KEYLA POV
***
Hari ini, hari yang melelahkan bagiku. Hari pertama dimana aku dihukum, lalu bolos bersama Gaby. Dengannya aku bisa tertawa. Dengannya aku bisa merasakan apa itu bahagia. Hanya dengan Gaby saja aku bisa merasakannya.
Aku bersyukur bisa berteman dengannya.
Semua dimulai ketika awal masuk SMA, kami sedang melakukan MOS. Saat itu aku hanya bisa berdiri di bawah teriknya matahari seorang diri karena lupa membawa barang yang harus dibawa. Aku yang gampang kelelahan hanya bisa menahan sekuat tenaga sembari tanganku mencubit pahaku agar tetap sadar. Tiba-tiba tak lama dari situ seorang gadis lainnya berdiri di sampingku dan ikut melakukan sikap hormat. Aku menatapnya dan tersenyum canggung. Dia pun juga begitu.
Aku tak bisa menahan pusing yang melanda, pandanganku terasa berbayang, dunia serasa berputar, lalu gelap setelahnya. Saat aku terbangun yang kulihat wajahnya yang khawatir, gadis itu sedang menjagaku di UKS.
“Lo gak apa-apa, kan?” tanyanya dengan wajah cemas.
Aku tertegun.
Baru kali ini aku merasa dikhawatirkan. Aku bisa melihat kecemasan gadis itu melalui matanya. Hatiku menghangat. Ternyata ada orang baik di dunia ini.
“Iya. Makasih ya udah nolongin,” ucapku dengan suara serak karena kerongkonganku terasa kering.
“Minum dulu.”
Aku tentu saja menuruti ucapannya. Aku minum, lalu menerima suapan makan darinya. Jika dilihat-lihat, ternyata dia sangat cantik dan baik.
“Kenalin, gue Gaby Anastasia.” Dia mengulurkan tangannya menantikan jabatan tangan dariku.
“Aku Keyla Agatha Afsheen,” ujarku lirih.
“Wah, nama lo cantik banget kayak orangnya.” Dia terkekeh geli menggodaku, aku tersipu malu. Bagaimana bisa seorang gadis cantik memuji diriku cantik. Aku merasa sangat tersanjung sekali.
“Tadi yang angkat aku siapa, By?” tanyaku.
“Tadi kayaknya kakak kelas deh, tapi bukan panitia. Dia gak pake seragam panitia soalnya,” ucap Gaby mencoba mengingat kembali siapa yang menggendongku sampai di sini.
“Kamu inget wajahnya gimana?” Dia menggeleng.
“Ya udah kalo gitu, kapan-kapan aja bilang terima kasihnya kalo inget,” ucapku dengan cekikikan kecil. Aku dan Gaby sangat mudah akrab. Dia gadis pertama yang mau berteman denganku. Jujur saja yang meminta berteman denganku kebanyakan laki-laki. Entah kenapa yang perempuan selalu menatapku sengit seolah aku adalah musuh mereka. Ada apa? Dan aku tahu jawabannya saat Gaby berkata, “Ck! Lo sadar gak sih kalo lo itu cantik? Cowok-cowok deketin lo ya karena caper doang, dan cewek-cewek seratus persen gue jamin kalo mereka iri sama lo.”
“Apa kamu juga?” Dia tertawa dan menjawab dengan sangat percaya diri bahwa dia juga cantik. Kenapa orang cantik harus iri dengan orang cantik? Begitu katanya. Aku merasa nyaman mengobrol lama dengannya hingga tanpa sadar hatiku meminta pada Tuhan agar aku dan Gaby berada di kelas yang sama.
Terkabul.
Doaku terkabul saat itu, jadilah aku dan Gaby sekelas hingga menjalin persahabatan sampai sekarang. Aku sekarang sudah memasuki kelas 11 semester awal.
“Huh,” aku menghembuskan napas pelan karena teringat masa-masa dulu.
Saat aku membuka pintu rumah. Yang dapat kulihat dari jangkauan mata adalah kekosongan. Rumah ini mewah tapi sepi. Tak ada canda tawa seperti dulu lagi. Semua terasa dingin.
Aku melangkah menuju kamarku di lantai atas. Saat tiba-tiba melewati kamar utama di lantai bawah di dekat tangga yang hendak aku naiki, aku bisa melihat pintu ayah dan bundaku terbuka. Apa mereka ada di dalam? Pikirku yang tanpa berlama-lama segera mengintip keadaan.
Tubuhku tertegun. Di sana ayahku sedang menyuapi bundaku dengan wajahnya yang tersenyum. Senyum yang sudah lama tak terlihat olehku. Melihat senyum ayah, aku merasakan sesak menjalar ke hatiku.
Bagaimana senyum itu bisa ada?
Kapan senyum itu ayah berikan untukku?
Bertahun-tahun berlalu sejak kejadian mengenaskan yang membuat bundaku buta, sejak itu pula aku kehilangan senyum ayahku. Dia yang merupakan sosok pahlawan dan cinta pertamaku dulu begitu membenciku sekarang. Dia selalu memarahiku. Menyalahkanku atas kebutaan bunda.
Saat aku sedang menatap ayah melalui sela-sela pintu, ternyata ayah menyadari tatapan dariku. Wajahnya yang masih tersenyum beralih menatapku. Dalam hitungan dua detik, aku merasakan detakan menggila saat senyum itu mengarah ke arahku. Aku bisa merasakan sesak yang menguap saat bisa merasakan kembali senyuman ayah untukku. Namun di detik berikutnya, ayah langsung berwajah datar menatapku penuh kebencian. Tatapannya tadi tergantikan dengan tatapan benci.
Apa salahku? Hatiku menjerit tidak terima mendapat tatapan kebencian dari ayah.
Dapat kulihat, ayah meletakkan mangkok berisi makanan bunda di nakas, lalu dia berjalan menuju ke arahku. Aku sedikit gugup saat itu. Kupikir ayah akan berbicara dingin seperti biasanya, tapi kali ini beda. Ayah menutup pintu itu tepat di depan mataku.
Tubuhku gemetar menahan tangis yang ingin keluar. Kapan ini berakhir? Aku juga ingin bahagia dengan kasih sayang ayah juga. Bundaku yang bahkan mengalami kebutaan karenaku dan juga kehilangan profesi dokternya karenaku, beliau tidak marah. Bahkan dibandingkan ayah, bundalah yang sering bertanya tentang bagaimana kondisiku? Bagaimana sekolahku? Apa aku punya teman? Semua bunda pertanyakan, tapi satu hal yang tidak pernah bunda tanyakan padaku.
Apa kamu bahagia?
Hanya itu. Bundaku tidak pernah menanyakan apa aku bahagia? Aku sayang bunda, tapi bisakah ayah tidak membatasi ruang gerakku untuk memberitahu bunda bahwa aku jauh dari kata bahagia. Siapa yang bisa bahagia saat ayahku sendiri membenciku. Aku ingin ayah seperti dulu. Ayah yang mengelus kepalaku disaat hendak tidur. Ayah yang selalu menyemangatiku ketika sakit. Ayah yang selalu menceritakan dongeng sebelum tidur. Aku ingin ayah kembali seperti dulu. Aku ingin keluarga ini kembali hangat seperti dulu sebelum kecelakaan itu terjadi.
Pintu kembali terbuka dan wajah ayah yang datar terlihat olehku.
“Berhenti menangis dan pergilah,” usir ayah dengan ucapan penuh penekanan. Dari wajahnya bisa aku lihat bahwa ia kesal padaku. Aku segera menghapus kasar air mataku dan mengangguk. Ayah kembali menutup pintu bahkan menguncinya, mungkin takut aku nekat untuk masuk ke dalam seperti minggu lalu.
