Aku kembali pulang bersama dengan Andin. Saat-saat berada di rumah sakit itu benar-benar saat yang emosional baik bagiku maupun juga bagi Andin. Aku tak mengira, kalau sesuatu seperti itu akan benar-benar menguras emosi sekaligus tenagaku. Aku tak bisa membayangkan jika Andin berada di sana sendirian. Mungkin dia akan benar-benar merencanakan pengguguran bayi itu di sana. Di rumah Andin, aku membantunya untuk mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi kepada mamanya itu di sana. Aku tahu kalau mungkin Andin akan sangat merasa berat mengatakannya sendirian, dia pasti akan merasa kalau dirinya tidak cocok untuk dipanggil sebagai anak dari mamanya lagi di sana. Sudah tugasku untuk mendampingi Andin. “Kamu yakin Din mau bilang sekarang? Jika kamu belum siap, mungkin lain hari kita bisa melakuk

