BAB 14

1037 Kata
"Ekhemm." Kedua orang itu mengurai pelukannya. Keduanya tampak salah tingkah. "Mama, kapan sampai, Ma?" tanya Revan sembari menghampiri Mama nya. "Udah dari tadi," goda sang Mama sembari berjalan mendekat ke arah Rheina. Wanita paruh baya itu tersenyum melihat Rheina yang tengah tersipu malu karena kepergok memeluk anaknya. "Kamu udah baikan?" tanya Mama Revan ramah. "Sudah, Tante," jawab Rheina malu-malu. "Nama kamu siapa?" "Rheina, Tante," jawab Rheina. "Panggil Mama, oke?" pinta Mama Revan. "Mama sampai khawatir kamu kenapa-kenapa, loh, Van. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Rheina sampai babak belur?" tanya sang Mama kepada Revan. Revan menghela nafas berat. Pria itu seperti enggan menceritakan kembali apa yang beberapa saat lalu terjadi. Revan tak ingin Rheina mengingat kejadian tadi pagi. Revan menatap Rheina, seolah meminta persetujuan gadis itu untuk menceritakan kembali kejadian tadi. Mendapat anggukan dari Rheina, Revan akhirnya mulai menceritakan semuanya. Revan menceritakan kejadian penganiayaan oleh mantan suami Rheina itu kepada Mamanya. Dia tak ingin wanita paruh baya itu berpikir aneh-aneh. Sang Mama dapat menangkap sebuah petunjuk baru yang tak sengaja diberitahukan Revan dalam ceritanya. Rheina adalah orang yang dimaksud Revan, wanita yang berhasil mengambil hati Revan. Mama Revan tersenyum hangat. Tampak Mama Revan tak keberatan dengan Rheina. Wanita itu menyambut Rheina sebagai anggota keluarga mereka. Mama Revan tak terlalu banyak menanyakan tentang diri Rheina. Wanita yang masih cantik di usianya yang tak lagi muda itu mengerti jika Rheina masih butuh perhatian ekstra. Rheina dan Mama Revan terlalu asyik mengobrol. Hingga tanpa terasa hari sudah menjelang petang. Revan meminta sang Mama agar pulang terlebih dahulu. "Mama gak mau pulang. Biar Mama di sini yang jagain Rheina. Kamu pulang saja," ujar Mama Revan ketus. "Ayolah, Ma. Kalau Papa tanya kenapa Mama gak pulang, Revan mau bilang gimana?" bujuk Revan lagi. "Bilang aja, Mama lagi jagain calon menantu yang lagi sakit di Rumah Sakit," jawabnya enteng. Revan hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Mamanya sungguh blak-blakan dalam berkata. "Tante, Rheina udah gapapa. Dibanding Rheina, ayahnya Revan lebih membutuhkan Tante," bujuk Rheina. "Baiklah kalau begitu. Tapi besok Tante akan ke sini lagi nemenin kamu." Rheina mengangguk. "Kamu pulanglah juga, Kak. Aku gapapa. Ada suster di sini. Kamu gak perlu khawatir. Mending kamu antar Tante lalu beristirahat di rumahmu," ucap Rheina kepada Revan. Akhirnya dua orang ibu anak itu meninggalkan Rheina di kamar rawat. Sesuai permintaan Rheina, Revan mengantar Mamanya agar Mamanya mau diajaknya pulang. *** "Dari mana kamu, Mas?" "Bukan urusan kamu, tadi ada urusan kerjaan," ucap Vano santai. Pria itu melenggang melewati Novita lalu menuju ke dapur untuk minum. "Kalau urusan kerjaan, kenapa sampai babak belur gini?" omel Novita lagi. Vano menepis tangan Novita. Pria itu meringis nyeri saat Novita menyentuh ujung bibirnya. "Aku ambilkan obat dulu." Novita bergegas pergi mengambil kotak obat. Mendapat penolakan dari Vano seperti itu sedikit mengusik harga dirinya. Dia merasa Vano mulai berubah. Vano tak lagi menuruti semua keinginannya. "Apa dia tahu sesuatu?" pikir Novita. Novita mengamati Vano dari jauh. Pria itu tampak sedang melamun. Entah apa yang ada di pikirannya. Novita bergerak mendekat ke arahnya pun tak dihiraukannya. "Ada apa? Kebanyakan melamun bisa kesambet, loh." Novita berusaha mencairkan suasana. Vano masih terdiam. Pria itu kemudian menoleh dan melihat ke arah