Bab 8 – Sejak Kapan Kamu Menjadi Wanita Murahann?

1900 Kata
“Nyonya, biar saya saja yang pergi ke supermarket.” Mirna—pengasuh Keanu berucap dengan nada yang sopan pada Arletta—yang ingin pergi ke supermarket. Ya, tadi baru saja Keanu meminta dibuatkan pasta aglio olio. Karena stock pasta habis, Arletta ingin pergi ke supermarket. “Tidak apa-apa. Aku saja yang pergi ke supermarket. Tolong kamu jaga Keanu, ya. Aku tidak akan lama,” ucap Arletta pelan. Bukan tak mengizinkan Mirna untuk berbelanja bahan-bahan makanan tetapi Arletta lebih nyaman ingin berbelanja bahan-bahan makanan sendiri. Pun dia juga ingin membeli buah-buahan serta makanan cemilan untuk Keanu. “Baik, Nyonya.” Mirna menjawab dengan sopan.  Arletta tersenyum samar. Kemudian, dia melangkah masuk ke dalam mobil. Detik selanjutnya, Arleta mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman parkir di gedung apartemennya. Sepanjang jalan, Arletta melihat jalanan yang tak pernah sepi. Lebih tepatnya semakin malam maka suasana di kota Jakarta semakin malam. Tampak senyuman di wajah Arletta terlukis melihat pasangan naik motor. Dua insan itu terlihat sangat bahagia. Memang benar apa kata orang. Bahagia memang mudah. Hanya cukup bersyukur maka kita akan bahagia. Seperti apa yang Arletta lihat saat ini. Tak selang lama, mobil Arletta mulai memasuki supermarket; Arletta langsung memarkirkan mobilnya. Lalu dia turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam supermarket. Tak lupa Arletta mengambil troly belanja. Dia tahu kalau pasti dirinya akan membeli banyak stock makanan. Mengingat Keanu sedang dalam masa pertumbuhan. Dan Arletta pun menginginkan yang terbaik untuk anaknya itu. Arletta mulai mengambil beberapa jenis pasta. Tak hanya pasta saja tapi Arletta mengambil beberapa makanan kecil, buah-buahan, dan terakhir Arletta mengambil daging sapi. Ya, troly Arletta kini penuh dengan bahan-bahan makanan. “Apa lagi ya? Sepertinya sudah semua,” gumam Arletta pelan. Tampak wanita itu tengah memikirkan apa lagi yang belum dia ambil. Karena seingatnya semua makanan yang diperlukan telah masuk ke dalam troly belanjanya. “Arletta?” Suara bariton memanggil Arletta sontak membuat Arletta sedikit terkejut. Segera, Arletta mengalihkan pandangannya menatap sumber suara itu. “Arvin?” Raut wajah Arletta berubah kala melihat Arvin—rekan kerjanya. “Kamu di sini?” tanyanya kala Arvin mendekat padanya. Rasanya dunia begitu sempit. Di supermarket saja dirinya bisa bertemu dengan rekan kerjanya. “Well, kita bertemu lagi dengan tanpa sengaja. Apa kita berjodoh?” Arvin tersenyum samar kala mengatakan ituu. Arletta pun tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. Dia sudah menduga sejak awal kalau Arvin memang sangat konyol. “Apa kamu berbelanja bahan makanan?” tanyanya yang tak mengindahkan ucapan Arvin tadi. Arvin mengangguk. Lalu dia mengalihkan pandangannya pada troly Arletta. “Sepertinya kamu nggak tinggal sendiri, Arletta. Apa kamu memiliki adik?” tanyanya kala melihat banyaknya makanan kecil yang sering dikonsumsi anak-anak. Seketika ucapan Arvin langsung membuat raut wajah Arletta berubah. Wanita itu menjadi sedikit panik. Pasalnya di kantornya yang baru belum ada yang tahu kalau dirinya memiliki anak. Bukan tidak mau jujur tapi permasalahannya adalah kantor di mana Arletta bekerja milik Keevan. Arletta tidak mau sampai ada yang tahu tentang Keanu. “Ah, ini untuk keponakanku. Keponakanku sedang berada di apartemenku,” jawab Arletta buru-buru. Wanita itu segera mengulas senyuman di wajahnya agar Arvin tidak curiga padanya. Arvin mengangguk-anggukan kepalanya. “Kamu seorang Bibi yang baik hati pada keponakanmu.” Arletta kembali tersenyum. “Hm, Arvin. Aku ingin ke kasir dulu membayar belanjaanku.” “Kalau begitu kita bersama. Aku juga ingin membayar belanjaanku,” jawab Arvin ramah. Arletta menganggukan kepalanya. Melangkah menuju kasir bersamaan dengan Arvin menuju kasir. Tampak Arvin sejak tadi tak henti-hentinya menatap Arletta. Pun senyuman di wajah Arvin terlukis kala melihat Arletta mengulas senyuman pada kasir yang menyapanya. Ya, dalam penilaian Arvin, Arletta adalah wanita yang lemah lembut dan baik hati. “Total belanjaan Anda enam ratus ribu rupiah, Nona,” ucap sang kasir pada Arletta. “Biar aku aja yang bayar.” Arvin langsung menyodorkan kartunya untuk membayar barang-barang belanjaan Arletta. Namun dengan cepat Arletta langsung mencegah Arvin. “Arvin jangan. Biar aku saja yang membayar ini,” kata Arletta yang tak enak kala Arvin ingin membayarkan barang-barang belanjaanya. “Arletta biar aku yang membayarnya. Sekalian aja kasirnya menghitung dengan barang-barang belanjaanku.” “Tapi—” “Mbak, pakai ini. Hitung sekalian sama barang belanjaanku.” Belum juga Arletta menyelesaikan ucapannya, Arvin langsung memerintah kasir untuk menjadikan satu barang belanjaan miliknya dan barang belanjaan milik Arletta. “Baik, Tuan.” Sang kasir segera menghitung total belanjaan barang-barang milik Arvin, menggabungkannya dengan total barang belanjaan milik Arletta. Dan ketika kasir itu sudah melakukan pembayaran; kasir itu mengembalikan debit card milik Arvin seraya mengucapkan terima kasih. Arletta mendesah pelan ketika Arvin membayarkan barang-barang belanjaannya. Sungguh, Arletta merasa tidak enak pada Arvin. Ditambah dirinya baru saja mengenal Arvin. “Arvin, harusnya kamu nggak perlu membayarkan barang-barang belanjaan aku,” ucap Arletta dengan embusan napas panjang. Ya, kini dia melangkah keluar dari supermarket bersama Arvin—menuju halaman parkir. “It’s okay, Arletta. Kalau tadi kita bayar sendiri-sendiri akan memakan waktu lama. Kalau sekaligus kan lebih cepat,” jawab Arvin seraya menatap Arletta dengan tatapan yang tak biasa. “Tapi aku nggak enak padamu, Arvin.” “Nggak perlu merasa nggak enak. Lain kali cukup kamu traktir aku makan bersama, maka itu sama saja kamu sudah membayarku. Bagaimana?” “Oke, next time aku akan mentraktirmu makan bersama.” Arletta tersenyum. Pun Arvin membalas Arletta dengan senyuman ramah. Detik selanjutnya, Arletta dan Arvin melangkah menuju mobil mereka masing-masing. Awalnya Arvin ingin mengantarkan Arletta pulang namun Arletta membawa mobil sendiri. Terpaksa Arvin mau tak mau membiarkan Arletta pulang sendiri. Padahal terlihat jelas wajah Arvin begitu berharap bisa mengantarkan Arletta pulang. Saat Arletta dan Arvin tengah berjalan menuju mobil mereka, tiba-tiba langkah kaki Arletta dan Arvin terhenti melihat sosok pria tampan bertubuh tinggi tegap turun dari mobil sport. Dan seketika raut wajah Arletta langsung berubah melihat pria itu. Jantung Arletta berpacu dengan keras. Aroma parfume maskulin yang begitu dia kenali ini seolah melumpuhkan syarafnya. “Tuan Keevan?” Arvin menyapa dengan sopan Keevan yang ada di hadapannya. Ya, pria yang ada di hadapan Arvin dan Arletta adalah Keevan. Namun, sayangnya sapaan Arvin itu diabaikan oleh Keevan. Terlihat Keevan menatap dingin Arletta yang ada di dekat Arvin. Bahkan Keevan pun melihat kantung belanjaan yang ada di tangan Arvin. Mata Keevan seperti tak suka melihat apa yang ada di hadapannya. Akan tetapi, Keevan masih diam dengan wajah dingin dan sorot mata tajamnya. “Kebetulan kita bertemu di sini. Ikut aku, Arletta. Ada pekerjaan yang ingin aku bahas denganmu,” tukas Keevan dingin dan tegas. Arletta terkejut kala mendengar apa yang diucapkan oleh Keevan. “Tapi aku—” “Aku tidak menerima bantahan. Cepat masuk ke dalam mobilku. Ada pekerjaan penting yang aku mau bahas padamu.” Keevan membalikan tubuhnya, pria itu langsung masuk ke dalam mobil. Tampak wajah Arletta semakin terkejut. Mata wanita itu melebar bercampur merah menahan amarah. Arletta tidak sudi satu mobil dengan Keevan. Tapi, Arletta tidak bisa membantah karena Keevan adalah bos dari perusahaan di mana dirinya bekerja. Sejenak, Arletta mengatur napasnya. Meredakan emosi yang terbendung dalam dirinya. Entah apa yang membuat Keevan langsung memintanya untuk satu mobil dengannya. Padahal kalau memang ada pekerjaan penting maka Keevan akan berbicara besok kala di kantor. Bukan sekarang. “Arletta, sepertinya Tuan Keevan ingin menyampaikan pekerjaan yang penting padamu,” ujar Arvin seraya menatap Arletta. “Iya, Arvin. Maaf aku harus pergi sekarang. Sekali lagi terima kasih. Aku akan mengatur waktu bisa mentraktirmu makan siang. Aku masih berhutang padamu, Arvin,” kata Arletta dengan senyuman di wajahnya. Arvin mengangguk dan juga tersenyum. “Aku menunggu, Arletta.” Kini Arletta mengambil kantung belanjaan miliknya yang ada di tangan Arvin. Lalu wanita itu melangkah menuju mobil Keevan. Tampak Arletta berusaha mengendalikan diri. Setelah sekian lama, Arletta kembali satu mobil dengan Keevan. Demi Tuhan, Arletta membenci ini. Arletta membenci di mana dirinya harus kembali berada di dekat Keevan. Tapi apa yang bisa Arletta lakukan? Prioritas utama Arletta adalah membahagiakan Keanu. Kalau bukan karena dirinya membutuhkan uang maka Arletta tak akan sudi bekerja di perusahaan milik Keevan. *** “Kenapa Anda memanggil saya, Tuan? Bukankah kalau ada pekerjaan Anda bisa berbicara besok?” Suara Arletta terdengar dingin dan tegas kala masuk ke dalam mobil Keevan. Arletta menggunakan bahasa formal layaknya atasan dan bawan. Keevan tak mengindahkan ucapan Arletta. Pria itu melajukan mobilnya, meninggalkan halaman parkir supermarket itu dnegan kecepatan penuh. Tampak raut wajah Arletta berubah kala Keevan melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi. “Keevan! Apa kamu sudah gilaa? Turunkan kecepatan mobilmu! Kalau ingin mati sendiri saja jangan mengajakku!” bentak Arletta kala Keevan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Keevan melirik Arletta sekilas. “Sejak kapan kamu menjadi wanita murahann, huh?” “Apa maksudmu?” seru Arletta kala Keevan mengatakan dirinya adalah wanita murahann. “Baru satu hari kamu bekerja di kantorku kamu sudah menggoda karyawan lama,” tukas Keevan begitu sarkas. Arletta menggeram kala mendengar tuduhan Keevan. Sorot matanya menajam. Tanganya terkepal begitu kuat. Terlihat Arletta menahan emosi yang terbendung dalam dirinya. “Jika aku memang wanita murahann, apa urusannya denganmu? Aku rasa kamu tahu di mana batas antara atasan dan bawahan. Kamu nggak berhak mengatur kehidupan pribadiku, Tuan Keevan Danuarga.” Keevan terdiam kala mendengar ucapan Arletta. Pria itu memasang wajah dingin. Keevan mengepalkan tangannya dengan kuat. Ya, dia sendiri tidak mengerti kenapa ada sesuatu yang dia rasakan kala melihat Arletta bersama dengan pria lain. Tentu itu bukan cinta! Keevan tahu dirinya tak mencintai ataupun menginginkan Arletta di hidupnya. “Good, kalau kamu mengakui dirimu murahann. Aku lebih menyukai seseorang yang jujur daripada harus munafik.” Keevan menjawab ucapan Arletta dengan sarkas. Arletta hanya tersenyum rapuh kala mendengar ucapan Keevan. Arletta sama sekali tidak peduli pada Keevan yang mengatakan dirinya wanita murahann. Mungkin lebih baik Keevan menilainya seperti ini. Karena apa bedanya wanita baik-baik atau murahan? Dia tahu di mata pria itu, dirinya akan tetap sama, yaitu tidak pernah dianggap. “Baiklah, sekarang kembali pada pembahasan awal. Kamu memintaku untuk masuk ke dalam mobilmu karena ingin membahas pekerjaan. Pekerjaan apa yang ingin kamu bahas sampai tidak bisa menundanya besok ketika di kantor?” Suara Arletta bertanya dengan nada yang tenang dan berusaha untuk memendung amarah dalam dirinya. Keevan kembali melihat Arletta sekilas. Wanita itu memilih membuang wajahnya menatap ke jendela. Keevan sendiri tak mengerti kenapa dirinya meminta Arletta untuk ikut di mobilnya. Tujuannya ke supermarket karena ingin membeli sesuatu kebutuhan pribadinya. Namun, dia tak menyangka kalau akan bertemu dengan Arletta bersama dengan Arvin—salah satu karyaannya. “Besok, kamu ikut aku bertemu dengan client. Jam delapan pagi kamu sudah harus ada di kantor. Aku tidak suka ada orang yang terlambat,” ucap Keevan dingin dan penuh ketegasan. Nada bicaranya penuh peringatan pada Arletta. “Kamu tidak perlu khawatir, Tuan Keevan. Aku tidak akan terlambat. Tapi tolong kamu minta anak buahmu untuk mengambil mobilku di tempat parkiran supermarket dan antarkan ke apartemenku. Kamu yang memaksaku untuk ikut ke mobilmu. Dan aku kamu tahu, kalau besok kamu memintaku datang lebih awal. Kalau aku tidak ada mobil, bagaimana aku bisa datang tepat waktu? Tidak mungkin kan aku terbang dari apartemenku ke perusahaanmu?” Arletta membalikan ucapan Keevan dengan nada yang sengaja menantang pria itu. “Malam ini asistenku akan mengantarkan mobilmu ke apartemenmu.” Keevan menjawab dengan nada dingin dan acuh. Sedangkan Arletta memilih untuk tak berkata sepatah kata pun. Arletta hanya membuang wajahnya, tak mau melihat Keevan. ‘Aku membencimu, Keevan. Sangat membencimu,’ batin Arletta dengan mata yang nyaris memerah. Bayangannya mengingat kala Keevan mengatakan dirinya adalah wanita murahann. *** -To Be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN