Sasa yang berada di mobil tak berhenti menangis sepanjang jalan. Ia tak peduli apa yang terjadi di sekitarnya. Sasa benar-benar serius ingin meninggalkan Rafa, tapi untuk saat ini saja. Sasa hanya merasa butuh ketenangan dari kekecewaan yang ia rasakan. Fakta tentang Noah benar-benar membuatnya tak bisa berkata-kata. “Gue benci sama lo, Raf!” geram Sasa dengan tangan terkepal. Tapi sedetik kemudian, ia menunduk dengan mata yang lagi-lagi basah. Kaki Sasa telah menginjak lantai yang ada di Bandara. Ia akan ke Bali dengan bantuan Vino yang sudah memesankannya tiket untuk malam ini tadi, dan 30 menit lagi pesawatnya akan lepas landas. Sasa duduk menunggu di kursi tunggu setelah mengurus segalanya sebelum akan memasuki pesawat. Namun entah kenapa, ia selalu kepikiran pada Rafa. Sedangk