perut Novita. Tangannya kemudian terulur hendak menyentuh perut Novita yang mulai membuncit. "Sudah berapa bulan?" tanya Vano bermaksud menanyakan usia kandungan Novita. "Sudah hampir empat bulan." Novita menjeda ucapannya. "Apa tak ada niatan darimu menikahi ku?" Vano terdiam. Dia bingung. Hati kecilnya kini ragu. Entah kenapa setelah berpisah Vano merasa ada sesuatu yang kurang? "Besok kita periksakan kandungan mu." "Tak perlu. Aku kemarin sudah memeriksakannya. Semuanya baik-baik saja." "Baiklah kalau begitu." Vano kemudian beranjak dari duduknya. Pria itu kemudian menuju kamar mandi hendak membersihkan diri. Novita hanya menatap kepergian Vano dengan mata berkaca-kaca. Entah mengapa dia merasa sedih melihat Vano yang seperti itu. Di sisi lain, ada sebuah rasa takut yang begitu besar dalam diri Novita. Dia takut apa yang tengah ia sembunyikan justru membuat Vano semakin membencinya. Dia bertekad untuk memendam semuanya sendiri. Dia tak ingin usahanya mendapatkan Vano menjadi sia-sia. Susah payah ia memisahkan Vano dengan Rheina hingga ke posisi saat ini. Meski belum menikah secara hukum dan agama, Novita merasa baik-baik saja. Tapi tidak untuk saat ini. Melihat perubahan dalam diri Vano, dia ingin mengikat Vano agar tak jauh dari jangkauannya. Bodoh jika ia melepaskan Vano yang notabene seorang manager perusahaan, yang pastinya gajinya lebih besar dari gaji miliknya. Novita masih belum siap untuk kehilangan semuanya. "Anak ini, akan selalu menjadi alasan agar kamu tak meninggalkan ku, Vano," ujar Novita. *** Rheina tengah menatap indahnya langit malam dari kamar rawatnya. Saat menikah dengan Vano dulu, tak pernah ia sedikitpun merasa kesepian. Vano sangat menyayanginya, memperlakukan ya layaknya seorang ratu. Namun semuanya tergerus oleh waktu. Belum lagi hadirnya Novita diantara mereka, membuatnya harus melepaskan Vano. Sedih? Pasti. Vano dulu merupakan satu-satunya orang yang ia punya. Rheina tak memiliki siapa-siapa lagi selain Vano. Mertuanya? Jelas sekali sejak awal menikah, kedua orang tua Vano menentang pernikahan mereka. Terlebih mengetahui Vano dan Rheina belum memberi mereka cucu. Semua kesalahan dilimpahkan kepada Rheina. Mertuanya menuduh Rheina tak bisa memberi anak apalagi mengetahui kalau Rheina memiliki penyakit dalam tubuhnya. Rheina terisak. Dia masih tak menyangka, Vano yang dulu lembut padanya berubah menjadi beringas. Pria itu bagai orang asing semenjak perceraian benar-benar terjadi pada mereka. Bukankah Vano menginginkan perceraian ini? Kalau tidak, kenapa membawa Novita hadir di antara mereka? TOK... TOK... TOK... "Masuk," ucap Rheina mempersilahkan orang yang mengetuk pintunya masuk. "Belum tidur, Re?" Ella memasuki kamar inap Rheina. "Mbak sama siapa ke sini?" "Sama suami dan Delisha. Tapi Mbak cuma sebentar, Re." "Iya, Mbak. Gak apa-apa." "Maaf, ya. Mbak cuma bisa bawain baju ganti kamu aja. Malam ini udah ada janji sama suami soalnya." "Gapapa, Mbak. Santai aja...." Rheina tersenyum. "Bentar lagi Revan ke sini. Katanya dia mau jagain kamu, takut kenapa-kenapa katanya," ujar Ella lagi. "Eh, kok gitu. Mending gak usah, Mbak. Aku gapapa sendirian." "Kamu hubungi Revan sendiri aja ya. Mbak balik dulu, udah ditelpon suami, nih." Ella memasukkan ponselnya ke dalam tasnya lagi. "Cepat sembuh ya, Re." Ella pamit kepada Rheina yang dijawab dengan anggukan. "Makasih, Mbak." Ella pun pergi dan menghilang di balik pintu. Rheina memilih merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia berusaha memejamkan matanya, berharap agar terlelap dan bangun keesokan harinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN