Alarik terdiam sesaat, lalu bertanya. "Bos, minuman yang tadi aman kan ya?"
"Kamu pikir aku segampang itu dapat tender proyek ini kalau minuman itu aman?" Sahut Ghamaliel dengan wajah masam. "Kepala desa tadi benar-benar licik. Dia menjual hutan ke kita, tapi memberikan proyek perbaikan jalan dan pengelolaannya ke perusahaan lain. Mereka berdua untung berkali-kali lipat. Kita? Sepuluh tahun kedepan belum tentu balik modal!"
"Kok tiba-tiba dia bisa berubah pikiran? Bapak deal pakai apa" Kata pak Rusdi, dia melihat Ghamaliel dari spion atas.
"Pakai penderitaan orang," Ghamaliel mendengus bangga, '"aku berniat menuntutnya kalau Alarik dalam bahaya karena muntah hebat di sepanjang jalan tadi. Tenyata selain licik orang itu juga bodoh, dia setuju begitu saja menyerahkan proyek itu ke kita, dengan syarat tak ada tuntutan ke dia karena kondisi Alarik, selain itu dia minta 50% fee-nya dibayar di muka. Ternyata segampang itu." Ghamaliel tertawa senang, lalu berkata. "Ide menambah minuman dengan soda kue itu benar-benar luar biasa. Aku benar-benar pintar."
Alarik hampir muntah darah mendengarnya. Akhirnya terjawab sudah apa jasa besarnya buat perusahaan.
Betapa tidak berperasaan bosnya ini, menjadikan penderitaan asisten yang setia, pintar, rajin, dan bisa diandalkan seperti dirinya sebagai tumbal untuk mendapatkan kekayaan duniawi.
"Lalu hutannya, jadi dibeli?"
"Buat apa buang-buang duit buat beli hutan? Itu cuma buat alibi. Dari awal yang aku incar ya proyek ini." Ghamaliel mengangkat alisnya dan mendengus sembarangan. "Pak Rusdi, awasi terus kepala desa sampai penandatangan kontrak. Orang itu sangat licik kita harus hati-hati!"
Dia yang licik, tapi ngatain orang lain licik. Dasar manusia licik yang nggak punya kaca!
Alarik marah-marah. Namun, karena Ghamaliel itu bosnya, dia hanya bisa melakukannya dalam hati.
"Bos kenapa nggak ngomong kalau mau menggertak kepala desa? Kalau ngomong kan, aku bisa bantu dengan berakting pura-pura mabuk darat sampai pingsan, atau pura-pura kesurupan juga bisa."
"Nggak akan berhasil. Aktingmu jelek!"
"Tapi mending itu daripada ngasih minuman beracun ke orang!" Alarik mendapati dirinya kesulitan untuk tetap tenang saat itu. Dia memiringkan badannya melihat ke belakang, matanya menunjukkan jejak kemarahan. "Memangnya bapak nggak baca efek samping kebanyakan mengkonsumsi soda kue? Gagal jantung, pak! Saya bisa mati!!"
"Buktinya, sampai detik ini kamu masih hidup, dan gajimu nambah 10% bulan ini. Bukankah itu bagus?"
Alarik berpikir menghantamkan kepalanya pada sesuatu setelah mendengar itu. 10%? Artinya 1.500.000. Fucek! Nyawanya yang berharga ini cuma dihargai 1.5 juta, lebih murah dari Red Hi-Top Trainers-nya game PUBG yang mencapai 3 juta.
Fucek!
Fucek!
Fucek!
Ghamaliel nampaknya mendengar jeritan batin Alarik dia berkata, "nggak usah pasang tampang suram! Beresin surat-suratnya hari ini, besok kamu boleh libur!"
Libur?
Sampai di titik ini kemarahan Alarik mereda. Kapan terakhir dia rebahan di hari kerja? Sepertinya sudah berabad-abad yang lalu.
Suasana hati Alarik berubah dengan cepat karena satu kata, 'libur'. Dia mengeluarkan ponsel pribadinya. Ada puluhan pemberitahuan yang belum dibuka, tapi yang menarik perhatiannya Whatsapps, ada 75 pesan di sana.
Wow! Alarik tidak bisa tidak merasa takjub. Dengan segelintir orang yang tahu nomor pribadinya, 75 pesan itu termasuk banyak.
Alarik menyesal begitu mengklik layar ponselnya. Harusnya dia bisa menebak, siapa lagi yang suka spam pesan selain nenek-nenek yang posesif dengan cucunya.
Isi pesannya sama, mungkin hasil copy paste.
Enggan terlibat masalah, Alarik mengabaikan pesan tersebut dan membuka status. Ada satu yang membuatnya tertarik, foto imut dengan tulisan.
"Otw Bogor."
Ngapain bocah ini ke Bogor?
Sudah lama dia tak bertemu kondom bocor, dan sekarang mereka berada di kota yang sama. Tak ada salahnya dia mengajaknya nongkrong atau makan.
Alarik mengetik pesan dengan riang gembira. Dia membaca ulang pesannya sebelum di kirim, ponselnya tiba-tiba bergetar. Foto nenek tua yang berpose seakan mau memukul menggunakan stik golf, memenuhi layar.
Nenek ini menganggunya pada saat yang tidak tepat.
Dia menolak panggilan dan teleponnya berbunyi lagi, Alarik kembali menolaknya, sebagai gantinya dia mendapat pesan.
"Anak kurang ajar! Berani kamu ya matiin telepon! Suruh cucu durhaka itu meneleponku!!"
Alarik merasa hampir gila karena nenek-nenek posesif ini.
Apa susahnya sih menelepon sendiri? Handphone punya, pulsa unlimited, nomor cucunya juga ada. Kenapa aku yang selalu di kejar-kejar? Dia lalu berbalik untuk memberitahu si cucu durhaka.
"Bos nenekmu minta ditelepon."
"Nenek yang mana?" Pria itu menjawab datar.
Mendengar pertanyaan ini, dia menjawab dalam hati.
Nenek yang mana lagi? Nggak mungkin itu nenekku. Nenekku nggak pernah bikin gila cucunya, nenekku nggak pernah spam wa ke cucunya. Yang penting, nenekku jarang pegang smartphone!
"Sutedja."
"Aku sibuk!"
Alarik pun berkata dengan tak berdaya, "Bos, walaupun nggak minta, aku maafin masalah soda tadi, oke? Tapi plis, tolong aku dengan menelepon nenek, sebentaaar aja, atau jawab wa-nya. Kalau nggak, nenekmu itu pasti menerorku terus menerus."
Ghamaliel mendengus, tidak peduli sedikitpun, "yang penting bukan aku yang diterornya.
Alarik mau menangis dan hanya bisa menatap horor ponselnya yang kembali berdering. "Bos..."
"Angkat! Dan bilang aku sibuk. Apa susahnya?!" Kata Ghamaliel. Sambil memerintah dia mengambil ponselnya dan mengirim beberapa pesan.
Fixed! Dia akan menulis surat pengunduran dirinya hari ini!
Merasa lelah Alarik, menyandarkan kepalanya. Nenek tua Sutedja memang paling jago kalau urusan teror meneror. pemberitahuan WA dan ponselnya berbunyi silih berganti, dan tak berhenti meskipun dia sudah menjawabnya.
Di dalam hatinya, Alarik terus meratap. Dia mengutuk mereka, mengutuk nenek dan cucu keluarga Sutedja. Kenapa mereka berdua, tanpa alasan yang jelas selalu punya cara untuk menyusahkannya?
Pak Rusdi merasa suhu dalam mobil menurun drastis. Dia melirik Alarik, dan bisa merasakan penderitaan pemuda itu. Tidak mudah memang jadi asisten bos besar, dan hanya bisa bersimpati untuknya.
Ketika mobil mendekati persimpangan yang mau masuk ke jalan tol, Ghamaliel meminta pak Rusdi berbelok. "Balik ke Savero, Pak!"
Savero?