Aku lupa, berapa lama waktu yang berlalu kuhabiskan hari-hariku di kota seberang ini bersama dengan Beno. Tapi yang jelas, mungkin lebih dari berhari-hari lamanya. Dan lebih tepatnya, berbulan-bulan lamanya. Entah kenapa apa yang terjadi dengan diriku sekarang, seolah-olah semuanya menjadi terlalu dangkal dan juga terlalu sepihak. Waktu sendiri sudah tak kuanggap sebagai sesuatu yang berharga. Mungkin, aku sudah lama untuk tidak masuk ke dalam bangku perkuliahan, meninggalkan bangku lama yang selalu ku duduki menjadi berdebu dan juga usang dengan mudahnya dimakan oleh Zaman. Tapi, apakah itu berarti aku memang telah pergi sejauh itu? Sampai aku tak mengerti kalau sahabatku sendiri sudah telat datang bulan dan memeriksa kondisi rahimnya yang memang sudah terindikasi positif? Ingatanku men

