Bab 16 – Tuduhan Tak Berperasaan

1402 Kata

“Hmmm…” Arletta menggeliat seraya merentangkan kedua tangannya; merasakan tubuhnya merada di ranjang empuk. Perlahan Arletta mulai mengerjapkan matanya beberapa kali. Lantas pelupuk mata Arletta mulai terbuka. Namun ... seketika mata Arletta melebar terkejut melihat dirinta berada di sebuah kamar yang megah. Wajah wanita itu tampak pucat. Refleks, Arletta segera melihat tubuhnya sendiri—embusan napas lega terdengar kala tubuhnya masih terbalut oleh dress. “Kamu sudah bangun?” Keevan melangkah memasuki kamar, tatapannya teralih pada Arletta yang sudah membuka mata. “Makananmu ada di meja. Kamu melewatkan makan siangmu. Tidur seperti orang mati nggak bisa dibangunin.” Raut wajah Arlleta berubah mendengar ucapan Keevan. Tampak Arletta terkejut melihat kehadiran Keevan. Sepasang iris mata A

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN