Ia menangkap wajah kaku yang canggung, taoi mau bagaimana lagi karena ini sudah menjadi suguhan Daniel setiap harinya yaitu melihat wajah Nasya yang tiap hari bisa berubah – ubah ekspresinya. ‘’Jam makan siang belum selesai Sir, anda baru keluar tiga menit yang lalu.’’ Kata Nasya berdiri di depan Daniel dengan kepala agak menunduk hormat. ‘’Iya, saya pengen makan di kantor saja. Kebetuulan teman saya cuti harii ini,’’ beralasan yang di ucap oleh lelaki gagah ini. Daniel berjalan mengelilngi meja kerja menyentuh sudut pojok kanan lalu berjalan seolah meraba tekstur meja apakah masih bagus atau malah sudah rusak semenjak dipakai oleh sekretaris barunya. ‘’Besok saya tidak di sini satu minggu,’’ ucap Daniel tiba – tiba kala matanya melihat kalender dan melihat tanggalan yang sudah dil

