“Ada urusan apa pergi pagi-pagi banget gini?” Mirza mendumal, mencurigai sesuatu. “Gak pagi banget, deh. Segini udah siang tau.” Citra melihat jam di ponselnya yang menunjukkan pukul tujuh pagi. “Biasanya juga pergi abis sarapan. Ini kamu belum sarapan belum apa, main pergi aja.” Mirza tetap merasa aneh. “Kakak juga kenapa ngotot banget mau nganterin aku? Padahal Kakak juga belum sarapan.” Citra malah memutar pertanyaan. “Seenggaknya Kakak udah mandi, udah rapi, tinggal sarapan.” Mirza tidak sulit mencari jawaban. “Lagian gak ada yang anterin kamu. Pak Hardi 'kan gak tau kamu mau pergi pagi.” “'Kan bisa pake taksi.” Citra bicara kurang jelas perkara mulutnya dipenuhi roti. “Tumben pacar kamu gak jemput.” Mirza terdengar menyindir. “Aku suruh jemput di kosan Zia,” sahut Citra tenang,

