PART - 9 : INSIDEN BENTO

1813 Kata
“Arjuna Ivander.” Naura mengulang nama itu di kepalanya. Namanya aja udah macho banget meski terkesan sangat Indonesia tapi cocok untuk hot daddy yang satu itu. Bertanya-tanya dalam hati apa wanita berdandanan menor yang dilihatnya kemarin malam di restoran itu adalah Srikandinya. "Iya." Karen menyendok rawon iganya ke dalam mulut sebelum melanjutkan. "Pak Arjuna yang gendong kamu ke klinik. Dia panik banget tadi." "Bohong!!" bantah Naura dengan lantang. Mana mungkin lelaki straight face begitu panik. Kalau tertawa mengejek sih lebih masuk akal. Karen berdecak, menggigit iga lepas dari tulangnya dan mengunyahnya. "Terserah kalau gak percaya." "Aku gak percaya." Karen menggidikkan bahu, terus mengunyah sementara Naura bahkan belum menyentuh iga rawon yang sangat diidamkannya dari tadi pagi karena sibuk memikirkan nasibnya yang hari ini memalukan. Lebih tepatnya, sangat-sangat-sangat-sangat memalukan. Naura bersyukur ketika terbangun dari pingsannya, lelaki dengan ekspresi sedatar triplek itu sudah tidak ada. Karen yang menungguinya di klinik karena kebetulan dia belum pulang akhirnya Naura geret sekalian untuk menemaninya makan juga mengorek informasi. "Pak Arjuna datang buat nyariin kamu tapi dia nemuin Ibu Dahlia dulu." Mampus, apa laki-laki itu mengadu sama si Ibu gendut. "Ngapain nemuin kepala sekolah?" tanya Naura seraya memajukan kepalanya, kepo. Karen menaikkan alis. "Nggak tahu. Itu juga bukan uruan kita kan." Naura mundur dan merengut. "Hmm, iya sih." "Tapi memang sih katanya Putri kalau Pak Arjuna kebetulan lagi gak sibuk dan bisa jemputin Keylan lebih awal, pasti nemuin dulu Kepala Sekolah. Mungkin nanyain gimana kelakuan Keylan di sekolah." "Masuk akal sih." Naura mengangguk. "Eh tapi, Pak Arjuna itu memang galak atau dendaman ya?" Naura menarik mangkuk rawonnya dan mengaduknya seraya melihat Karen yang menggeleng. "Galak dari mana? Sama guru-guru malah baik banget " "Kok ngomong nyolot banget terus ekspresinya itu loh bikin pengen banget aku cakar wajahnya." "Ah masa sih?" Karen malah bertanya balik. "Kamu sih bawaannya emosi terus sama Keylan makanya keikutan emosi juga pas ngelihat Pak Arjuna. Padahal ganteng gitu loh, masa mau dicakar. Mending dielus aja." Naura memutar bola mata, memasukkan banyak sambal ke mangkuknya membuat Karen mendelik melihatnya. "Ganteng sih tapi ekspresinya bikin kesel. Heran aja kok bapak sama anak sama-sama tingkahnya nyebelin ya." Naura menundukkan wajah, menyerumput kuahnya dan tersenyum saat merasakan nikmatnya. "Kalau Keylan sih masih bisa di jewer kalau dia nakal tapi kalau bapaknya—" Naura bergidik. "Mau ngejewer kan gak mungkin banget. Eh, aku yang dipelototin balik." "Kamu juga ada-ada aja sih. Selama ini, Pak Arjuna gak pernah bermasalah sama para guru dan menurut pendapatku pribadi sih, dia laki-laki yang baik banget terus sayang banget sama Keylan." "Ah masa?" "Papi masa kini yang perhatian banget sama anak. Terus katanya Keylan sih yang buatin bekal bentonya itu si Papinya," Naura menelan nasi dan daging iganya. "Ah, gak percaya. Laki-laki sangar begitu masa sih bisa buat bento. Pasti istrinya tuh yang buatin. Ngomong-ngomong pasti srikandinya cantik ya?" "Srikandi?" tanya Karen. "Istri, maksudnya." Karen menggelengkan kepala. "Kan namanya Arjuna, kali aja nama istrinya Srikandi." "Ngaco!!" Karen tertawa. "Tapi aku gak pernah sih lihat wujudnya, gak tahu cantik atau jelek." "Lah?" "Selama Keylan bersekolah, hanya Pak Arjuna yang datang untuk mengurusi semuanya. Sama sekali gak pernah kelihatan itu istrinya." Naura duduk tegak, makin kepo. "Wah seriusan! Apa dia duda? Atau lagi pisah ranjang?" Jadi, siapa dong wanita yang dia lihat di restoran semalam? Selingkuhannya. "Entahlah. Kalau tanya sama Keylan sih dia selalu jawab kalau Maminya itu lagi sakit." "OMG!" Naura menutup mulutnya dengan tangan. Wah, hot daddy yang ini kayaknya suka jajan di luar deh "Kenapa sih kamu kok sepertinya penasaran banget?" "Gak apa-apa." Naura berlagak sok cuek padahal dalam hati berpikir keras. Kenapa juga dia malah sok sibuk seperti ini? "Jangan pingsan lagi seperti tadi bikin orang panik. Aku aja sampai kaget banget ngelihat kamu yang pucat dan lemas seperti itu. Pak Arjuna bahkan sampai berpesan, untuk mastikan itu jidat kamu benjol atau gak, siapa tahu tiba-tiba kamu amnesia," kekeh Karen. Naura manyun. "Sok perhatian, cih!! Bodo amatlah sama dia. Moga aja besok aku gak bakalan ketemu lagi sama dia." "Gak mungkin banget, lah Pak Arjuna tiap hari antar jemput Keylan." Naura tersenyum kecut, mencoba fokus dengan daging iganya. Tapi masalahnya, kenapa tatapan tajam dan nama laki-laki itu selalu muncul di kepalanya. Arjuna Ivander. Di mana dia pernah mendengar nama itu? *** "Bu Bos, besok malam ada undangan jamuan makan malam di Restoran Sky Garden,” ucap Amel, sekeretarisnya melalui telepon. "Jamuan membosankan lagi," decak Naura. "Kalau Bu Bos mager, biar Amel yang gantiin. Siapa tahu bisa dapat jodoh," kekehnya membuat Naura mendengus dan memutar bola mata. "Mau cari CEO?" "Iya siapa tahu aja lagi beruntung, Bu." "Beruntung itu kalau kamu gak ditawarin jadi istri ketiga atau keempat." "Yang penting kecipratan hartanya ya gak apa-apalah," kekeh Amel. "Sinting!!" Amel tertawa, Naura mengambil cangkir tehnya dan menyesapnya perlahan. "Bu Bos lagi ada misi terselubung apa sih kok Amel gak boleh tahu?" "Rahasia." "Ish, Bu Bos dari dulu nyebelin malah makin nyebelin. Habisnya banyak banget relasi dan karyawan kita yang nanyain kok lama banget ngilangnya tiga bulan, seperti bang toyib aja." Seharusnya sih punya sekertaris bawel seperti Kamelia ini sudah dia pecat dari dulu-dulu tapi otak pintar serta keterampilan wanita itu yang cekatan tidak ada duanya meskipun mulutnya ceriwis sekali. Amel sudah dia anggap seperti tangan kanannya selama dia tidak ada. Jadi cara paling jitu ya abaikan aja ocehannya. "Bu Bos bakalan ketinggalan banyak gosip di sini." "Aku sudah terima beberapa email kamu tentang komplain yang kita dapat di beberapa restoran dan aku setuju sama beberapa penyelesaian yang dewan direksi usulkan tapi ada beberapa hal yang aku garis bawahi di sana. Besok pagi aku kirim lagi dan kamu bicarakan dengan yang lainnya." "Siap laksanakan, Bu Bos." Naura tersenyum, "Gimana untuk masalah pemutusan kontrak sepihak yang dilakukan Verister Corporation. Dia itu klien lama kita yang sebelumnya tidak ada masalah bahkan tidak ada komplain tapi kenapa sekarang malah memutuskan kerja sama secara mendadak?" "Loh Bu Bos gak tahu?" "Gak," jawab Naura langsung. "Perusahaan itu sudah diambil alih kepemilikannya dan pemiliknya yang baru merasa kalau service katering kita kurang memuaskan." Naura duduk tegak. "Kurang memuaskan bagaimana?" "Gak tahu Bu. Pak Anton sampai geleng-geleng kepala karena mengatakan kalau pemiliknya itu banyak maunya." Naura berdecak. "Coba jadwalkan pertemuanku dengannya. Sepertinya harus aku sendiri yang menanyakannya. Masalahnya, ini perusahaan penting yang kita prioritaskan selama ini." "Siap bos. Nanti aku akan menghubungi sekretarisnya." "Ya sudah kalau begitu. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku ya." "Siap. Selamat malam Bu Bos. Jangan lupa teh hijaunya dihabiskan ya," kekeh Amel yang tahu kebiasannya. Naura menghela napas, duduk diam memandangi deretan gedung di luar sana memikirkan pekerjaan barunya yang rasanya sudah dia jalani bertahun-tahun. "Kira-kira apalagi yang bakalan anak-anak itu lakuin besok," decaknya seraya memijit pelipis. Setiap hari ada saja polah anak-anak itu yang membuat emosinya naik ke kepala. Naura mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Wisnu tapi langsung tersambung ke operator. Naura sangat merindukan laki-laki itu dan berharap kalau Wisnu mau bersabar dan mengerti dengan proses yang harus dia jalani ini. Naura : Aku merindukanmu,Sayang. 31Mei 2023 10.00PM *** "Bu Naula—" "Apa?!" jawab Naura sambil melotot. Keylan merengut seraya mengulurkan kotak bekalnya. "Ini buat Ibu Gulu." "Kenapa buat Ibu?" Naura sempat kaget saat tiba-tiba Keylan datang dan memberikan bekalnya yang biasa dia bawa di kotak makan motif spiderman itu padahal masih terlalu pagi. Biasanya Keylan akan datang kalau sudah mendekati jam masuk sekolah. "Supaya Bu Gulu enggak pingsan lagi sepelti kemalin." Naura mendorong balik bekal itu. "Gak usah, Ibu sudah sarapan." Keylan menarik bekal itu dengan wajah sedih. Naura berdecak. "Nanti kalau Ibu yang makan, kamu bisa pingsan." Keylan menggelengkan kepala, menyodorkan lagi bekalnya. "Kata Papi jadi anak lelaki itu halus kuat, halus mendahulukan pelempuan." Naura menaikkan alis mendengarnya, anak sekecil ini sudah diajarin menjadi seorang gantleman. “Kalau gak mau semua ya udah sepaluhnya aja.” "Nanti Ibu yang dimarahin sama Papimu." Naura berdiri dari duduknya setelah membereskan buku bergambar juga crayon yang akan mereka gunakan nanti. "Udah deh, bawa lagi sana. Ibu sudah sarapan." Keylan cemberut, memeluk kotak bekalnya sementara Naura keluar dari kelas menuju ke ruangannya dan tidak menyadari Keylan yang mengikutinya. "Nanti kalau ada kodok lagi, Key gak mau nolongin ibu gulu. Bial aja menjelit seperti kemalin. Weeeee." Naura mendelik dan menunjuknya. "Itu kamu kan yang masukin kodok ke sepatu Ibu?" "Kodoknya masuk cendili kok." "Kamu gak mau ngaku," Naura menyimpitkan mata. "Gak Bu." Naura melipat lengannya di d**a, Keylan berdiri di depannya dengan dagu terangkat. "Besok-besok gak cuma kodok tapi juga cicak, bial lame." "Ehh, anak nakal ya. Kecil-kecil sudah ngancem-ngancem." "Key ngak ngancem." Keylan berbalik, berniat berlari tapi malah kepeleset dan terjatuh membuat kotak bekalnya berhamburan lalu menangis kencang. "Huuuuaaaaaaaa," Teriaknya. Naura bengong melihat Keylan yang menangis dan mendiamkannya saja sampai tidak menyadari seseorang berteriak dari kejauhan. "Keylan—" Arjuna datang mendekat, menarik Keylan bangun dari posisi terlentangnya dan menenangkannya. "Sayang, kamu gak apa-apa kan?" "Hikss.. hiksss.. bekal bento Keylan jatuh Pi." Arjuna menggendong Keylan, mengelus kepalanya dan menghapus air matanya. "Nanti Papi buatkan lagi ya." Naura memperhatikannya dalam diam, lalu tatapannya jatuh ke kotak bekal yang terbuka dan tumpah itu lalu tanpa sadar mendekat dan mengambilnya seraya mengamati isinya. "Hei, kamu—" Naura mengalihkan pandangannya saat mendengar seruan itu dan melihat wajah Arjuna yang nampak kesal. "Pasti kamu kan yang—" "Ini bukan kamu yang buat kan?" Di depannya, Arjuna terdiam sementara Keylan memeluk leher Papinya dan meletakkan kepalanya di bahunya. "Apa maksudmu?" Naura mendekat, "Bekal itu kamu pesan dari restoran Bento's Break kan?" "Papi yang buat kok." Keylan bersuara. "Ah bohong!" Naura menyela. "Papimu pesan direstoran cepat saji yang khusus menyediakan menu bento buat anak-anak." Naura mingkem saat menyadari tatapan mengerikan yang dilayangkan Arjuna di depannya. "Papi Keylan gak boooong!" Teriaknya. "Bu gulu jahat. Padahal tadi bento itu kan mau Keylan kasih buat Ibu Gulu tapi malah jatuh." "Kamu sih pake ngolok." Naura benar-benar gak mau dikalahin adu mulut sama anak kecil, lagian Keylan jatuh karena salahnya sendiri. "Ibu kan sudah bilang gak mau." "Kamu—" Arjuna akhirnya buka suara. Naura menaikkan dagunya, menantang dan menyela. "Kamu pasti mau tanya kan bagaimana aku bisa tahu." Lalu berdecak. "Menu yang Keylan bawa hari ini sama seperti menu yang aku buat untuk restoranku itu. Lagian, aku juga gak akan percaya semudah itu kalau kamu bisa membuat bento selucu ini." Arjuna perlahan maju dan menghunuskan tatapan tajamnya. "Dengar Naura! Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu ini," bisiknya mematikan. "Keylan jatuh, menangis di lantai tapi kamu malah diam aja bengong kayak patung dan sekarang kamu dengan seenaknya mengatakan hal yang tidak-tidak seperti itu di depan Keylan. Kamu harus menerima akibatnya." "Memangnya kamu mau apa, hah?!" Arjuna tersenyum miring. "Ikut aku sekarang atau terima akibatnya karena aku tidak akan melepasmu dengan mudah." Naura ternganga saat tiba-tiba tangannya ditarik dan di geret paksa menuju ke arah parkiran. Lalu disentak mendekati mobil BMW mewah yang ada di sana. "Aku pastikan, kalau urusan kita akan semakin panjang lagi," desis Arjuna. Oh sial!! Jangan-jangan dia beneran mau dicebloskan ke penjara. Shit!!! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN