Chapter 9

1222 Kata
Chapter 9 ** Hidup, banyak opini menggiring satu kata demikian itu. Ada kalanya manusia memaknai hidup sebagai rangkaian kenikmatan dunia sebab ia memiliki harta yang cukup untuk digadang – gadang menembus dunia yang paling menderita. Memaknai hidup dengan kerja keras yang semibang dengan hartanya, menikmati hidup tanpa takut kelaparan di esok harinya. Demikian beberpa orang beruntung ataukah serakah yang bisa menikmatinya. Ada kalanya pula seseorang memaknai hidup sebagai kesialan tiada ujung, setiap harinya harus berjuang mencari sesuap nasi untuk esok hari bahkan rasanya waktu tidur adalah waktu yang dilarang sebab jika ia lakukan itu mungkin saja esoknya bisa mati sia – sia. Dua opini itu, opini yang mirip dengan kenyataan yang real dan bahkan sering dikagumi kebenarannya nyatanya di rasakan oleh dua orang yang saling mendekap, kubu kanan sebagai yang berkuasa atas harta sementara kubu kiri dnegan orang yang paling menderita katanya. Daniel mengusap pelan punggung Nasya lalu tak lama setelah gadis itu tenang tanpa sesegukan dan deru nafas yang tidak stabil, Daniel mengajaknya duduk berdampingan lagi seperti awal mereka baru mengijakan kaki di pasir putih dengan cuaca hangat itu. ‘’Jangan pernah negrasa sendiri, karna bukan Cuma kamu saja yang selalu dituntut untuk berjuang dan melakukan hal – hal baik pada dunia terlebih orang – orang yang ada di dekatmu,’’ ‘’Ya meskipun itu terasa sangat berat jika dipikul sendiri, tapi ada kalanya juga ia terasa hangat dan ringan. Momen itu bisa kamu dapatkan jika melakukan ap ayang kamu jalani kini dengan tulus,’’ ‘’Dulu, saat saya kehilangan orang yang paling saya cintai karena ketamakan seseornag pada harta dan kemewahan di dunia, saya merasa dunia benar – benar tidak adil. Merasa jika saya diciptakan dengan penuh derita dan tidak layak hidup,’’ ‘’Saat saya kehilangan dia, sosok yang menjadi semangat dan kepercayaan saya. Dunia serasa benar – benar di huni oleh saya seorang diri, tanpa kawan ataupul lawan. Saya sudah menganggap jika orang – orang di dunia sudah mati. Tapi sesuatu membuat saya sadar, sesuatu yang tidak bisa saya beberkan pada orang asing sepertimu. Pada intinya, saya hanya ingin berujar jika kamu tidak sendiri. Lihat saja kini orang tuamu masih memilikimu dengan cintanya, masih mencari solusi atas semua yang ada dalam dirimu. Jadi bertahanlah, sebab semua yang singgah tidak akan menetap dalam waktu yang lama. Ia hanya bermain, bukan bermukim. Percayalah Nasya, sekalipun yang kita lihat adalah hamparan air tanpa ujung, tapi dunia tahu jika ini pasti memiliki ujung.’’ Nasya menatap daniel dengan air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya. Lalu dengan cepat ia mencelocos hingga ke area pipi. ‘’Terima kasih sir ...’’ Kata Nasya mengalihkan pandangannya dan menghapus sisa air matanya. Keduanya bergegas pulang ke villla baru yang niat di tempati oleh Daniel selama beberapa hari, akhirnya keduanya sampai. Lelaki itu masih memberikan izin untuk wanita di belakangnya tinggal sehari lagi demi keselamatannya. Tak lama setelah keduanya sampai, bel ruangan berbunyi. Nasya bergegas lari dan membuka pintu. ‘’Assalamualaikum ...’’ Nasya mematung, menegang melihat sosok gagah di depannya yang lengkap dengan setelan gamis pria dan pecinya. Sejenak, gadis itu tak bisa berkata – kata. Ia merasa beruntung melihat sosok tampan seperti ini apalagi penampilannya sangat menarik. ‘’Wa – Waalaikummusallam ...’’ jawab Nasya gugup salah tingkah saat matanya bertemu pandang dengan mata lelaki yang belum ia ketahui namanya. ‘’Daniel?’’ ‘’Huh’h??’’ spontan Nasya menjawab. ‘’Daniel ada di dalam?’’ tanya lelaki dengan jubah panjangnya sekali lagi kepada Nasya. ‘’Oh, iya ... tapi sebentar ...’’ ‘’Dengan siapa?’’ Nasya juga menjawab tanpa ragu sembari melihat lagi wajah gagah milik lelaki tampan itu. ‘’Haiiii Bro!!!’’ teriak seseorang dari belakang tubuh Nasya lalu menarik gadis itu untuk mundur agar lelaki itu bisa bertemu dengan Zain, teman karibnya. ‘’Ck,’’ decak Zain menolak sapaan secara fisik dari Daniel. ‘’Penting,’’ ucap Zain singkat melirik Nasya sekilas. ‘’Apa?’’ kata Daniel bertanya lagi penasaran tapi lagi – lagi Zain melirik Nasya yang sengaja menguping di belakang pintu. ‘’Oh, wait. Nasya, beri kami waktu sebentar,’’ ujar Daniel menjelaskan, Nasya yang kakinya masih sedikit memar berjalan pelan sembari berusaha mendengarkan apa yang akan diucapkan dua pria tampan. Tapi sayangnya, usahanya mendengarkan informasi penting seperti yang diucapkan lelaki bernama Zain tak bisa ia dengar sebab tubuhnya sudah terlanjur berjalan agak jauh sementara Zain berbicara pada Daniel dengan nada yang amaat lirih. Seusai Nasya pergi... Zain membuka layar ponselnya, ia menunjukan suatu data penting menunjukan adanya penurunan tingkat penghasilan perusahaan secara signifikan, Daniel bingung, padahal produk yang dikeluarkan setara dengan penjualan, tapi mengapa pemasukan serta penghasilan perusahaan justru minus dari yang ditargetkan?? ‘’Aku mengamati penurunan ini sejak tiga hari, kurva peningkatannya justru menurun menyentuh angka empat puluh lima persen, tapi kurva penjualan produk terus meningkat, dan data yang gue dapet untuk semua distributor juga sudah menyetorkan income sesuai tenggat kepada supervisior bagian keuangan, bukan Cuma itu. Supervisior mengaku sudah menyetorkan sejumlah uang ke bank perusahaaan tapi anehnya data tersebut benar ada. Hanya saja gue ngga bisa nemuni dimana income yang harusnya masuk ke perusahaan. Data ini gue susun sendiri, orang kantor ngga bisa pakai data ini selain gue termasuk lo Daniel.’’ Zain menjelaskan panjang lebar, keduanya duduk di taman tepatnya di ayunan dua orang dan mereka berdampingan dengan wajah yang cukup serius. Wajah keduanya benar – benar dianggap menakutkan bagi kalangan anak- anak, bahkan bisa dikatakan wajah mereka tergolong wajah orang – orang yang kini tengah di ujung amarah termasuk Daniel. Ia berusaha tetap tenang dan menjaga rahasia ini sebelum penyelidikan selesai oleh Zain, ia merasa beruntung dan tak sia – sia memiliki orang kepercayaan seperti Zain ini, selain jujur ia juga cerdas. Buktinya ia menyusun strategi pelacakan bagi keuangan perusahaannya yang tidak bisa dideteksi oleh orang lain selain Zain dan ia jika memang mau mempelajarainya. Daniel terkagum dengan kreatifitas temannya ini, data yang Zain miliki benar – benar rapih dengan melampirkan banyak bukti serta penjelasan yang masuk akan juga nyaman di dengar. Daniel menatap layar ponsel dnegan serius sembari memikirkan siapa dalang di balik semua ini, siapa yang berani – benarinya mengkhianati kepercayaannya. Padahal uang bukanlah hal segalanya, dengan menghilangkan kepercayaan seseorang justu bagaikan membunuh diri sendiri di tengah - tengah kehidupan mewah menanti. ‘’Lalu bagaimana ini, aku ingin secepatnya mencari pelaku.’’ Kata Daniel serius menatap iris mata Zain dengan tajam. ‘’Akan gue usahakan secepat mungkin, tapi jangan sampai apa yang gue sampaikan tersebar. Gue akan berusaha semaksimal mungkin.’’ ‘’Oke, kabarin aku kalo lo udah dapet tersangkanya. ‘’ ‘’Siap, oiya siapa cewe tadi? Gue baru ngeliat?’’ tanya Zain penasara. ‘’Oh, itu sekretaris baru, kebetulan tinggal deket sini. Dia cewe yg gue bilang suruh cariin data.’’ ‘’Wau, seperti takdir ck. Tapi gue masih ragu kenapa bisa data yang gue cari salah...’’ tanya Zain penasaran. Ia selalu berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dan benar. ‘’Ck, gak tau lah. Lo lagi ngga becus banget.’’ ‘’Memangnya apa yang salah dari data yang gue cari Niel?’’ ‘’Banyak, hampir semuanya. Ku pikir memang karena perubahan dari dia dan keluarga dan belum sempat mendapat survey dari desa mungkin,’’ ‘’Iya ya barang kali seperti itu, nggak mungkin kerjaan gue salah.’’ ‘’Ck, you know... She is so pretty...’’ ucap Daniel membuat Zain mengangguk, dalam hatinya ia juga mengiyakan degan pasti. Wanita yang ia temui tadi benar – benar cantik. Astagfirullah ... batin Zain. ‘’She is mine, Zain ...’’ kata Daniel mempertegas. ‘’I know ..’’ jawab Zain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN