Pagi ini Liana memutuskan untuk kembali bekerja. Walaupun masa cutinya masih tersisa beberapa hari lagi. Liana merasa tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi, sebab ia pun sudah bertemu dengan Aidan. Respon lelaki itu juga biasa saja, walaupun ia mendapat hinaan kemarin. Aidan juga terlihat biasa saat menatap Noah.
Jadi, tidak ada yang dikhawatirkan lagi.
"Mama kerja?" Noah masuk ke dalam kamar dengan membawa satu kotak s**u cokelat kesukaannya.
"Iya, nanti kamu main sama Nenek Hana ya. Nanti Mama antar ke sana sebelum kerja," ucap Liana.
Noah mengangguk saja. Jika Liana bekerja, terkadang Noah dititipkan ke seorang Nenek-nenek yang rumahnya tak jauh dari resort. Nenek itu mengelola sebuah cafe milik cucunya yang jarang pulang. Karena kesepian, Nenek itu bahkan yang meminta Noah untuk sering-sering mengunjungi dirinya.
"Kamu udah sarapan?" tanya Liana usai bersiap-siap. Kini dirinya telah rapi.
Noah menggeleng pelan. Yang ia lakukan sehabis mandi tadi menonton televisi, bukan sarapan.
"Ayo sarapan!" Liana meraih tangan Noah dan menarik bocah itu ke ruang makan.
"Noah kenyang."
"Kamu baru minum s**u. Jangan protes lagi, Noah."
"Iya-iya."
***
Liana berjalan santai menuju dapur Resort. Di sana sudah ada Tari yang sedang mengiris-iris daging. Di depan tari sudah ada bawang-bawang dan beberapa bahan dapur yang telah disiapkan.
"Apa yang kamu buat?" tanya Liana sambil memakai apron nya, matanya melirik pada potongan daging yang sedang Tari buat tipis-tipis.
"Ah itu, pengunjung resort ada yang meminta dibuatkan spaghetti dengan tambahan daging tipis." Tari menjawab tanpa melihat ke arah Liana.
"Pengunjung resort saat ini tidak banyak bukan?" Liana bertanya lagi.
"Hanya ada hanya ada tambahan dua keluarga yang berasal dari Aussie, mereka sedang berlibur."
Liana mengangguk paham. Ia menatap sekitar, mencari-cari apakah yang harus ia lakukan terlebih dahulu.
"Liana, spaghetti buatanmu sangat enak. Kamu saja yang lanjutkan, ya?" Tari nyengir kuda. Ia melimpahkan pekerjaannya pada Liana.
"Aku akan memasak yang lain," lanjut Tari dengan cepat saat melihat keterdiaman Liana. Siapa yang tahu, bisa saja Liana mengira dirinya akan bersantai-santai dan bukanlah bekerja.
"Baiklah."
Liana mengambil alih pekerjaan Tari. Dengan cekatan ia membuat spaghetti pesanan pengunjung. Ia membuat spaghetti carbonara seperti yang biasa ia buatkan untuk Noah.
Lima belas menit kemudian pekerjaan Liana selesai. Wanita itu menghampiri Tari yang sedang sibuk mengaduk sesuatu di panci.
"Spaghetti nya sudah siap. Anterin gih, nanti dingin."
"Kamu aja deh, ini aku belum selesai. Kamar nomor dua puluh." Tari membalas, ia menatap Liana dengan memohon dan bermaksud agar Liana saja yang meneruskan hingga akhir, karena pekerjaannya sekarang tidak bisa ditinggal.
Liana mengangguk setuju. Tanpa merasa keberatan, ia langsung meletakkan sepiring spaghetti dan segelas air mineral ke sebuah nampan dan membawanya keluar dari dapur.
Liana berjalan dengan langkah yang sedikit cepat karena ia ingin cepat-cepat kembali dan membantu Tari, memasak menu lainnya.
Setibanya di depan pintu kamar bernomor dua puluh, Liana langsung mengetuk pintu kamar itu dengan satu tangan yang menumpu nampan yang ia bawa.
Tok... Tok... Tok...
Sekitar satu menit menunggu seraya mengetuk pintu beberapa kali, akhirnya pintu kamar dibuka.
Nyaris saja Liana menjatuhkan nampan di tangannya saat melihat sosok yang membuka pintu kamar itu. Kenapa malah jadi Aidan?
Tangan Liana meremas kuat pada nampan di tangannya saat melihat tatapan yang mengandung celaan di wajah tampan Aidan.
"Pelayan, eh?" tanya Aidan dengan senyuman mengejek. Dengan kurang ajar ia meneliti penampilan Liana dari atas sampai ke bawah.
Liana tidak menjawab, ia menyodorkan nampan yang ia bawa pada Aidan. Namun, lelaki itu tak kunjung mengambil nampan berisi sarapan pesanannya.
"Ambil ini," ucap Liana dengan nada sedikit ketus.
Aidan tersenyum miring, "Letakkan saja sendiri di dalam."
Mata Liana menajam menatap Aidan yang tampak biasa saja. Bahkan seringaian yang lebih tepat seperti ejekan terbit di wajah pria itu.
"Aku tidak mau. Ambil cepat!" Kesabaran Liana sudah hampir habis. Kalau saja lelaki di depannya saat ini masih ingin mendebatnya, jangan salahkan Liana melempar nampan ditangannya ke wajah jelek Aidan.
"Siapa dirimu? Berani sekali memerintah pemilik resort ini. Mau dipecat, eh?" aidan berengsek, menggunakan kekuasaannya untuk mengancam Liana.
Liana mengepalkan tangannya erat. Lalu tanpa mengucap sepatah kata lagi ia berlalu dari hadapan Aidan. Namun, baru beberapa langkah, tangan Liana dicegat oleh pria jingan ini.
"Kamu beneran sudah menikah?"
"Untuk apa bertanya?" Liana memandang Aidan sinis.
"Jawab saja!"
"KALAU IYA, KENAPA?"
Aidan menyeringai lalu tertawa dengan keras. Membuat Liana menatap ngeri pada lelaki itu. Apa dia sudah gila tertawa tiba-tiba seperti itu?
"Memalukan. Aku melihat data Darian, dan dia masih single. Ngaku-ngaku, eh?" Lagi, Aidan mencela.
Tangan Liana mengepal kuat, ia menatap Aidan penuh kebencian. Sejak awal ia tidak menaruh rasa benci pada pria ini, tapi lama kelamaan tingkah Aidan seperti ini membuatnya muak.
"Apa urusanmu? Kenapa kamu menggangguku?"
Aidan terdiam, ia menatap Liana dengan tatapan yang sulit diartikan. Sebenarnya ia juga tidak ingin seperti ini. Tapi entah kenapa sisi jahatnya selalu muncul kala ia melihat Liana. Terlebih bayangan wanita itu saat berselingkuh kembali memenuhi kepalanya, membuat kepalanya mendidih.
"Aku hanya membuatmu semakin jatuh, waktu itu kamu membuatku seperti lelaki bodoh yang baru tahu kegiatanmu selama aku bekerja."
"Sudah aku katakan, aku tidak pernah berselingkuh. Kamu memang bodoh karena gamblang memutuskan sesuatu," ucap Liana sambil tersenyum kecut.
"Kalau kamu benar-benar lapar, ambil sarapan ini dan jangan menggangguku lagi. Aku sudah cukup bahagia dengan tidak adanya dirimu di sisiku." Liana berujar dengan nada tegas, sempat membuat Aidan kaget dengan nada suara wanita itu.
Liana menyodorkan kembali nampan yang telah ia bawa tadi.
Aidan menghela napas lalu mengambil nampan itu dan masuk kembali ke dalam kamar dengan langkah yang cepat.
Usai kepergian Aidan, Liana menarik napas, dan membuangnya perlahan. Hal itu ia lakukan beberapa kali. Ia bersandar pada dinding di sebelahnya, matanya menatap pintu kamar Aidan yang telah tertutup sempurna.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Liana?"
Liana menegakkan tubuhnya dan menoleh. "Eh, Darian."
Alis Darian tertaut. Ia menatap Liana menanti jawaban.
"A-aku hanya mengantar sarapan," ucapnya sedikit kikuk.
"Bukan itu maksudku."
"Lalu?"
"Bukankah cutimu masih ada beberapa hari lagi? Kenapa sekarang masuk?"
"Tidak ada yang bisa ku lakukan di rumah. Lagipula aku sudah berjumpa dengan Aidan, dia terlihat biasa. Jadi tidak masalah jika aku kembali bekerja."
Terlihat Darian menghela napas dan mengangguk. "Ya sudah, lanjutkan pekerjaanmu."
Liana mengangguk dan langsung berjalan dengan cepat menjauhi Darian, kembali ke dapur membantu Tari. Setibanya di dapur, Liana malah termenung di depan meja dapur.
Tari yang menyadari ada hal aneh yang terjadi pada Liana pun meninggalkan pekerjaannya yang sedang mengaduk sup jagung dan menghampiri temannya itu.
"Hei, kenapa melamun?" tanya Tari, menyikut lengan Liana pelan.
Tidak ada respon, semakin membuat Tari bingung plus khawatir. "Liana, ada apa? Apa terjadi sesuatu? Ayo cerita padaku," desak Tari dengan nada cemas.
Liana tersentak pelan. Bak orang linglung, Liana tampak tak fokus menatap Tari. "E-eh i-iya? Kenapa, Tar?"
Tari berdecak pelan. "Kamu yang kenapa? kenapa melamun? Apa telah terjadi sesuatu?"
Liana tersenyum menenangkan kemudian menggeleng, "Tidak ada apa-apa. Ayo kembali bekerja."
Tari menatap Liana curiga dan dengan mata yang menyipit. Tampak tak percaya dengan ucapan Liana barusan. Namun, dengan segera Liana menghilangkan tatapan curiga di wajah Tari.
"Tidak apa-apa, Tari. Ayo bekerja. Jangan mengintrogasiku kayak polisi aja!" tukas Liana sambil tertawa pelan.
"Baiklah, aku percaya. Jika ada sesuatu yang mengganggumu, cerita padaku. Akan ku bantu untuk memecahkan masalahnya, serumit apapun itu."
Liana tersenyum haru lalu memeluk erat Tari. "Terima kasih sudah peduli, nanti aku pasti akan cerita padamu, Tar."
Tari membalas pelukan Liana tak kalah erat. Ia yakin, ada sesuatu, namun ia tidak menuntut penjelasan. Tari akan menunggu Liana menceritakan semuanya sendiri padanya.