“Siapa yang mengizinkan kalian berduaan malam-malam seperti ini?” Suara bariton keras dan tegas terselimuti nada yang penuh amarah; membuat Arvin dan Arletta langsung mengalihkan pandangan mereka pada sumber suara itu. Seketika mata Arletta melebar kala melihat Keevan berdiri tak jauh darinya dengan memberikan tatapan yang begitu dingin dan tajam. Refleks, Arletta panik. Bukan panik karena ketakutan Keevan akan marah padanya. Tapi panik kalau Arvin berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya dan Keevan. “Tuan Keevan?” Arvin yang sedikit kesal pada Keevan tetap menyapa dengan sopan. Karena bagaimanapun Keevan adalah bosnya. Mau tak mau Arvin harus tetap sopan jika memang masih ingin bekerja di perusahaan Keevan. “Tuan Keevan?” Sama halnya dengan Arvin, Arletta pun tetap berusaha menyapa

