade! Tapi hasilnya apa? Kecewa gue sama lo!"   "Harusnya lo ngendaliin trauma lo, Shei! Harusnya! Harusnya! Harusnya! Tapi lo terlalu bodoh untuk itu!" lanjut gue.   "Kalau gue bisa, bakalan gue lakuin! Trauma ini bukan keinginan gue, Dja! Tolong ngertiin posisi gue." Perkataan Sheila melirih diakhir kalimat.   "Ku boleh milih, gue nggak akan mau punya trauma, Dja," lirih Sheila. Terlihat dengan jelas air mata di pelupuk mata Sheila. Mungkin hanya dengan berkedip, air mata itu akan meluncur bebas.   Amarah gue menyusut ketika melihat Sheila saat ini. "Gue capek, Dja! Lo selalu bertingkah seolah gue adalah manusia tersalah di muka bumi ini." Gue memalingkan muka. Gue jadi merasa bersalah, sedikit.   "Dja! Shei!" Elvina memanggil kami dari kejauhan. Sheila segera menghapus air matanya dengan kasar.   "Ada apa, kak?" tanya Sheila.   Elvina memandang gue penuh selidik. "Lo nggak diapa-apain, kan, sama manusia j*****m ini?" tanya Elvina pada Sheila seraya menunjuk gue.   "Lo kok jadi curiga sama gue?" Gue menatap garang pada Elvina.   "Apa lo?! Lo kan emang jagonya nyakitin hati." Elvina bersidekap. "Apa? Nggak terima?" tantang Elvina. Gue diam, tidak meladeni ucapannya. Jika saja gue terpancing amarah, yang ada gue dan Ivan bisa adu jotos.   "Ivan mana?" tanya gue. Elvina menunjuk ke gedung olimpiade. Gue mengangguk. Perlahan meninggalkan mereka dan menyusul Ivan.   Sebelum gue masuk ke gedung, ternyata Ivan udah duluan keluar. "Woy, gimana nih yang jadi juara?" tanya gue.   Ivan menunjukkan piagam, medali, serta hadiah-hadiah lain yang dia dapatkan. Sedikit perasaan iri mulai menghampiri gue. Harusnya gue yang mendapatkan itu.   "Sheila mana?" tanya Ivan.   Gue memilih tidak menjawab. Meninggalkan Ivan menuju Sheila dan Elvina. Ivan kemudian mengikuti gue.   "Lama banget, sih, lo." Elvina mengeluh seraya mengibas-ngibaskan tangannya.   "Panas tau," lanjut Elvina. Gue terkekeh pelan, sementara Ivan mendekati Elvina.   "Pulang, yuk," ujar Sheila pelan. Gue mengangguk.   "Lo pulang sama gue, Shei." Sheila hanya mengangguk malas. Elvina kemudian menahan lengan Sheila.   "Kalau lo diapa-apain sama nih bocah, bilang aja sama gue." Elvina mengangguk. Lalu tersenyum.   "Gue cabut," pamit gue.   Gue dan Sheila melangkah menuju tempat parkir. Tak jauh, kira-kira hanya membutuhkan waktu lima menit saja.   "Dja" Sheila tiba-tiba membuka pembicaraan kami. Gue membalasnya hanya dengan beradeham saja.   "Lo ... masih marah sama gue?" tanya Sheila. Gue terdiam. Sebenarnya sedikit susah mengetahui perasaan gue saat ini. Marah mungkin sedikit, lebih dominan rasa kecewa, tapi gue juga kasihan.   "Nggak," jawab gue pada akhirnya. Sheila mengangguk pelan.   Gue menolehkan kepala pada Sheila. "Kenapa?" Sheila terlonjak. Mungkin karena pertanyaan gue yang tiba-tiba. Atau ... entahlah, gue juga nggak peduli.   "Gue agak nggak enak sama lo, gue ngerasa bersalah," jawab Sheila.   "Memang harus." Gue mengedikkan bahu.   "Gimana? Gimana?" Sheila memasang tampang muka bingung. Gue mendengus.   "Memang sudah seharusnya lo merasa bersalah sama gue. Kalau lo nggak merasa bersalah, sebenarnya lo yang egois."   "Kok gue?" beo Sheila.   Gue menggeram. Sheila ini minta dihajar atau apa, sih? Untung perempuan, kalau bukan udah gue hajar dari tadi. "Lupain." Ucap gue singkat. Tidak ingin memperpanjang masalah yang ada. Sheila mengangguk-angguk.   Akhirnya, setelah perjalanan dari luar gedung olimpiade menuju tempat parkir yang sedikit menengangkan tadi selesai. Gue dan Sheila akhirnya sampai di depan mobil gue.   Gue segera memasuki mobil. Sedangkan Sheila, dia duduk disamping gue. Jangan berpikir macam-macam.  Kita hanya duduk. Saling merenggangkan otot-otot tubuh karena kelelahan. Kemudian gue melajukan kendaraan. Tidak ada adegan apa-apa.   Di perjalanan, hanya ada suara radio yang mendominasi. Kami saling diam. Hanya diam. Karena gue bosan dengan suasana ini, gue memilih untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu.   "Shei."   "Dja." Gue dan Sheila saling bertatapan. Tanpa gue duga, gue dan Sheila saling memanggil disaat tag bersamaan. Tanpa gue duga, apalagi disengaja. Ingat itu.   "Lo dulu," ucap gue pada Sheila. Kemudian kembali menghadap jalanan. Sheila sontak menggelengkan kepala. Kemudian menatap jalanan didepannya lagi.   "Lo dulu aja, deh." Ia mempersilahkan gue membuka pembicaraan terlebih dahulu. Oke kalau itu yang dia mau.   "Anggap pertengkaran tadi nggak pernah ada." Sheila sepertinya terkejut atas ucapan gue. Buktinya, dia langsung menghadap ke arah gue.   "Kenapa?" tanya Sheila bingung.   "Emang kenapa kalau gue nyuruh lo buat lupain? Lo nggak mau? Emangnya lo mau pamer karena gue bentak-bentak lo tadi?" Sheila terdiam. Cukup lama. Akhirnya dia setuju dengan apa yang gue mau.   "Sekarang giliran lo," ujar gue dengan tetap memperhatikan jalanan didepan. Walau sesekali gue melirik perempuan yang ada di samping gue ini.   "Gue yang akan bilang sama papa lo tentang kejadian saat olimpiade." Gue sedikit terkejut, kemudian menoleh sebentar pada Sheila.   "Maksudnya?"   "Gue akan cerita tentang kekalahan kita, dan sebab kita kalah, ya karena gue," jawab Sheila. Gue mengerutkan dahi. Ini kenapa Sheila jadi gini? Perasaan saat kami bertengkar tadi, gue nggak sampai mukul kepalanya, kok. Beneran.   "Lo yakin?" Sheila mengangguk mantap. Gue tersenyum seraya membalas anggukan Sheila.   Gue melihat tukang bakso yang ada dipinggir jalan. Tanpa aba-aba, gue putuskan untuk menepi.   "Eh, kita mau ngapain?" tanya Sheila bingung. Gue tidak menjawab, malah langsung menghampiri tukang bakso itu.   "Mang, dua ya," pesan gue. Penjual bakso itu kemudian mengangguk dan menyiapkan pesanan.   Gue duduk diatas kursi yang disediakan. Sementara, Sheila masih berada di samping pintu mobil.   "Sini, Shei." Gue memanggil Sheila. Menyuruhnya duduk. Sheila mengangguk dan menuruti ucapan gue.   Akhirnya, gue dan Sheila makan bakso di pinggir jalanan sebelum mengantar Sheila pulang. Entah kenapa, gue ngerasa Sheila jadi lebih penurut, tapi juga lebih canggung. Dan entah kenapa juga, pikiran gue jadi gila. Gue mengharapkan Sheila balik menjadi Sheila yang pembangkang. Gila kan? Jelas, tapi gue nggak tau kenapa pikiran itu bisa bersarang di dalam otak gue. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN