"Alesan apa?!" Sasa refleks berdiri tegak dari posisinya. Wajahnya yang awalnya agak kemerahan karena alkohol, langsung berubah menjadi pucat pasi melihat kemarahan di mata Rafa. "R-rafa.' "Gak ada ampun," desis Rafa dengan mata berkilat emosi. Laki-laki itu langsung menarik tangan Sasa keluar dari tempat terkutuk itu dengan agak kasar. Membuat Sasa harus berusaha keras mengumpulkan kesadarannya. Langkah Sasa terseok-seok karena Rafa berjalan dengan langkah lebarnya. Berbeda dengan langkah kecil Sasa yang kesulitan mengimbangi. "N-nanda gimana--" "Gak usah mikirin dia. Pikirin diri lo sendiri," desis Rafa emosi. Bahkan laki-laki itu mengubah gaya bicaranya. Begitu sampai di parkiran, Rafa langsung mendorong Sasa agak kasar ke dalam mobil. Kali ini Sasa tidak protes, karena ju