Aku bergerak kembali menuju tangga dan berjalan menuju kamarku yang berada di pojokan. Amat pojok dekat gudang. Kamarku kecil tapi aku nyaman berada di sana. Kamarku yang dulu saat kecil sudah dijadikan ruang tamu tak berpenghuni oleh ayahku. Aku sendiri di suruh tidur di kamar ini yang sepertinya layak disebut kamar pembantu. Aku tidak memiliki ranjang empuk seperti kamar ayah bunda dan kamar tamu. Aku hanya memiliki kasur tipis dan satu buah meja kecil yang aku gunakan untuk belajar. Aku tidak mengeluh, karena ini adalah perintah ayah.
Bertahun-tahun aku tidur di kamar ini, aku tidak masalah karena aku bisa memberikan rasa nyaman dengan caraku sendiri.
“Non,” panggil Bibi dari luar kamarku sembari mengetuknya pelan.
“Iya, Bi?” sahutku dari dalam.
“Tuan bilang, Non Keyla harus ikut turun makan malem,” ucap Bibi.
“Iya, Bi. Bentar lagi Keyla turun,” ucapku. Aku menuju kamar mandi kecil yang berada di kamar ini. Beruntung aku bisa mandi tanpa perlu turun ke lantai bawah tempat kamar mandi lainnya berada.
Aku tidak mandi, hanya mencuci muka agar terlihat lebih segar nantinya. Aku gugup setengah mati. Mungkin ini kali kedua aku diajak makan bersama di meja makan oleh ayahku karena biasanya ayah selalu mengatakan pada bunda bahwa aku sudah makan atau alasan yang lainnya hingga akhirnya aku tak bisa makan bersama mereka.
Saat aku tiba di ruang makan dan duduk berhadapan dengan ayah bunda. Dapat aku lihat wajah ayah yang berubah dingin. Ia menyuapi ibuku tanpa senyumnya seperti tadi. Aku makan sembari menunduk agar ayah tidak melihatku menangis. Aku takut ayah marah lagi. Bunda seperti biasa menanyakan bagaimana kabarku, apa yang aku lakukan hari ini, bersama siapa aku pulang, dan banyak hal lainnya. Bunda terlihat antusias bertanya padaku, sementara ayah terlihat jengah dan tidak betah berlama-lama.
“Sayang, ayo masuk kamar. Ini udah malem, waktunya dia istirahat.”
Aku tahu dia siapa yang dimaksud ayah. Tentu saja itu diriku. Ayah tidak pernah berniat menyebut namaku. Mungkin menurutnya, namaku ini jelek atau pembawa s**l?
“Iya, Mas.”
“Kakak kalo udah selesai cepet tidur, ya. Jangan dipaksain belajarnya, nanti yang ada malah sakit.” Aku merasa terharu saat bunda mengatakan itu padaku.
“Iya, Bunda.”
Ayah membantu bunda menuju kamar mereka. Ia sempat melempar tatapan dinginnya padaku tadi. Aku menatap punggung kedua orang tuaku itu. Aku beralih menatap punggung ayahku yang tegap.
Ingin rasanya aku memeluk ayah.
Ayah, aku juga ingin seperti bunda.
Aku ingin ayah menyuapiku ketika makan seperti ayah yang menyuapi bunda.
Aku ingin ayah tersenyum, seperti ayah yang tersenyum pada bunda.
Kenapa ayah tidak bisa melakukannya?
Apa kesalahanku itu sangat besar?
Apa ayah benci padaku karena aku anak pembawa s**l?
Aku menangis lirih di meja makan itu. Rasanya nafsu makanku sudah hilang seutuhnya. Aku mengaduk lauk pauk di piring itu dengan tak minat. Aku meratapi nasibku saat ini.
“Ayah, Maaf.”
Lagi dan lagi, aku selalu mengucapkannya walau tidak ayah dengar. Rasa bersalah penuh penyesalan ini mengekang gerak bebasku.
Ya Allah, Keyla bisa bahagia gak, ya?
***