Eps 4

1194 Kata
Jim tersenyum dan terus melakukan perjalanan, dia yakin, kali ini dia akan berhasil. Bella merasa kantuk dan menutup matanya, dia menikmati perjalanan, dia tidak tau kemana Jim membawanya, tetapi dia yakin pasti Jim membawanya ke suatu tempat yang akan menenangkannya. Perjalanan mereka sangat jauh, melewati jalan tol dan hutan rimbun, sampai mobil Jim berhenti di suatu tempat di dalam hutan yang hening. Jim mengguncang bahu Bella pelan dan tersenyum. “Bella, kita sudah sampai.” Jim membangunkan Bella pelan, setelah beberapa kali membangunkan Bella, dia akhirnya terbangun. Dia mengusap matanya, menatap sekeliling dan melihat berada di tengah hutan yang rimbun. Bella heran kenapa dia bisa berada di sini, kenapa Jim membawanya ke hutan seperti ini. Dia terlalu lelah sampai tidak menyadari kemana Jim membawanya. Bella diajak keluar mobil oleh Jim, dia menurut dan mengikuti Jim dari belakang, rupanya Jim ingin menunjukkan sesuatu kepada Bella. Sangat sepi dan terasa dingin hawanya, bahkan jika dia jauh dengan Jim sejarak lima meter mungkin bisa kehilangan jejaknya. Bella menatap ke sekeliling, dia agak takut masuk ke dalam hutan. Dia memegang baju Jim bagian belakang, takut jika Jim meninggalkannya. Bella mengikuti langkah Jim, bahkan tangannya memegang ujung baju Jim, dia sangat takut jika Jim tiba-tiba meninggalkannya. Jim menunjukkan Bella sebuah rumah pohon yang ada di atas, dia mengajak Bella untuk naik. Bangunan rumah pohon yang sangat cantik sampai membuat Bella terperangah, dia menyukai di setiap ukiran kayu yang yang menghiasi rumah pohon itu. Jim mengajak Bella untuk naik, awalnya Bella menolak dia takut ketinggian, namun Jim berusaha keras membujuk Bella untuk masuk ke dalam rumah pohon. “Cantik kan rumah pohonnya? Aku yang membuatnya,” ucap Jim dengan tersenyum menatap Bella. Pemandangan dari atas sini sangat indah, sejenak Bella melupakan masalahnya dengan Gavin, burung-burung yang terbang terlihat sangat indah, kupu-kupu yang berwarna warni juga membuat Bella terperangah. Jim sahabatnya yang terbaik, selalu bisa membuat dia tersenyum seperti ini. “Bagaimana? Kamu suka rumah pohon ini?” tanya Jim. Bella mengangguk senang dan tersenyum menatap Jim. Sejak awal Jim telah merencanakan hal ini, dia menyiapkan kue untuk camilan Bella. Kue brownies dengan taburan cookies diatasnya. Jim memberikan kue itu kepada Bella. Setiap sendoknya Bella menikmati rasa kue brownies yang nikmat itu, dia sangat menyukainya, Bella memotong sebagian dan memberikan kepada Jim, namun lelaki itu menolak. “Kuenya sangat enak, kamu membelinya dimana? Ini berbeda dari brownies yang biasanya aku makan,” ucap Bella sembari mengacungkan jempolnya, dia memberikan Jim sebagian, namun ditolak. “Tidak, jangan sedikitpun membaginya kepadaku, nikmati saja. Aku harap kamu menyukainya. Ini spesial, aku memesannya dari chef terkenal, kamu tau chef Juna yang terkenal tegas dan melempar piring saat ada kontestan yang kotor piringnya? Kamu melihatnya tidak di televisi? Dia teman aku saat SMP dulu,” ucap Jim tersenyum. Bella sungguh tersanjung dengan sikap Jim yang begitu baik dan setia berteman dengannya, sempat terbesit benak dalam diri Bella, andaikan jodohnya adalah Jim, dia mungkin tidak akan pernah khawatir dengan pernikahannya karena memiliki suami yang pengertian dan sangat baik. “Nikmati saja Bella, habiskan, aku tau kamu pasti lapar,” ucap Jim. Dia lalu memberikan minuman untuk Bella. Tanpa ragu, Bella menghabiskan minuman dan kue dari Jim. “Bella, aku harus mencari sinyal, aku keluar sebentar ya, tunggulah di sini, hanya sebentar, aku mau mengirim email kepada rekan kerjaku,” ucap Jim. Dia melambaikan tangannya kepada Bella. Gadis cantik itu hendak melarang Jim untuk pergi, namun kepalanya terasa berat, pandangannya kabur dan memutar, seketika dia ambruk, tangannya ingin menggapai tangan Jim, namun kelopak matanya berat, dia seketika menutup matanya, samar-samar dengan lirih Bella memanggil nama Jim. Rencananya berhasil, Jim tersenyum miring menatap Bella yang tertidur di atas rumah pohon, dia