Mas Harso yang baru saja mengambil handuk dan baru membuka pintu kamar menatapku heran. “Rum, kamu buat apa beli lemari lagi? Di simpan di kamar pula?” “Di dapur sekarang banyak tikus, Mas! Aku mau simpen stock makanan bulanan kita di dalam kamar!” jawabku. Tidak mungkin aku menjelaskan secara gamblang. Bagaimanapun, Mas Harso selalu memintaku untuk memngayomi kedua orang tersebut. Tapi adik seperti apa dulu yang harus kuayomi? Seenak jidatnya saja. Mas Harso mandi duluan sebelum Ali. Kulihat Reni ada di dapur dan tengah menatap magic com nasi yang kosong. “Mbak, nasi kho gak ada, ya?’ tanyanya padaku. “Habis,” jawabku singkat sambil mengambil satu cangkir keramik besar. Aku akan membuatkan Mas Harso teh manis hangat dalam mug besar seperti biasa. “Kho, bisa habis?” tanyanya sa

