Glurrr... Suara gemuruh petir itu semakin menjadi. Jemari tangan Funa mencoba melepaskan tali yang mengikat erat kedua pergelangan tangannya. Tapi, dia tetap saja gagal. Rasa sakit mulai merasuk ke tulangnya. Ikatan itu semakin membuatnya kesakitan. Dia tahu, rasa sakit itu akan berubah menjadi luka lebam lagi. Untuk kesekian kalinya. Kedua tangannya penuh dengan bercak lebah berwarna biru. Fina mencoba untuk tenang. Dia menekankan matanya sejenak. Membiarkan hati dan pikirannya berbicara. "Aku mohon datanglah, Mas.." suara itu begitu familiar di telinganya. Duaaarr... Sebuah petir menyambar rapat di samping gubuk yang di tempatnya. Membuat jantung Fina semakin berpacu sangat cepat. Angin, bertiup memporak porandakan dedaunan di pohon sekitarnya. Suara kayu yang berbenturan itu te