menatap Bella dengan seksama, entah apa yang Jim pikirkan, dia merobek gaun Bella hingga paha Bella terlihat begitu mulus. Jim lalu meninggalkannya. “HAHAHA WELCOME TO THE JUNGLE BELLA!” Setelah puas dengan keberhasilan rencanya, Jim lalu menaiki mobilnya, dia kembali pulang. Harapannya Bella bisa termakan binatang buas atau lenyap menghilang dari muka bumi. Rencana licik Jim berhasil, dia segera kembali ke kota. Suara kicauan burung kini telah lenyap, mentari yang tadinya memancarkan kehangatan telah berubah menjadi gelap. Malam yang begitu dingin, hembusan angin malam menusuk kulit Bella, membuat gadis itu tersadar dari tidur lelapnya. Bella menatap sekeliling, begitu gelap, matanya tidak bisa melihat apa-apa, remang-remang, hanya cahaya bulan yang membantu penglihatannya. Dia terkejut saat tidak ada siapa-siapa di sini. “JIM!! JIM!!!” teriak Bella. Dia terus memanggil nama Jim, namun tidak ada jawaban. Bella melihat ke bawah, tidak ada siapapun di sana. Dia hendak turun dari rumah pohon, namun suara mendesis membuat kakinya tak berkutik. Dia melihat ular yang berjalan menuju mendekatinya. Bella benar-benar takut, tubuhnya gemetaran, dia menutup mata, yang Bella lakukan hanya diam sementara. Hutan ini liar, banyak sekali hewan buas di sini, apalagi saat malam tiba, mereka yang liar mencari mangsa. Desisan ular itu terdengar sangat jelas, ular itu mengelilingi kaki Bella, dalam hatinya Bella berdoa agar tidak tergigit, dia masih ingin hidup, keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Bella membuka matanya dan hampir tidak bisa bernafas ketika melihat ular itu masih di bawah kakinya. Dia sangat takut, tidak berani bergerak, bahkan menahan nafasnya. Sungguh, ini benar-benar diluar dugaan Bella, wisata yang tadinya Bella kira sangat indah, kini berubah menjadi suram. Bella sangat berharap Jim kembali. Setelah beberapa menit terdiam dan menahan nafas, ular itu pergi, rupanya dia lebih tertarik mengejar tikus hutan yang berada di bawah. Bella menghembuskan nafasnya lega, dia bersyukur selamat dari ular berbisa itu. Perlahan dia menuruni anak tangga, hampir saja dia tergelincir, untung tangannya bisa menangkup batang kayu yang kokoh. Bella sampai di bawah, dia mengecek ponselnya, sama sekali tidak ada sinyal. Dia menggerutu kesal, melihat ke sana kemari, menanti kehadiran Jim. Bella juga tak tau dia ada dimana, hutan apa, dia mencoba keluar dari hutan ini dengan penerangan flashlight di ponselnya. Untungnya masih menyala, Bella menandai setiap pohon yang dia lewati dengan ukiran batu, dia berharap benar-benar bisa keluar, tak tau kemana kakinya melangkah, hanya mengikuti insting. Satu jam kemudian setelah berputar-putar dengan langkah kaki tak bersuara, Bella berhasil keluar dari hutan ini, Dia menemukan jalanan aspal, tetapi dia tak tau ada dimana sekarang. Sinyal masih belum ada, Bella mendengkus pasrah, hanya sinar dari ponsel yang menemaninya, jalanan begitu sepi dan sunyi, sesekali dia mendengar suara gesekan daun yang begitu kencang, sangat dingin, dia bahkan tidak menggunakan jaket, hanya dress selutut. Bella menatap ke bawah, dia memperhatikan dressnya, ada sobekan di sana, dressnya menjadi lebih pendek. Dia lelah, lapar dan haus, Bella memutuskan untuk duduk di batu besar di pinggir jalan. Sungguh dia benar-benar putus asa, tidak ada sinyal, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini, dia tak tau ada dimana sekarang. Bahkan mobil yang lewat pun tidak ada. Bella menunduk, menangis, air matanya terjatuh satu persatu, kenapa Jim meninggalkannya. Seingatnya setelah makan dan minum dia mengantuk, dia ingat Jim pamit keluar mencari sinyal, tapi kenapa belum kembali hingga sekarang? Bella hanya bisa diam duduk di batu besar, kakinya sudah terasa sakit, tumitnya lecet karena gesekan sepatunya. Sudah pukul sepuluh malam, Bella sangat takut di sini, sungguh dia benar-benar tidak tau harus kemana. Dia mendongak, menatap rembulan yang begitu terang, dalam hatinya dia berdoa semoga ada orang yang menyelamatkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN