10. Jodoh?

1310 Kata
"Aku pasti akan membuatmu jatuh cinta dengan gadis itu, Adrasta. Dewa takdir masih punya banyak cara untuk mempertemukan kalian berdua." Setelah mengucapkan hal itu, Styx pun berdiri untuk mengambil botol arak yang lain dan menghiraukan Adrasta yang tampak tidak peduli. "Aku akan membentengi diri!" "Siapa kau bisa membentengi diri dari yang namanya cinta?" Pria itu pun kembali mendekat ke arah reinkarnasinya. "Asal kau tau, cinta adalah salah satu perasaan terhebat yang sulit dikendalikan, sama seperti amarah. Bahkan panglima hebat sepertiku tidak bisa mengendalikannya," sombong pria itu sambil meletakkan botol arak yang berwarna biru bening. "Tuan Styx yang terhormat, Anda itu hanya kuat fisik, tentang perasaan ... Anda sungguh tidak bisa diandalkan," ucap Adrasta dengan nada mengejek. Sang panglima pun tertawa kecil, benar-benar gambaran jiwanya, pikir Styx yang merasa tidak sedikit kesamaan di antara keduanya. "Jiwaku adalah jiwamu, Adrasta. Percayalah, kau pun akan merasakan hal yang sama setelah mengenal yang namanya cinta." Pria muda itu hanya menggidikkan bahunya tak acuh. "Sudahlah, kita sama-sama tidak memiliki kekasih, untuk apa memikirkan seorang wanita? Menjadi lajang tidak akan membuat kita mati. Lebih baik kita habiskan arak paling lezat di zaman ini." Adrasta hanya tersenyum geli melihat pria gagah yang tengah meminum araknya itu. Bener-bener pria konyol, pikirnya. °°° Cordelia, malam ini terasa begitu panjang baginya. Entah mengapa ia kepikiran dengan pria yang dibicarakan oleh Panglima Styx. "Reinkarnasi Panglima Styx? Terlahir di zaman yang sama denganku? Apa benar?" gumamnya di atas tempat tidur milik para pelayan Bergelmir sambil memeluk lututnya. "Hei! Tidur! Jangan berbicara sendiri, kau seperti orang gila," ucap wanita di sampingnya, Corne yang tengah berusaha memejamkan matanya. "Oh iya, Kepala Corne, apa kau kenal dengan prajurit pemula yang bernama Adrasta?" "Apakah pria yang mengaku sebagai reinkarnasi Panglima Styx?" Gadis itu pun segera mengangguk antusias. "Ya, wajahnya memang sama persis dengan Panglima. Namun, dia terlihat memiliki ... semacam bekas luka yang terlihat seperti cakaran hewan buas." Cordelia tertegun mendengarnya, apakah itu sebuah tanda lahir? Sama seperti yang ia miliki di leher, pikirnya. Gadis itu pun segera membuka syal rajutnya dan memperlihatkan tanda lahirnya kepada sang kepala dapur. "Apakah seperti ini?" Corne segera bangkit dari tidurnya, terkejut. "Ini alasanmu memakai syal setiap saat?" Gadis itu hanya mengangguk mengiakan. "Iya! Milik Adrasta pun seperti ini warnanya. Apakah ini bekas luka?" Gadis itu menggeleng. "Bukan, ini sebuah tanda lahir dan peramal di daerahku bilang tanda lahir ini berasal dari penyebab meninggalnya generasi sebelumku, dalam arti reinkarnasi sebelumku." Wanita di depannya itu membulatkan mulutnya kaget, ternyata ada hal-hal seperti itu, pikirnya. "Jadi, generasi sebelummu itu Ratu Himalia?!" Gadis itu kembali mengangguk. "Ohh! Pantas saja ratu sangat menyayangimu." "Jadi, apa tujuanmu kemari?" "Tentu saja untuk menyelamatkan Ratu Himalia supaya tanda lahir ini hilang. Karena tanda lahir ini ... aku tidak memiliki teman ataupun kekasih, semua orang mencampakkanku, itulah mengapa aku lebih senang bisa berada di sini." Corne tersenyum terharu, lalu segera memeluk teman kamarnya itu. "Alasanku kembali ke masa depan hanyalah untuk bertemu kedua orang tuaku, mereka adalah segala-galanya bagiku." "Lain kali ajaklah aku ke masa depan, Cordelia." Keduanya pun tertawa. Mana bisa wanita cerewet sepertinya menembus dinding waktu? Pikir Cordelia. °°° Seorang pria tengah memandangi langit malam dari atap rumah milik seorang panglima Kerajaan Bergelmir. Ya, dia adalah Adrasta, seorang pria yang terlihat tengah jatuh cinta, apa benar cinta? Entahlah. Ia masih di sana, duduk di atas genteng sambil memandang langit malam, memikirkan seorang gadis yang bahkan dia saja tidak mengetahui wajahnya secara jelas. Terlihat sebuah bayangan gadis yang ia pikirkan tergambar di atas langit malam. Pria itu kaget sendiri, detik selanjutnya ia menepuk-nepuk sendiri kepalanya. "Wah, nggak bener otak saya ini." Ia pun berkedip beberapa kali, saat ia membuat mata bayangan di langit itu hilang. "Hanya imajinasi. Mungkin aku hanya terlalu ingin berjumpa dengannya." Seorang pria yang duduk di belakangnya hanya tersenyum geli. "Bukankah indah yang namanya jatuh cinta itu?" Adrasta segera menengok ke belakang dan pendapati pria yang sudah ia duga kehadirannya, tentu saja Panglima Styx, siapa lagi jika bukan pria konyol berkedok ksatria itu? "Sejak kapan Panglima ada di sini?!" "Sejak ... otakmu sibuk membayangkan wajah gadis yang terlukis di langit." "s**l," gumam Adrasta. "Kau mencintainya, Adrasta." "Tidak! Aku hanya penasaran dengannya, memangnya bisa mencintai seseorang sebelum melihat orangnya secara langsung?" "Bisa saja, jiwaku adalah jiwamu, jiwa Cordelia adalah jiwa Himalia, kau reinkarnasiku, Adrasta. Kau mencintainya karena aku." Styx pun segera mendekat dan duduk di samping reinkarnasinya lalu menepuk punggung pria itu. Adrasta pun mendongak. "Aku tidak mengerti, Panglima." "Jika sudah bertemu dengannya, kau pasti akan mengerti. Dewa Takdir dan Dewa Asmara masih memiliki banyak rahasia untukmu, percayalah." °°° Pagi hari di Jakarta. Cordelia merentangkan tangannya, meregangkan otot-ototnya setelah tidur semalaman. "Ah, rasanya aku sudah tidur semalaman, padahal waktu tidurku aku gunakan hanya untuk melayani ratu Himalia. Dewa sangat baik padaku." Gadis itu pun segera beranjak dari tempat tidur dan segera keluar kamar hanya untuk memastikan kedua orang tuanya baik-baik saja, setelah memastikan hal itu, Cordelia segera mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampusnya. Ia harus rajin supaya bisa segera lulus dan membuatkan ramuan untuk Himalia, ia sangat tidak sabar untuk menyelesaikan masalah ini dan menghilangkan tanda lahirnya itu. °°° Cordelia baru saja menyelesaikan kelas paginya, matahari belum terlalu terik saat ini. Ia terus berjalan menyusuri trotoar, tak sengaja ia melewati sebuah kafe yang sering ia kunjungi dulunya. Namun, sekarang ia jarang ke sana karena terlalu sibuk kuliah dan mengkaji ramuan untuk Ratu Himalia. "Huh, sudah lama aku tidak bersantai sambil meminum kopi di sini." Gadis itu pun segera melangkahkan kakinya menuju tempat favorit para anak muda itu. Setelah duduk, gadis itu segera menaruh tasnya di atas meja dan mengeluarkan sebuah laptop untuk mengerjakan tugas kampusnya yang belum selesai. Tak lama, seorang waiters mendatanginya dan menanyai gadis itu ingin memesan apa. Setelah Cordelia mengucapkan pesanannya, wanita itu pun kembali untuk memenuhi pesanan pelanggannya. Cordelia pun segera fokus pada laptopnya. °°° Adrasta, pria itu kini tengah mengingat-ingat kejadian apa saja yang ia alami di Bergelmir. Bibirnya kembali menyinggung senyum yang terlihat seperti bulan sabit setelah sosok Cordelia memenuhi pikirannya. Ia menurunkan jarinya dari atas keyboard komputer dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, memandang langit-langit kamarnya. "Apa benar cinta?" Detik selanjutnya pria itu kembali tersenyum, kali ini disertai tawa ringan. Ia pun tersadar, menepuk jidatnya sendiri. "Apa, sih Adrasta?!" Tatapannya kembali ke layar komputer, jarinya pun sudah siap menari. Namun, pikiran dan perasaannya mengatakan bahwa ia tidak memiliki mood untuk menulis. "Ah, sudahlah. Lebih baik aku menyenangkan diri di dunia normal ini, tanpa penguntit berkedok panglima ini." Lagi-lagi Adrasta tertawa ringan. Ia segera menyimpan draf tulisannya dan segera bersiap untuk berjalan-jalan di siang hari ini. Setelah memakai celana jeans, kaos putih dan jaket hitam, tak lupa dengan topi serta masker hitam untuk menutupi wajah dan identitas aslinya, pria itu segera keluar dan mengendarai motor sport-nya, meninggalkan wilayah kost yang terlihat kumuh itu. Setelah sekian lama berkendara, akhirnya Adrasta memilih untuk memberhentikan motornya di sebuah kafe tengah kota. Setelah memasukinya, ia segera menghamburkan pandangannya, mencari tempat yang paling aman untuk membuka maskernya, tidak mungkin, 'kan ia meminum kopi tanpa membuka masker? Setelah beberapa saat, akhirnya ia menemukan sebuah meja yang berada di sudut ruangan. Adrasta segera berjalan ke arah meja itu. Namun, tak sengaja ia menjatuhkan sebuah tas milik seorang gadis yang duduk membelakanginya dan tengah sibuk dengan laptop miliknya, ia tampak tidak menyadari bahwa tasnya terjatuh karena telinganya yang tersumpal earphone. Adrasta terlihat tengah membereskan barang-barang milik gadis itu yang keluar dari tas abu-abu tersebut. Namun, ada sesuatu yang aneh, dengan rasa penasaran, ia pun meraih lukisan itu. Terlihat sebuah gambaran suasana istana Kerajaan Bergelmir serta wajah Ratu Himalia, Raja Triton, dan Panglima Styx di sana. "Apakah dia ...?" Setelah mengamatinya secara seksama, Adrasta pun segera menengok ke arah gadis itu. Ternyata gadis berbaju abu-abu itu pun telah menyadari tasnya yang terjatuh dan kehadiran seorang pria. Kedua pasang mata itu bertemu. "Kau ...," ucap Adrasta menggantung, tidak menyangka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN