Chapter 6

1951 Kata
Chapter 6 Short Night in Her Arms Entah bagaimana tangan ku tetaut pada tubuhmu Entah ... Aku bahkan tak bisa membaca situasi jiwaku yang mulai bergelut Tapi hanya satu hal yang aku tahu Jika aku hanya ingin mendekapmu Untuk kasih yang sudah kau berikan di waktu yang tak dapat ku ulangi itu - Nasya - ** Adakah ini kehidupan yang merdunya laiknya suara bisikan gemerlap bintang? Yang Teduhnya mendebarkan dadaku Yang Redupnya sanggup membuatku memejam keasyikan, menikmati sukma yang tak lagi gerah berucucran air sendu relung jiwa di dalam sana, nan tak kasat mata ... Yang Dinginnya juga sanggup membuatku terkesima tanpa sua, tapi selalu ingin memeluk raga memberikan nyawa Adakah ini benar – benar ada laiknya aku hidup memijakan kakiku beralas kekasih sendu semesta? Benarkah?? Andaikata bukan seperti hal yang aku bicarakan Semoga keteduhan, kesenangan ini pantas aku miliki walapun hanya sekedar memberikan hawa tenang yang tak berlarut – larut menetap Andai kata tetap bukan seperti yang aku ujarkan Tidak apa lah, terlebih aku masih bisa menikmati syahdunya memejam mata, membawa jiwaku pada alam mimpi dan memutar semua film petualangan hidup yang aku dambakan Lagi , lagi , dan lagi tidak apa ... Aku akan terbiasa menikmati takdir yang di buat ombang – ambing oleh pemilik semesta Aku juga akan terbiasa menyendu laiknya semesta rindu pada kekasihnya Aku sudah biasa ... dan akan semakin terbiasa seolah dadaku terlapis baja Tak mempan bila mana macam kepelikan dunia memberantas aku ... Tapi jika malam ini berlarut seperti yang aku ujarkan Sungguh, sukmaku tak berhenti bersua untuk pencipta semesta Mataku tak berhenti mengaliri kristal mungil yang tak getir Bibirku tak berhenti melengkung menyaingi keindahan sabit kekasih malam Sungguh ... Aku akan menjadi lelaki terberuntung sepanjang aku dibelai oleh udara ... -Daniel ... Aku masih menatap wanita dengan wajah putih pucat pipi setengah memerah serta dahi berkerut, aku masih enggan beranjak dan mengalihkan pandangan. Yang aku tahu gadis ini adalah keponakan lelaki yang aku janjikan untuk ku masukan ke dalam jeruji besi dan andai kata aku bukan cipaan Tuhan, mungkin lelaki yang ku maksud sudah ku bunuh hingga ia merasakan sakit yang dia rasaka. Aku lagi – lagi masih menatap gadis itu sesekali sembari berkedip memberikan cairan kepada bola mataku yang semakin malam rasanya semakin pedih saja, aku menatapnya sembari berpikir mengapa aku dengan senang hati tanpa berpikir panjang memilih banyak melibatkan diriku pada semua yang terjadi hari ini tentang nya ... Padahal aku sudah terbiasa enggan terlibat dalam urusan orang lain, enggan sekalipun hanya melihat semua kejadian yang di luar konteks perusahaan ku. Aneh, wanita ini memliki daya tarik yang tidak bisa aku mengerti. Jantungku berdegup kencang saat mata gadis itu memandangku dengan tatapan yang ia punya, jiwaku seolah berbicara hal – hal lantur saat ia berada tak jauh dari tubuhku, bahkan ... Bahkan saking anehnya ia seolah menghipnotis diriku dan menghapus semua prinsip lama yang ku tekuni. Nasya ... Gadis miskin yang sebenarnya tak pantas mendapatkan ini berhasil membuatku menghapus prinsip terkuat dalam diriku yaitu tidak terlibat dengan wanita manapun setelah kejadian dua tahun lalu... Nasya ... Iya, aku melihatnya bergerak, mengerjapkan mata berkali kali sembari meringis mungkin karena luka di pipinya yang belum sempat mengering, gadis itu membuka matanya lalu melebarkan matanya saat menyadari lingkungan yang ia tempati bukanlah mukimnya . Aku melihatnya kebingungan, karena sudah beberapa kali dia mengerjapkan matanya akhirnya aku memberanikan diri mendekatinya. Terlihat gadis yang tadi tak sadarkan diri dan bangun dengan wajah kebingungan itu terkejut atas kehadiran Daniel, lelaki yang sempat mengantarnya, menolongnya tanpa meminta imbalan mungkin saja. Tak cukup itu, Nasya juga terkejut sebab ia sudah berada di ruangan yang jauh nampak layak dari yang ditempatinya selama beberapa bulan terakhir hampir menyentuh setengah tahun. ‘’Akh ...’’ ia meringis saat tak sengaja tangannya mengusap wajah sebagai reflek dari kebingungan serta banyaknya pikiran saat otaknya berusaha memutar kembali momen dalam ingatannya karena mungkin ia mendapat jawaban dari sana. ‘’Ini villa ku...’’ ujar Daniel sebelum gadis di depannya bertanya. Nasya yang masih terlihat cantik dengan wajah bingungnya itu sontak semakin diam, ia laiknya seorang pantung di hadapan Daniel. ‘’Um ... saya membawamu atas permintaan ibu mu ...’’ sahut Daniel lalu Nasya mengangguk berusaha paham. ‘’Sir ...’’ Gadis itu berucap lirih, duduk dengan tegap tak lagi bersadar pada sofa seperti sebelumnya, ia menatap lelaki di depannya dengan pandangan sayu, kedua tangannya tak diam, jari jemarinya saling bertaut bolak balik melirik lalu menunduk kembali. Sementara Daniel menunggu wanita di depannya melayangkan kata. ‘’Boleh aku minum teh nya??’’ ucap Nasya yang sontak membuat Daniel jengah, pria itu mengira ada hal yang begitu penting. Jengah, Daniel mengangguk sembari memutarkan bola matanya sedagkan Nasya menyeruput teh dengan santai sekaligus berusaha menghilagkan rasa gugup dan haus. Ia berjalan mendekati Nasya, dengan santai menyentuh dagu pemiliknya tanpa izin lalu untuk memastikan lukanya tidak mengeluarkan cairan merah lagi. ‘’Sudah membaik,’’ ucap Daniel mengangguk sendiri di kala Nasya malah melongo berusaha menetralkan degup jantungnya. ‘’Tidurlah, pergi ke kamar saya. Saya akan tidur di sini ...’’ Nasya mengangguk lalu mengerjapkan mata berusaha menormalisasi keadaan yang di hadapi, lantas ia melirik ke arah jarum jam yang nyatanya sudah menunjukan waktu istirahat sebab jarum jam bertengger di angka setengah dua malam. Bunyi jejangkrik yang bolak – balik bernyanyi di malam hari sebenarnya sudah cukup untuk mendeskripsikan seberapa malam yang tengah mereka jajaki, terlebih lagi suara reranting pohon yang berkali – kali terdengar tengah beradu semakin terdengar amat keras. Nasya berjalan mengikuti ke arah lelaki di depannya, ia lalu berhenti di depan ruangan yang kini pintunya terbuka. ‘’Masuklah, kau aman di sini...’’ ucap Daniel lagi lalu meninggalkan Nasya yang mengangguk tapi terkadag otaknya sulit memproses apa yang tengah ia hadapi. ‘’E ... Daniel ...’’ bisik Nasya meraih pergelangan Daniel. ‘’Kenapa?’’ jawabnya. ‘’Terima kasih ...’’ bisik Nasya mendekap tubuh Daniel yang hangat tanpa permisi. ‘’Untuk semuanya ...’’ lanjut Nasya lalu melepaskan pelukannya pada tubuh Daniel dan berjalan masuk ke dalam kamar, menutupnya rapat tanpa celah. Sementara pria ini. Lelaki yang justru bersandar pada tembok tepat di samping menghembuskan nafasnya lega lalu melajutkan aktifias dengan berbairng di sofa sesekali mengingat kejadian tepat dua tahun yang lalu ... Daniel Remaja, ia kerap kali di sebut denga prince. Sapaan khas untuk pria tampan rupawan dengan kekayaan yang tak perlu di ragukan kembali. ia di kenal sebagai remaja yang rajin, pintar, tidak nakal alias biasa saja dengan tetap mengikuti aturan – aturan yang ada di sekolahnya. Ia selalu datang tepat waktu tak perduli hujan datang yang biasanya seengaja dimanfaatkan para siswa untuk libur sekolah, untuk berangkat siang lebih dari jam keberangkatan yang sudah dimaksimalkan oleh sekolah, tak hanya itu kadang siswa juga melakukan negosiasi dengan guru agar tidak melakukan proses pembelajaran seperti apa yang harusnya berjalan. Lelaki yang kerap kali megikuti berbagai macam lomba melukis baik tingkat daerah maupun internasional dikenal sebagai lelaki idaman pada siswa putri di International Rainbow High School sebab wajahnya yang rupawan, tubuhnya sudah berotot tak lupa roti sobek di bagian perutnya meskipun usianya masih sagat muda kala itu menyentuh angka tujuh belas tahun, ia juga di gemari karena suaranya yang merdu dan sering mengisi acara – acara bergengsi di sekolah dengan penampilan solonya. Membicarakan penampilan solo yang sering Daniel lakukan, ada suatu kejadian menarik yang membuat Daniel remaja menjadi jauh lebih menyenangkan, ceria, pintar, dan memiliki smangat memotifasi dirinya agar bisa jauh lebih sukses sampai bisa membangun perusahaan yang kini ia pimpin ... Suatu waktu, dalam senja yang baru saja datang menggantikan posisi cerahnya surya. Kegiatan prom night kaka kelas 12 hampir di buka dan lelaki ini menjadi salah satu pengisi acaranya. Ia berdiri di balik panggung dengan berbagai persiapan dan latihan bersama guru vokal, tak hanya persiapan dari segi mental dan suara yang matang. Daniel juga menggunakan setelan Tuxedo biru dongker atau navy, rambut di tata rappih ke atas, wajah di makeup tipis tanpa menghilangkan karakter yang ia punya, parfum mahan dan tahan lama tak lupa di semprotkan secara ke area sensitif parfum agar bisa memberikan keharuman yang tahan lama. Daniel kecil sesekali berdehem sekalipun ia sudah biasa bernyanyi untuk bayak orang bahkan tak jarang ia juga ppernah tampil di acara tekevisi sebagai pembuka acara. Waktunya tiba ... Ia mendapat paggilan manis dari pemandu acara atau yang kerap kali di kenal dengan MC, lantas Daniel kecil yang sudah siap dan masih bersandar di tembok langsung menegakan tubuhnya, memfokuskan diri, berjalan dengan wibawanya yang sudah melekat kuat, berjalan tak lupa memberikan sorot mata tajam nan gagah, di kala senja yang tiba di waktu itu ia membawakan lagu berjudul Beautiful in White hasil request dari para peserta prom night. Mata tajam dengan wajah sempurna itu menatap satu – per satu penonton yang sekiranya bisa ia bawa ke dalam suasana yang ia buat melalui suara. Dan matanya, mata yang jarang menyipit sebab senyum kini tiba – tiba menyipit, bibirnya yang menyanyi dengan senyum paksa kini nampak tulus dan melebar saat pandangannya bertemu dengan pandangan seorang wanita ayu duduk seorag diri di depan persis sebelah tembok yang di sebelah kursinya kosong tanpa pria pasangannya, sementara yang lain membawa pasangan. Jantung Daniel berdegup kencang kala mata nya dengan mata wanita berambut hitam pekat, wajah tirus oval dengan dagu hampir sempurna mirip segitiga, wajahnya di ikat setengah bak seorag putri dengan make up tipis serta yang di bumbui sedikit akeseoris mata. Daniel Remaja terpesona pada seorang wanita untuk pertama kalinya dalam hidupnya ... Ingatannya berhenti sampai di situ, kini Daniel tersenyum getir ditambah air matanya yang mengalir setitik ke pelipisnya yang buru – buru ia hapus untuk menghilangkan jejak kelemahannya. Daniel yang kini berbeda dari Daniel beberapa tahun lalu, kini ia cenderung lebih diam tak banyak bicara, tegas sedikit kejam, tak suka kerumunan dan benci ikut serta dalam urusa orang lain sampai akhirnya ia bertemu dengan Zain yang kala itu menyelamatkannya sebelum dirinya menjadi narapidana pada saat itu. Zain tak sengaja bertemu dengan Daniel kala ia mendapat tugas patroli dan memisahkan Daniel dari perkelahian satu lawan beberapa orang dan hampir saja Daniel menjadi tersangka pembunuhan, dari pertemuan itu akhirnya Zain menjadi salah satu orang kepercayaannya untuk menyimpan data rahasia perusahaan, memilih orang untuk menjaga penthouse mewah berisi banyak emas dan uang, sekaligus sesekali menjadi tempatnya bercerita hingga saat ini. Tangan Daniel bergerak menyentuh layar telephone di saat pikirannya tengah bernostalgia pada masa lalu dan menyentuh ikon panggil lalu menunggu dengan sabar seseorang di seberang telephone. ‘’Apa?’’ Tak menunggu lama, Zain menjawab telephone dari Daniel. ‘’Sibuk ngga lo,’’ tanya Daniel sambil menatap atap – atap villa barunya. ‘’Kenapa? Mayan nih,’’ jawab Zain agak keras. ‘’Oh,’’ balas Daniel. ‘’Ck, perlu apa lo. Gue sibuk buruan jangan banyak omong,’’ kata Zain geram. Zain bukan pertama kali menerima panggilan dari temannya ini dan biasanya teman lelakinya ini hanya bosan dan gabut akhirnya menganggu jam kerjanya. ‘’Wih selow,’’ kekeh Daniel yang tahu jika orang yang belum lama menjadi temannya ini sudah kesal. ‘’Bacot,’’ ‘’Ck, emosian banget kaya cewe lo,’’ sahut Daniel meledek, ia tahu jika orang di seberang telephone tengah benar – benar sibuk apalagi pekerjannya tidak lah gampang dan butuh fokus. ‘’Gue tutup,’’ ‘’Eh bentarrr!’’ ‘’Ya apa, buruan astagaaa!’’ ‘’Hahaha, oke. Semua data yang lo kasih ke gue gak ada yang bener,’’ Daniel memberi tahu tentang Nasya. ‘’Nggak mungkin gue salah Data,’’ sahut Zain membela dirinya. ‘’Iya, gak becus lo.’’ ‘’Emag serius itu data gak sesuai?’’ ‘’Iya, beda hampir seratus persen.’’ Jawab Daniel. ‘’Oh, mungkin itu data lama. Gue ambil data yang ada dua tahun lalu,’’ sahut Zain memperjelas. ‘’Pantes, gak becus.’’ Tuttttt ... Zain geram saat telinganya tak lagi mendengar suara lelaki yang menjengkelkan melainkan ia mendengar sebuah dering telepon di matikan. Kok bisa aku ambil data salah?? Ujar Zain dalam hati lalu tak urus dan memilih melanjutkan pekerjaannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN