1 – Rasionalitas Cinta

1481 Kata
Cinta bisa menghilangkan daya kritis dan rasionalitas seseorang. Beliau SAW besabda, “Cintamu kepada sesuatu menjadikan kamu buta dan tuli.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad) _________________________________________ 14:00 WIB Cekrek... cekrek.... Kilatan flash dari kamera membidik beragam pose yang ditampilkan wanita cantik di depan sana. Wanita itu menggunakan produk keluaran terbaru dari salah satu desainer terkenal. Awalnya, ia sangat risih menghadapi sesi pemotretan ini. Namun, saat dijalani dan berkat dukungan dari orang tersayang, ia pun dapat membiasakan diri. “Ganti posisi! Coba kerahnya diturunkan lagi hingga mengekpose bahu,” ucap sang fotografer sambil menurunkan kameranya. “Tapi-” Model itu terlihat ingin menyela---tak terima dengan arahan tersebut. “Turunkan saja, Sayang. Kamu nggak usah khawatir, nggak kelihatan semua kok.” Seorang pria tampan memotong selaan si model. Pria itu mendekat untuk membujuk sang model agar mengikuti instruksi dari fotografer. Ia berusaha meyakinkan si model sekaligus pacarnya. Wanita itu menggeleng. Setelah menyaksikan berpasang mata menunggunya dengan tak sabaran, apalagi tatapan mengejek dari salah satu kru, ia pun mengangguk pasrah. “Ayo!” Pria di sampingnya mulai menjauh seraya memintanya kembali berganti posisi sesuai instruksi fotografer agar hasilnya memuaskan dan sesuai dengan keinginan mereka. Wanita itu mulai menurunkan kerah blouse tanpa lengan yang ia gunakan. “Sedikit lagi,” tambah sang fotografer yang langsung diindahkan oleh si model dengan menurunkan atasannya hingga menampilkan sedikit tanktop yang ia gunakan. “Nah, iya begitu bagus.” Acungan jempol tertuju ke arah sang model. Cekrek... cekrek.... Setelah mengecek hasil tangkapan kameranya, si Fotografer berbincang sebentar dengan beberapa rekannya lalu kembali memberikan instruksi, “Coba kakinya disilangkan sambil melirik ke samping!” Arahan itu langsung diikuti oleh model tersebut hingga mengekspose pahanya yang sedikit terbuka karena menggunakan hotspan. “Sip. Tahan ya!” Cekrek... cekrek.... “Dagunya diangkat sedikit sambil memejamkan mata.” Instruksi yang kesekian kalinya membuat sang model mengeluh karena lelah. Dia sudah menghabiskan waktunya berjam-jam demi pemotretan hari ini. Dengan menghela nafas berat, ia tetap mengikuti arahan tersebut. “Oke!” Cekrek... cekrek.... “Finish! Ferfect! Good job.” Akhirnya sesi pemotretan hari ini selesai juga. Sarah yang dibantu beberapa stylist pun meninggalkan ruang pemotretan menuju ruang ganti. “Nah gitu dong, nggak kaku lagi. Nggak susah kan jadi model? Makin sayang deh aku sama pacarku ini.” Faris menghampri Sarah yang telah berganti pakaian. “Aku juga sayang banget sama kamu. Tapi, gambar yang terakhir tadi jangan ditampilin ya, nanti orang tuaku marah.” Sarah bergelayut manja dilengan pacarnya. “Kok gitu? Yang terakhir itu paling bagus lho. Sumpah.” Faris menatap Sarah sambil membujuk---berusaha menolak permintaan pacarnya itu. “Tapi, nanti orang tuaku marah dan nggak ngizinin aku jadi modelnya kamu lagi. Aku takut mereka tahu kalau aku jarang ngampus selama ikut Agensi kamu,” terang Sarah dengan raut wajah memohon. “Ya sudahlah kalau itu mau kamu, gambar terakhir nggak dimuat. Dan kamu tenang saja, orang tuamu nggak akan tahu kalau kamu sering bolos asalkan kamu sering nitip absen sama temanmu itu. Aku jamin.” Faris berusaha menenangkan kekasihnya. Tapi, Sarah masih saja mencemaskan kemungkinan yang akan terjadi. Sudah satu bulan ia menjadi model di Agensi Faris hingga kuliahnya pun terbengkalai. “Udahlah, kita have fun, yuk! Pemotretan hari ini pasti bikin kamu capek. Kamu mau ke mana sekarang? Mau ikut aku ke club?” tawar Faris. Faris sering mengajak Sarah ke club tapi kekasihnya itu selalu saja menolak hingga kadang membuat Faris berpikir bahwa Sarah masih kekanak-kanakan. Apalagi selama berpacaran dengan Sarah, mereka tak pernah melakoninya sebagaimana pasangan lain di luar sana. Bahkan untuk mencium pipi Sarah pun Faris dilarang, katanya hanya boleh bergandengan tangan dan pelukan saja. Untung Faris cinta dan Sarah pun bisa diajak kerja sama di agensinya hingga Faris tak bisa melepaskannya begitu saja. Awalnya, Sarah hanya sering datang ke Agensi dan mengikuti ke mana pun Faris melakukan pemotretan bersama timnya. Suatu ketika, salah satu model Faris sakit dan terpaksa digantikan oleh Sarah. Setelah Sarah unjuk diri, pujian dan kekaguman berdatangan kepadanya hingga tawaran produk yang menginginkan Sarah sebagai modelnya pun kian berdatangan. Mana bisa Faris melepaskan hal tersebut, meskipun Sarah selalu banyak tingkah dan berkomentar berlebihan. “Nggak mau. Jangan tawari aku ke sana lagi. Aku mau ke bioskop aja! Ada film bagus dan aku mau nonton itu!” rengek Sarah dengan mengerucutkan bibirnya. “Oke oke, kita ke Bioskop. Apa sih yang enggak aku kasih untuk pacarku ini. Oh iya, jangan lupa ya, lusa kita pemotretan di pantai.” Faris pun tersenyum pada Sarah dan mengamit tangannya. “Iya, Sayang. Tapi aku nggak mau pakai yang buka-bukaan!” Sarah kembali bertingkah sesuai dugaan Faris---menyebalkan.  Faris menghela nafas kemudian mengecup tangan Sarah digenggamannya dan berkata lembut, “Ini kan memang promosi pakaian pantai, Sayang. Pastilah yang kebuka.” “Nggak mau pokoknya, aku mau yang tertutup aja. Yang terlalu terbuka suruh model lain.” Sarah melepas genggaman Faris ditangannya, ia menolak untuk menggunakan pakaian yang sexy, takut jika orang tuanya tahu nanti. Faris diam, menekan kesal ia pun mengangguk setuju. Sarah kembali memeluknya dengan sayang sambil tersenyum bahagia. *** Sementara itu Di salah satu gedung bertingkat, seorang pria tengah berdiri di depan puluhan mahasiswa yang haus akan makna kehidupan. Mereka memperhatikan proyektor yang sedang menampilkan beragam model bangunan ramah lingkungan. Saat asyik menjelaskan, tiba-tiba ponselnya bergetar. Pria itu tetap melanjutkan pemaparannya hingga kemudian menjeda perkuliahan untuk menjawab panggilan yang tak terjawab sebelumnya. Dia menjauh dari puluhan pasang mata itu sambil mengangkan ponsel hitamnya. Mahasisawanya pun terkekeh karena Dosen tampan mereka ini sangatlah ramah dan bersahabat. ............................... "Wa'alaikumussalam." ................................ "Terus?" ............................... "Saya akan mengeceknya langsung." ................................ "Insya Allah lusa, tolong handle dengan baik." ................................ "Na'am, Jazakallah fii khair." ................................ "Wa'alaikumussalam." Tut. Azhar menutup ponselnya dan memasukkan kembali benda tersebut ke dalam kantong celananya seraya melangkah menuju ruang perkuliahan guna melanjutkan sesuatu yang tertinggal. "Maaf, saya sudah meninggalkan kalian," ucapnya yang langsung dimaklumi oleh para mahasiswa. "Kita lanjutkan lagi pembahasan tadi." Perkuliahan pun kembali berlanjut. Setelah menutup kuliahnya, Azhar tanpa sengaja melihat salah satu mahasiswinya yang baru kembali dari gedung Akademik. Tampak Miss Adzkia sedang memeluk mahasiswi itu kemudian melepaskannya dengan berat. Ada apakah ini? batin Azhar. Setelah Shanum menjauh, Azhar pun menghampiri Miss Adzkia. "Assalamu'alaikum, Miss." "Wa'alaikumussalam, Az. Sudah selesai kelasnya?" balas Miss Adzkia lembut. "Udah nih, sekalian aku izin sama mereka. Soalnya, pembangunan Resort di Bali hampir setengah jadi dan besok aku mau mengeceknya langsung," terang Azhar. Miss Adzkia mengangguk paham. Lalu menyampaikan sesuatu yang teringat olehnya, "Apa benar kamu ditolak Shanum waktu dia baru masuk kuliah sebelumnya? Kamu udah pernah coba ngelamar dia sesuai anjuranku?" Azhar tersentak, beberapa detik kemudian ia pun mengangguk, "Iya, Shanum nolak. Bukan jodoh kali." Wanita yang dipanggil Miss Adzkia itu memundurkan tubuhnya hingga menyander ke tembok gedung seraya memandangi Azhar. "Padahal aku berharap kamu bisa sama dia. Dia paket komplit tahu, apalagi neneknya udah nggak ada dan sekarang dia mengajukan surat berhenti kuliah karena dua minggu lagi dia akan tinggal di Indonesia." "Bukan jodoh, Miss. Kalau Allah berkehendak lain, kita bisa apa. Lagian aku pernah mencoba." Azhar menimpali dengan sorot mata tak tertebak. "Tapi, beneran Shanum mau pindah, Miss?" tambah Azhar lagi. "Iya. Dia baru aja nganterin surat pengunduran diri. Aku udah bujuk supaya jangan pindah, tapi dia keukeh, katanya permintaan almarhumah omanya." Azhar mengangguk. "Itu pilihannya. Aku yakin itu yang terbaik untuknya, kita do’akan saja semoga di sana dia senantiasa berbahagia." "Dan kamu juga bebas memperjuangkan wanita pujaan hatimu itu lagi? Pemilik do'amu?" Miss Adzkia menggoda Azhar. Azhar hanya mengedikkan bahunya. "Huh, sok-sokan nggak ngaku. Padahal, diam-diam menghanyutkan." Miss Adzkia terkekeh melihat ekspresi pria di depannya. "Iya, Miss, menghanyutkan dalam do'a. Semoga saja sampai pada-Nya." Azhar menjawab dengan mimik wajah yang berubah cerah. "Titip kelas bimbinganku ya, Miss. Aku akan kembali ke Indonesia, mana tahu kali ini bisa menyentuh hati yang di sana," lanjutnya lagi. "Aamiin, semoga saja sesuai harapanmu. Aku tahu kau begitu mendambakannya, tapi ingat, jangan sampai membuatmu buta akan hal lainnya." Miss Adzkia berusaha tersenyum melihat binar dimata Dosen tampan itu. "Siap. Bagaimanapun keadaan hatinya sekarang, entah terisi oleh nama siapa, do'aku takkan goyah meskipun harus bertarung di langit sana." Azhar terlihat sangat yakin dengan ucapannya. "Kau pria idaman, kau layak mendapatkan yang terbaik. Sayang sekali itu bukan aku. Padahal aku mengagumimu, Sepupuku." Miss Adzkia kembali berkata dengan setengah terkekeh. "Bisa saja. Aku permisi, Miss. Assalamu'alaikum," pamit Azhar. "Wa'alaikumussalam. Jangan lupa oleh-olehnya dan titipkan salamku dengan orang di sana." Azhar mengangguk dan mengacungkan jari jempolnya. "Azhar, aku begitu sabar menunggumu untuk bisa memandangku lebih dari saudara dan rekan kerja selama ini. Tapi, kehadiranku sama sekali tak bisa beranjak dari seorang sepupu di hidupmu. Bahkan, gadis seperti Shanum pun tak mampu membuatmu beralih darinya." Miss Adzkia memandangi punggung sepupunya yang kian menjauh. Selain memiliki hubungan sepupu jauh, dia juga merupakan rekan sesama dosen Azhar di sini---di salah satu Universitas di Singapura. "Sarah, kau beruntung karena dicintai dan diperjuangan oleh seseorang yang aku cintai," gumam Miss Adzkia dengan mata sayu sebelum beranjak.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN